Oleh: Dr. Ir. TM Zulfikar, S.T., M.P., IPU
Hutan Aceh sering dipuji sebagai benteng terakhir ekosistem Sumatra. Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) disebut-sebut sebagai paru-paru dunia, rumah bagi spesies kunci seperti orangutan, gajah, harimau, dan badak.
Namun di balik narasi heroik itu, ada kenyataan yang jauh lebih sunyi, dan justru karena sunyi, ia menjadi berbahaya: deforestasi yang berlangsung diam-diam, perlahan, tetapi konsisten menggerus masa depan.
Ini bukan lagi cerita tentang pembukaan hutan besar-besaran yang mudah terlihat dari udara. Ini adalah cerita tentang potongan-potongan kecil hutan yang hilang setiap hari, tanpa sorotan, tanpa kegaduhan, tanpa perlawanan berarti.
Hilangnya Hutan yang “Tak Terlihat
Secara statistik, deforestasi di Aceh dalam beberapa tahun terakhir memang menunjukkan tren fluktuatif. Namun, angka-angka itu sering menipu.
Karena yang terjadi bukan hanya kehilangan dalam skala besar, tetapi akumulasi kehilangan kecil yang tersebar di banyak titik.
Perambahan hutan untuk kebun skala kecil, pembukaan akses jalan ilegal, aktivitas tambang tanpa izin, hingga ekspansi perkebunan yang “merayap”, semuanya berkontribusi pada degradasi hutan yang tidak selalu tercatat sebagai deforestasi total, tetapi sama merusaknya secara ekologis.
Inilah yang membuat deforestasi di Aceh menjadi “diam-diam”: tidak mencolok, tetapi masif dalam akumulasi.
Leuser dalam Tekanan yang Konsisten
Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) adalah simbol sekaligus barometer. Ketika Leuser tertekan, itu berarti sistem ekologis Aceh sedang tidak baik-baik saja.
Berbagai laporan menunjukkan bahwa tekanan terhadap Leuser belum berhenti. Fragmentasi habitat terus terjadi.
Koridor satwa terganggu. Konflik manusia dan satwa meningkat. Gajah masuk ke kebun warga, harimau mendekati permukiman, bukan karena mereka “mengganggu”, tetapi karena ruang hidupnya semakin sempit.
Deforestasi tidak hanya menghilangkan pohon. Ia mengacaukan seluruh sistem kehidupan yang bergantung padanya.
Antara Izin dan Pembiaran
Masalah deforestasi di Aceh tidak bisa dilepaskan dari tata kelola yang lemah. Di satu sisi, ada izin-izin resmi yang membuka ruang bagi eksploitasi. Di sisi lain, ada pembiaran terhadap aktivitas ilegal yang berlangsung bertahun-tahun.
Kombinasi ini menciptakan situasi yang problematik: legal secara administratif, tetapi merusak secara ekologis.
Lebih jauh, pengawasan di lapangan masih jauh dari memadai. Luasnya wilayah hutan tidak sebanding dengan kapasitas pengendalian. Akibatnya, banyak aktivitas ilegal berjalan tanpa tersentuh.
Dan ketika penindakan terjadi, seringkali bersifat sporadis, tidak menyentuh akar masalah.
Dampak Nyata yang Mulai Terasa
Deforestasi bukan isu abstrak. Dampaknya sudah dirasakan secara nyata oleh masyarakat Aceh.
Banjir yang semakin sering dan meluas, tanah longsor di wilayah perbukitan, serta menurunnya kualitas dan kuantitas air adalah beberapa indikator yang tidak bisa diabaikan.
Ini adalah konsekuensi langsung dari hilangnya fungsi hutan sebagai pengatur tata air.
Di sisi lain, perubahan iklim memperparah situasi. Ketika hutan berkurang, kemampuan alam untuk meredam dampak cuaca ekstrem juga ikut melemah.
Aceh menjadi lebih rentan, bukan hanya terhadap bencana, tetapi juga terhadap krisis ekologis jangka panjang.
Narasi Besar, Aksi Kecil
Setiap tahun, komitmen menjaga hutan selalu hadir dalam dokumen resmi, pidato, dan rencana pembangunan. Aceh bahkan dikenal sebagai provinsi dengan status “hijau” dalam berbagai forum.
Namun, realitas di lapangan seringkali tidak sejalan. Ada jurang antara narasi dan implementasi.
Deforestasi diam-diam terjadi justru karena lemahnya konsistensi. Kebijakan ada, tetapi tidak ditegakkan secara tegas. Pengawasan ada, tetapi tidak berkelanjutan.
Komitmen ada, tetapi tidak diterjemahkan menjadi tindakan nyata.
Kita Sedang Kehilangan Waktu
Bahaya terbesar dari deforestasi diam-diam adalah ilusi bahwa semuanya masih baik-baik saja. Karena tidak ada lonjakan besar dalam angka kehilangan hutan, kita merasa situasi terkendali.
Padahal, kerusakan berjalan perlahan, dan seringkali baru disadari ketika sudah terlambat.
Hutan tidak hilang dalam semalam. Ia hilang sedikit demi sedikit, hari demi hari. Dan ketika kita akhirnya menyadarinya, yang tersisa mungkin hanya fragmen, tidak lagi cukup untuk menopang kehidupan.
Penutup: Sunyi yang Harus Dipecahkan
Deforestasi di Aceh hari ini bukan hanya soal pohon yang ditebang. Ia adalah cerminan dari cara kita memandang lingkungan: antara aset yang harus dijaga atau sumber daya yang bisa terus dieksploitasi.
Selama deforestasi dibiarkan berjalan dalam diam, selama itu pula ancaman akan terus membesar tanpa disadari.
Aceh tidak kekurangan regulasi. Tidak kekurangan wacana. Yang kurang adalah keberanian untuk bertindak secara konsisten dan tegas.
Karena pada akhirnya, yang akan menentukan masa depan hutan Aceh bukanlah seberapa indah kita berbicara tentangnya, melainkan seberapa serius kita menghentikan kerusakan yang terjadi dalam sunyi.
Penulis adalah Praktisi & Akademisi Lingkungan Aceh
