Terlibat Pelanggaran HAM di Perkebunan, Norwegia Tarik Dana Pensiun dari Bolloré

Ringkasan Berita:

  • Divestasi Saham oleh Norwegia: Norwegian Bank Investment Management (NBIM), pengelola dana pensiun terbesar di dunia, resmi menjual seluruh sahamnya di grup konglomerat Prancis, Bolloré, per Februari 2026 senilai US$ 91 juta.
  • Pelanggaran HAM Serius: Keputusan ini diambil setelah adanya bukti pelanggaran HAM berat di perkebunan sawit dan karet milik Socfin (di mana Bolloré adalah pemegang saham utama), yang mencakup perampasan lahan, kekerasan seksual, pelecehan, hingga pelanggaran hak buruh di Afrika dan Asia.
  • Bukti Investigasi Independen: Laporan dari Earthworm Foundation pada 2024 memperkuat tuduhan tersebut, yang menemukan bahwa 59% keluhan masyarakat terbukti benar dan 85% di antaranya merupakan tanggung jawab langsung perusahaan.
  • Dukungan Internasional dan Komunitas: Langkah Norwegia ini mengikuti jejak dana pensiun Swiss (BVK) dan didukung oleh 31 lembaga lingkungan serta HAM dunia (termasuk dari Indonesia), sebagai bentuk tekanan nyata agar investor tidak lagi mengabaikan dampak sosial di wilayah operasional perusahaan.

PARIS – Norwegian Bank Investment Management (NBIM) mengumumkan telah menjual sahamnya di grup Bolloré, sebuah konglomerat Prancis pada 26 februari 2026.

Keputusan NBIM ini menyusul adanya karena kekhawatiran atas “pelanggaran hak asasi manusia yang serius” di perkebunan yang sebagian dimiliki oleh grup tersebut.

Sponsored

Laporan tersebut menyatakan bahwa setelah bertahun-tahun berdialog dengan Bolloré SE dan Compagnie de l’Odet SE mengenai “pengelolaan risiko hak asasi manusia, kekerasan seksual, pelecehan, dan pelanggaran hak buruh” di perkebunan milik Socfin, yang berbasis di Luxembourg di mana grup Bolloré memiliki “porsi saham yang signifikan.

NBIM memutuskan untuk mengeluarkannya dari portofolio investasinya.

Sementara itu, pelanggaran dan penyalahgunaan tersebut telah lama dikecam oleh komunitas yang terdampak.

Sebuah surat terbuka ditandatangani oleh 31 lembaga lingkungan dan hak asasi manusia di seluruh dunia.

Perampasan lahan oleh Grup Socfin

Grup Socfin, yang didirikan pada 1909, mengendalikan 370.000 hektar lahan untuk produksi minyak sawit dan karet di sepuluh negara di Afrika dan Asia.

Di banyak negara tersebut, Socfin memperoleh lahan tanpa konsultasi atau persetujuan komunitas, dan komunitas merasa lahan mereka telah dirampas.

Di banyak tempat perkebunan tersebut mengambil lahan-lahan desa dan mencemari sumber air, sehingga warga desa tidak dapat menanam tanaman pangan mereka sendiri.

Ketika warga desa mengumpulkan tandan sawit yang jatuh atau berbicara tentang kondisi mereka, mereka sering diintimidasi.

Kekerasan seksual dan bahkan pemerkosaan oleh pekerja perkebunan atau pasukan keamanan adalah hal yang umum dialami perempuan yang tinggal di sekitar perkebunan.

Tahun 2024, setelah bertahun-tahun keluhan dari komunitas dan masyarakat sipil, Socfin menyewa Earthworm Foundation, Lembaga konsultan yang berbasis di Swiss untuk menyelidiki masalah-masalah tersebut.

Hasilnya sungguh mengerikan: 59% dari keluhan tersebut dinyatakan benar, dan 85% dari keluhan dianggap tanggung jawab perusahaan.

Langkah Norwegia ini mengikuti keputusan serupa dari dana pensiun terbesar Swiss, BVK.

Swiss menghabiskan tiga tahun mendiskusikan masalah ini dengan Grup Bolloré, yang berargumen bahwa mereka tidak bertanggung jawab atas apa yang terjadi di perkebunan Socfin, meskipun mereka merupakan pemegang saham utama dan duduk di dewan direksi beberapa perusahaan perkebunan Socfin.

“Sudah saatnya investor mengambil tindakan terhadap Socfin dan Bolloré,” kata Félicité Ngo Bissou dari Asosiasi Perempuan Pesisir Socapalm Edéa di Kamerun (Association des Femmes Riveraines de Socapalm Edéa).

“Selama ini, Grup Bolloré mengklaim tidak bertanggung jawab atas pelanggaran yang kami hadapi di sekitar perkebunan Socfin, dan akibatnya, pelanggaran tersebut terus berlanjut. Ini tidak boleh dibiarkan berlanjut.”

Rizal Assalam dari Trasnational Palm Oil Labour Solidarity Network (TPOLS) di Indonesia setuju.

“Bagi kami, keputusan Norwegia, seperti keputusan Swiss, berarti ada yang mendengarkan komunitas dan pekerja, meskipun bukan Bolloré,” katanya.

Bagi kelompok HAM di Eropa, langkah Norwegia ini mempermalukan pembuat kebijakan di Uni Eropa malu.

“Komisi Eropa mengundang Socfin pekan lalu untuk menjadi mitra kunci dan berbicara di Forum Bisnis Uni Eropa-Liberia di Brussels,” kata Indra Van Gisbergen dari Fern.

“Namun, komunitas Liberia hingga hari ini masih mengecam pengabaian Socfin dalam menanggapi keluhan mereka yang telah berlangsung lama!”

NBIM mengelola dana pensiun Norwegia, yang saat ini memiliki aset sebesar US$ 2,1 triliun, menjadikannya sebagai pengelola dana pensiun  terbesar di dunia.

Pada awal 2025, NBIM memegang saham di Bolloré SE senilai US$ 91 juta. Saham-saham tersebut telah dijual pada akhir tahun.

Berikut sejumlah organisasi yang mendandatangani:

  • Aceh Wetland Forum, Indonesia
  • Adansi Community, Ghana
  • Association des Femmes Riveraines de la Socapalm Edéa, Cameroon
  • Bunong Indigenous People Association, Cambodia
  • Collectif pour la défense des terres malgaches – TANY, Madagascar / France
  • Fern, Belgium
  • FIAN Belgium
  • FIAN Switzerland
  • GRAIN, international
  • Green Advocates International, Liberia
  • HEKS/EPER, Switzerland
  • Klang Phol, Bunong community member in Busra, Cambodia
  • Kros Suk, Bunong community member in Busra, Cambodia
  • Les Soulèvements de la terre, France
  • Look Green Care Foundation, Nigeria
  • OnEstEnsemble, Cameroon
  • Pantau Gambut, Indonesia
  • Réseau des Acteurs du Développement Durable, Cameroon
  • Rettet den Regenwald – Schweiz / Rainforest Rescue Switzerland
  • Rettet den Regenwald, Germany
  • Riverains Ensemble, Cameroon
  • Sawit Watch, Indonesia
  • School of Democratic Economics, Indonesia
  • SOLIFONDS, Switzerland
  • Synergie Nationale des Paysans et Riverains du Cameroun
  • Tem Phaern, Bunong community member in Busra, Cambodia
  • The Oakland Institute, United States
  • Transnational Palm Oil Labour Solidarity Network, Indonesia
  • Women’s Network Against Rural Plantation Injustice, Sierra Leone
  • Yayasan Insan Hutan Indonesia
  • Yayasan Pusaka Bentala Rakyat, Indonesia

Baca Juga