BANDA ACEH – Dinas Perhubungan Provinsi Aceh merencanakan pengoperasian layanan kapal ferry langsung yang menghubungkan Pelabuhan Malahayati, Aceh, dengan Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta.
“Saat ini PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) sedang melakukan penjajakan pasar untuk mengisi muatan kapal. Pemerintah Aceh sangat mendukung agar layanan ini bisa segera terealisasi,” kata Kepala Dinas Perhubungan Aceh, Teuku Faisal, kepada wartawan, Sabtu, 4 Juli 2026.
Faisal menjelaskan percepatan realisasi layanan penyeberangan jarak jauh (Long Distance Ferry/LDF) tersebut yang direncanakan beroperasi dua kali dalam sebulan.
Dikatakan, apabila seluruh persiapan berjalan sesuai rencana, kapal ferry akan melayani lintasan langsung Pelabuhan Malahayati menuju Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, dengan frekuensi pelayaran sebanyak dua kali setiap bulan.
Faisal menjelaskan, kehadiran jalur penyeberangan langsung tersebut diharapkan mampu menjadi alternatif transportasi logistik yang lebih efisien bagi pelaku usaha di Aceh.
Selain memangkas biaya distribusi, layanan itu juga diyakini dapat mempercepat arus barang serta memperkuat konektivitas perdagangan antara Aceh dan Pulau Jawa.
Sejumlah pelaku usaha di Aceh juga telah menyatakan kesiapan memanfaatkan layanan tersebut.
Berbagai sektor, mulai dari logistik, distribusi barang, industri pangan, perikanan hingga otomotif, menilai keberadaan jalur ferry langsung akan meningkatkan efisiensi rantai pasok sekaligus memperluas akses pemasaran produk Aceh.
Dukungan juga datang dari kalangan organisasi angkutan dan dunia usaha. Ketua DPD Organda Aceh, Ramli, menilai transportasi merupakan salah satu faktor utama penggerak perekonomian.
Menurutnya, selama tarif yang ditawarkan kompetitif dan mampu menekan biaya distribusi, pelaku usaha akan memanfaatkan layanan tersebut.
Sementara itu, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Aceh menilai lintasan Malahayati–Tanjung Priok berpotensi menciptakan sistem distribusi yang lebih efisien sekaligus meningkatkan daya saing dunia usaha di Aceh.
Sejumlah perusahaan bahkan telah memproyeksikan volume muatan yang dapat diangkut melalui layanan tersebut. PT Kelola Pangan Indonesia menyatakan siap mengirim produk makanan beku (frozen food) dengan potensi mencapai 2.000 hingga 3.000 ton per tahun.
Di sektor perikanan, PT Yakin Pasifik Tuna memperkirakan pengiriman hasil perikanan Aceh menuju Jakarta dapat mencapai sekitar 60 ton setiap pekan pada musim panen.
Adapun PT Indomarco Prismatama (Indomaret) Cabang Aceh menilai jalur ferry langsung akan memangkas biaya distribusi karena selama ini pasokan barang masih harus melalui Pelabuhan Belawan sebelum dikirim ke Aceh.
Selain itu, perusahaan juga melihat peluang memanfaatkan kapal untuk pengiriman barang daur ulang dari Aceh menuju Jakarta.
Pemerintah Aceh berharap layanan ferry langsung Aceh–Jakarta dapat segera beroperasi sehingga mampu memperkuat konektivitas logistik nasional, menekan biaya transportasi barang, serta mendorong pertumbuhan ekonomi daerah melalui kelancaran arus distribusi antara Aceh dan Pulau Jawa. ***
