Meski Hujan, Safari Subuh Tetap Menggema

Ringkasan Berita:

  • Pelaksanaan di Tengah Hujan: Safari Subuh Kabupaten Aceh Timur tetap berlangsung khidmat di Masjid Al-Kautsar, Gampong Keudee Blang, Kecamatan Idi Rayeuk, pada Minggu (20/9/2026) pagi meski diguyur hujan rintik.
  • Kehadiran Jamaah: Kegiatan yang diisi salat Subuh berjamaah, zikir, dan doa ini dihadiri warga lokal, tokoh masyarakat, pejabat daerah, serta para santri dan pimpinan Dayah Raudhatul Falah Blang Geulumpang.
  • Pesan Tausiah: Imum Besar Ketapang Mameh, Tgk Mustafa Kamal, mengingatkan jamaah lewat kenangan banjir bandang masa lalu agar senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT serta meramaikan masjid, bukan hanya saat tertimpa musibah.
  • Tujuan Safari Subuh: Kegiatan rutin ini menjadi wadah silaturahmi, penguat keimanan, dan ikhtiar untuk terus menghidupkan masjid dalam situasi apa pun.

ACEH TIMUR – Hujan rintik yang tak kunjung reda sejak malam membuat dinginnya pagi semakin menusuk.

Selimut terasa lebih berat untuk ditinggalkan, sementara Masjid Al-Kautsar, Gampong Keudee Blang, Kecamatan Idi Rayeuk, Aceh Timur, tampak lebih lengang dari biasanya.

Sponsored

Namun, Minggu (20/9/2026) pagi itu, sebagian jamaah tetap memilih meninggalkan kehangatan rumah dan melangkahkan kaki menuju masjid.

Safari Subuh Kabupaten Aceh Timur pun tetap menggema di tengah cuaca yang kurang bersahabat.

Puluhan jamaah, warga Gampong Keudee Blang dan sejumlah santri Dayah Raudhatul Falah Blang Geulumpang hadir mengikuti rangkaian kegiatan yang berlangsung khidmat.

Koordinator Safari Subuh Kabupaten Aceh Timur, Tgk Syafruddin, mengawali kegiatan dengan menyerahkan rangkaian acara kepada pewarta. Jamaah kemudian diarahkan mengikuti seluruh rangkaian hingga pelaksanaan salat Subuh.

Salat Subuh yang di imami oleh H. Hasbi Abdulwahab atau Abi Hasbi, pimpinan Dayah Raudhatul Falah Blang Geulumpang, Idi Rayeuk.

Setelah salat, suasana masjid kembali dipenuhi lantunan zikir, takbir dan selawat. Irama bacaan dipandu Ananda Khairul Azmi, salah seorang santri Dayah Raudhatul Falah, agar rangkaian zikir berlangsung tertib dan serempak.

Doa penutup kemudian dibacakan oleh Haji Abu Wahab Keude Dua Idi.

Namun, bagian yang paling menggugah jamaah datang ketika Tgk Mustafa Kamal, Imum Besar Ketapang Mameh, menyampaikan tausiah.

Ia tidak sekadar berbicara tentang ibadah.

Ia membawa jamaah kembali mengingat sebuah peristiwa yang pernah mengguncang kawasan tersebut: banjir bandang yang menerjang Masjid Al-Kautsar.

“Dulu kita mengalami ujian yang sangat dahsyat. Sampai kita harus naik ke atap. Air masuk ke dalam masjid sekitar delapan sentimeter. Di halaman, air bahkan sampai setinggi dada,” ungkap Tgk Mustafa Kamal.

Kalimat itu seolah menghidupkan kembali ingatan jamaah terhadap dahsyatnya banjir yang pernah terjadi.

Di tempat yang sama, tempat jamaah pagi itu duduk bersimpuh, pernah hadir air bah yang memaksa manusia berhadapan dengan keterbatasannya.

“Ujian dahsyat itu, ke mana kita mengadu selain kepada Rabb yang memberikan air?” tegasnya.

Pesan itu kemudian diarahkan kepada satu hal: jangan hanya mendekat kepada Allah ketika musibah datang.

Tgk Mustafa mengajak jamaah menjadikan masjid, majelis zikir, ulama dan orang-orang saleh sebagai tempat untuk terus memperkuat keimanan.

“Mari kita dekati dan sering bersama orang-orang saleh, para Tgk dan ulama. Kembali kita kuatkan ibadah. Mereka adalah taman surga,” ujarnya.

Ia kemudian mengajak jamaah merenungkan makna “taman surga” yang di dalamnya terdapat orang-orang beriman, ulama, aulia dan mursyid yang menjadi tempat belajar ilmu, zikir dan doa.

“Semua kita ingin masuk surga. Maka sebelum sampai ke sana, mari kita datangi taman-taman surga. Di sana ada orang beriman, ada Tgk, ulama, aulia dan mursyid. Dari merekalah kita belajar ilmu dan memperbanyak zikir,” katanya.

Tgk Mustafa juga mengingatkan bahwa zikir memiliki beragam bentuk dan irama. Ada yang lembut, ada pula yang dilantunkan dengan suara lebih kuat dan penuh semangat.

Menurutnya, zikir menjadi bagian dari ikhtiar manusia dalam mengingat Allah SWT, memohon perlindungan serta menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Ia juga menyampaikan istilah “labang donya” atau “paku dunia”, yang dikaitkannya dengan keberadaan para aulia atau wali Allah serta orang-orang yang larut dalam zikir dan takbir.

Pesan besarnya sederhana namun tajam: jangan sampai manusia hanya mencari Allah ketika musibah datang, tetapi melupakan-Nya ketika keadaan kembali aman.

Di tengah hujan yang membuat sebagian warga memilih tetap berada di balik selimut, jamaah yang hadir justru mendapatkan pesan spiritual yang kuat: masjid jangan hanya ramai ketika keadaan mudah, tetapi harus tetap dihidupkan dalam keadaan apa pun.

Turut hadir dalam Safari Subuh tersebut Imum Masjid Al-Kautsar Tgk Zainuddin, Keuchik Gampong Keudee Blang Usman Musa, Kepala KPA Sagoe Julok Aceh Timur Budiman M. Yusuf atau Panglima Budi, Pengawas Sekolah Dinas Pendidikan Aceh Timur Bakhtiar, S.Pd., sejumlah santri Dayah Raudhatul Falah Blang Geulumpang serta masyarakat setempat.

Hujan boleh membuat jumlah jamaah tidak seramai biasanya,namun, lantunan salat, zikir, takbir dan selawat tetap terdengar dari Masjid Al-Kautsar.

Dingin boleh menusuk tubuh. Selimut boleh menahan langkah. Tetapi bagi jamaah yang datang, panggilan Subuh tetap lebih kuat.

Menutup kegiatan, Koordinator Safari Subuh mengajak jamaah yang hadir untuk menyampaikan informasi kepada keluarga, sahabat dan masyarakat lainnya agar ikut meramaikan Safari Subuh berikutnya.

Sebab, Safari Subuh bukan sekadar berpindah dari satu masjid ke masjid lainnya.

Ia adalah ikhtiar menghidupkan masjid, memperkuat silaturahmi dan mengajak umat kembali mendekat kepada Allah SWT. ***

Baca Juga