Lima Bulan Pascabanjir, Pendidikan di Aceh Utara Masih Bertahan di Tengah Keterbatasan

Ringkasan Berita:

  • Pemulihan fasilitas pendidikan belum tuntas Lima bulan pascabanjir 26 November 2025, sejumlah sekolah di Kecamatan Langkahan, Aceh Utara, masih mengalami kerusakan sarana dan prasarana, terutama meja, kursi, serta ruang kelas yang belum sepenuhnya diperbaiki.
  • Siswa tetap belajar di tengah keterbatasan Meski fasilitas belum memadai, proses belajar mengajar tetap berlangsung. Bahkan, sebagian siswa di SMP Negeri 3 Langkahan masih harus belajar dengan duduk di lantai karena kurangnya meja dan kursi.
  • Diperlukan langkah cepat dari pihak terkait Kondisi ini menunjukkan pentingnya percepatan bantuan dan pemulihan sektor pendidikan agar siswa dapat belajar dalam lingkungan yang layak, aman, dan nyaman pascabencana.

ACEH UTARA | ACEHSATU.COM — Lima bulan setelah banjir besar yang melanda Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, pada 26 November 2025, jejak bencana masih nyata terasa di sektor pendidikan. Di sejumlah sekolah, kegiatan belajar mengajar memang telah kembali berjalan, namun berlangsung dalam kondisi yang jauh dari ideal.

 

Sponsored

Pantauan di lapangan pada Sabtu, 18 April 2026, menunjukkan sejumlah sekolah seperti SMP Negeri 3 Langkahan, SD Negeri 2 Langkahan, dan SD Negeri 7 Langkahan masih berjuang memulihkan sarana pendidikan yang rusak akibat banjir.

 

Di SMP Negeri 3 Langkahan, pemandangan yang menyentuh terlihat di salah satu ruang kelas. Sejumlah siswa duduk bersila di atas lantai beralas ubin, menulis materi pelajaran di buku mereka tanpa meja dan kursi yang memadai. Sebagian perabot sekolah rusak saat banjir merendam kawasan tersebut dan hingga kini belum sepenuhnya tergantikan.

 

Meski berada dalam keterbatasan, aktivitas belajar tetap berlangsung. Para siswa datang seperti biasa setiap pagi, mengikuti pelajaran dengan fasilitas seadanya. Semangat mereka untuk terus belajar di tengah kondisi sulit menjadi gambaran nyata ketangguhan dunia pendidikan di wilayah terdampak bencana.

 

Banjir yang terjadi pada akhir November tahun lalu tidak hanya merendam permukiman warga, tetapi juga menghantam fasilitas pendidikan. Ruang kelas, meja, kursi, lemari buku, hingga sarana penunjang lainnya mengalami kerusakan. Beberapa bagian bangunan sekolah bahkan masih menunjukkan bekas lumpur dan kelembapan yang ditinggalkan air banjir.

 

Kondisi ini tentu berdampak langsung pada kualitas proses belajar mengajar. Ruang belajar yang belum pulih sepenuhnya membuat siswa dan guru harus beradaptasi dengan situasi yang serba terbatas. Dalam beberapa kelas, proses pembelajaran berlangsung tanpa fasilitas dasar yang semestinya tersedia.

 

Para guru tetap berupaya menjaga agar kegiatan pendidikan tidak terhenti. Mereka terus mendampingi siswa belajar sambil menunggu adanya perbaikan sarana dari pihak terkait.

 

Situasi di Langkahan mencerminkan bahwa pemulihan pascabencana di sektor pendidikan masih menyisakan pekerjaan rumah yang besar. Lima bulan pascabanjir, kebutuhan mendesak seperti meja, kursi, perbaikan ruang kelas, dan sarana belajar lainnya masih menjadi harapan utama sekolah.

 

Masyarakat dan pihak sekolah berharap pemerintah daerah maupun instansi terkait dapat segera mengambil langkah konkret untuk mempercepat pemulihan fasilitas pendidikan. Sebab, pendidikan anak-anak di daerah terdampak bencana tidak seharusnya berjalan terlalu lama dalam kondisi darurat.

 

“Anak-anak tetap semangat datang ke sekolah, meski harus belajar di lantai. Ini yang menjadi perhatian kita bersama agar mereka segera mendapatkan fasilitas yang layak,” ujar salah seorang warga setempat.

 

Kondisi ini menjadi pengingat bahwa dampak bencana tidak berhenti saat air surut. Bagi dunia pendidikan, pemulihan membutuhkan waktu, perhatian, dan dukungan nyata agar siswa dapat kembali belajar dalam lingkungan yang aman, nyaman, dan manusiawi.

 

Di tengah segala keterbatasan, semangat para siswa di Aceh Utara menjadi simbol harapan bahwa pendidikan tetap hidup, bahkan di tengah sisa-sisa bencana.***

Baca Juga