Oleh: Suqyan Rahmat, S.H.
Ada dua negara yang saya sayangi di asia tenggara, salah satunya Brunei. Kenapa saya sayang dengan Brunei?
Karena Brunei adalah satu-satunya negara yang selamat 100 persen kemerdekaannya setelah perang dunia kedua.
Berkat Sultannya yang bijaksana dan berwawasan jauh ke depan, Brunei tidak terpengaruh untuk bergabung dengan Malaysia dan Indonesia, tidak terpengaruh supaya berada dalam negara yang besar.
Dengan penuh keyakinan, beliau memilih jalannnya sendiri sebagai negara berdaulat.
Hal ini sangat berbeda nasibnya dengan apa yang dialami hampir semua kesultanan di Indonesia.
Langkat, Deli, Serdang, Asahan, dan Siak di Sumatra Timur.
Sambas, Pontianak, Bulungan, dan Kutai di Borneo.
Gowa, Bone, dan Buton di Sulawesi.
Bima di Sumbawa.
Ternate dan Tidore di Maluku.
Semua kesultanan ini sekarang hanya tinggal cerita, semuanya sudah lama mati sejak bergabung dengan Indonesia.
Hanya istana dan keluarga sultan yang masih ada sebagai peninggalan kedaulatan masa lalu.
Kesultanan-kesultanan di Malaysia mendapatkan nasib yang lebih baik.
Meskipun tidak hidup 100 persen tapi juga tidak benar-benar mati seperti di Indonesia.
Sekurang-kurangnya mereka tetap berkuasa di wilayahnya masing-masing dan berhak menjadi kepala negara.
Hanya saja saat dibandingkan dengan Brunei, jelas semua kesultanan di Malaysia itu tidak semujur Brunei.
Yang bukan hanya sekedar hidup, tapi juga bisa berjalan dan bahkan berlari.
Sultan Brunei membuktikan bahwa beliaulah satu-satunya Sultan yang membuat keputusan yang benar saat peta politik Asia Tenggara berubah total setelah perang dunia kedua.
Hasilnya, Brunei sekarang adalah kesultanan terkaya di Asia Tenggara, berdasarkan pendapatan perkapita warganya.
Karena wewenangnya terhadap kekayaan alam negaranya yang membuat semua warga negaranya hidup bebas pajak dan mendapatkan banyak keistimewaan dari negara.
Yang terbaru, mendapatkan berita tentang dua hotel mentereng di salah satu pusat keuangan dunia di Asia Tenggara yang dimiliki Sultan Brunei adalah satu berita yang menyenangkan saya.
Karena apa? karena tidak ada satu pun kesultanan di indonesia yang bisa terlibat di tahap ini.
Ditambah lagi dengan adanya keluarga-keluarga konglomerat dari kalangan Melayu, seperti keluarga Awang Ahmad dan keluarga Abdul Razaq, semakin membuat saya merasa bersyukur dengan nasib yang mereka alami.
Tak ada kesultanan di indonesia yang bernasib semujur Brunei, walau itu Jogjakarta.
Di Borneo Timur, yang sepulau dengan Brunei, Sultan Bulungan bahkan pernah terpaksa mengungsi ke Sabah demi menyelamatkan diri dan keluarganya dari ambisi TNI menguasai istananya.
Sultan Kutai menjalani kehidupan yang malang, setelah semua kekayaan kesultanannya dirampas negara.
Begitu juga yang terjadi dengan semua kesultanan lainnya, hanya bisa tersenyum pasrah mendengar berita-berita yang dialami Brunei.
Sekarang, Brunei tetap berjaya menjaga daulat yang dimilikinya sejak Pangeran Awang mendirikan kesultanannya.
Walau wilayahnya telah mengecil setelah lepasnya Sarawak dan Sabah di abad 19.
Tak ada satu orangpun warga negaranya yang menderita, seperti yang dialami bekas warga negara kesultanan-kesultanan lainnya di Nusantara, yang sudah terbiasa mendapatkan ketidakadilan.
Kenyataan ini membuktikan, lebih baik bernegara dengan wilayah yang kecil tapi penuh dengan wewenang dan keterjaminan hak-hak pribumi, daripada sebaliknya. ***
Penulis adalah alumni Universitas Islam Indonesia, tinggal di Batam
