LEBARAN kali ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya bagi para penyintas banjir bandang di Aceh.
Lebaran, layaknya dirayakan meriah bersama keluarga di rumah, namun kali ini terpaksa bertahan di tenda ukuran 4×4 meter.
Hunian sementara (Huntara) yang dijanjikan pemerintah tak kunjung terealisasi.
Padahal sebelumnya, Pemerintah Aceh menargetkan ribuan masyarakat korban bencana alam banjir bandang tersebar di sejumlah kabupaten/kota di Aceh, akan menempati hunian sementara (huntara) yang dibangun oleh pemerintah sebelum Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah.
Seperti yang diungkapkan Datok Penghulu Kampung Lubuksidup, Ibrahim.
“Kami berharap bisa pindah ke Huntara sebelum lebaran, ternyata sampai sekarang proses pembangunan belum siap,” kata Ibrahim kepada ACEHSATU, Selasa 17 Maret 2026.
Sementara itu, dari sebuah tenda darurat, seorang nenek terlihat dengan tatapan kosong. Ia tidak mampu berkata apapun.
Ia masih tinggal di tenda pengungsian di bantaran Sungai Tamiang.
Tidak saja di Aceh Tamiang, ternyata, menjelang Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah, ribuan warga korban bencana banjir di sejumlah kabupaten di Aceh masih harus menjalani hari-hari mereka di tenda pengungsian.
Padahal, banjir besar yang melanda wilayah tersebut telah terjadi sejak 26 November 2025 atau hampir empat bulan yang lalu.
Kondisi ini menjadi ironi di tengah suasana masyarakat yang bersiap menyambut Lebaran.
Sementara sebagian warga mulai membersihkan rumah dan mempersiapkan kebutuhan hari raya, para korban banjir masih bergulat dengan keterbatasan fasilitas dan ketidakpastian kapan dapat kembali ke rumah mereka.
Data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tertanggal 3 Maret 2026 hunian sementara di Kabupaten Aceh Tamiang sebanyak 4.276 unit.
Sedangkan yang sudah selesai dibangun hanya 1.564 unit. Data ini dilaporkan ke Satuan Tugas Rehabilitasi dan Rekontruksi Sumatera, serta Satuan Tugas Galapana DPR RI.
Huntara ini tersebar di Kecamatan Karang Baru, Mayak Payed, Bendahara, Banda Mulia, Kuala Simpang, Sekerak, Bandar Puasaka, Tamiang Hulu, Rantau dan Kecamatan Kejuruan Muda.
Kebingungan Dari laporan ini, mayoritas pembangunan baru 20 hingga 50 persen. Sehingga dipastikan tidak selesai pada lebaran Idul Fitri 21 Maret 2026 mendatang.
Berdasarkan data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada Kamis, 19 Maret 2026 pukul 18.00 WIB, ribuan pengungsi masih tersebar di sejumlah kabupaten di Aceh.
Kabupaten dengan jumlah pengungsi tertinggi yakni Aceh Tamiang dengan sekitar 2.000 jiwa.
Disusul Aceh Utara sebanyak 1.700 jiwa.
Sementara di wilayah dataran tinggi, Kabupaten Gayo Lues tercatat memiliki 375 pengungsi, diikuti Aceh Tengah 364 jiwa.
Di daerah lain, jumlah pengungsi juga masih cukup signifikan.
Kabupaten Pidie Jaya tercatat memiliki 276 jiwa yang masih tinggal di pengungsian, Bener Meriah 234 jiwa, Nagan Raya 69 jiwa, serta Aceh Timur sebanyak 61 jiwa.
Tidak hanya menimbulkan pengungsian berkepanjangan, banjir juga menyebabkan kerusakan rumah warga dalam jumlah besar.
Data BNPB mencatat total 255.051 unit rumah terdampak akibat bencana banjir dan longsor di wilayah Aceh dan sekitarnya.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 45.464 rumah mengalami kerusakan berat.
Kemudian 60.307 rumah mengalami kerusakan sedang, sementara 149.280 rumah lainnya tercatat mengalami kerusakan ringan.
Besarnya jumlah kerusakan tersebut menjadi salah satu penyebab lambatnya proses pemulihan bagi masyarakat terdampak.
Banyak warga yang hingga kini belum bisa kembali ke rumah mereka karena kondisi bangunan yang tidak layak huni. ***
