ACEH UTARA | ACEHSATU.COM — Air banjir memang telah surut dari permukiman warga, namun persoalan baru justru muncul dan terus membebani kehidupan masyarakat. Lebih dari sebulan pascabanjir bandang yang melanda 18 kabupaten/kota di Aceh, penyintas banjir masih bergulat dengan krisis air bersih, risiko penyakit, keterbatasan pendidikan anak, serta belum terpenuhinya kebutuhan hunian yang aman.
Air Bersih Langka, Warga Terpaksa Berhemat
Warga Gampong Alue Dama, Kecamatan Baktiya, Kabupaten Aceh Utara, kini kesulitan mendapatkan air bersih. Sumur yang sebelumnya menjadi sumber utama air berubah keruh dan berbau setelah terendam banjir. Kondisi ini memaksa warga membeli air galon untuk kebutuhan minum dan memasak, meski penghasilan mereka belum pulih.
“Air bersih sama sekali tidak ada. Warga yang mampu terpaksa membeli air galon setiap hari. Sementara warga dengan ekonomi terbatas menggunakan air sumur selama warnanya belum hitam dan tidak terlalu kotor,” ujar Geuchik Alue Dama, Jalalul Sayuti, Minggu (11/1/2026).
Untuk kebutuhan mandi, mencuci, dan berwudu, warga masih menggunakan air sumur meski kondisinya tidak layak. Sekitar 200 kepala keluarga terdampak langsung. Meski kerusakan rumah tergolong ringan, ancaman kesehatan dan sanitasi terus menghantui. Dua warga dilaporkan meninggal dunia saat berada di lokasi pengungsian.
Bantuan air bersih darurat, termasuk distribusi 1.000 liter air dari Bank Indonesia, membantu meringankan beban warga. Namun, pemerintah gampong menilai bantuan tersebut hanya bersifat sementara dan berharap pemerintah daerah membangun sumur bor sebagai solusi jangka panjang.
Dampak Banjir Menyasar Kesehatan Fisik dan Mental
Di wilayah lain Aceh Utara, banjir tidak hanya memicu penyakit fisik, tetapi juga meninggalkan trauma psikologis. Tim Tenaga Cadangan Kesehatan (TCK) dari Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan mendatangi penyintas banjir di Gampong Simpang Tiga dan Desa Geudumbak, Kecamatan Langkahan, Minggu (11/1/2026).
Penanggung jawab HEOC Aceh Utara, dr. Maidar, M.Kes, menjelaskan bahwa tim memberikan layanan kesehatan menyeluruh, termasuk pendampingan psikologis. Tim mendampingi warga dewasa yang mengalami kecemasan, gangguan tidur, dan kelelahan fisik, serta anak-anak yang menunjukkan trauma pascabencana.
“Anak-anak mengalami gangguan konsentrasi dan rasa takut ketika hujan turun. Kami melakukan trauma healing melalui permainan dan aktivitas kreatif agar rasa aman mereka kembali tumbuh,” kata Maidar.
Asisten I Sekretaris Daerah Kabupaten Aceh Utara, Dr. Fauzan, MPA, menegaskan bahwa pemulihan psikososial menjadi bagian penting dari penanganan pascabencana. Plt. Kepala Dinas Kesehatan Aceh Utara, Abdurrahman, SKM., M.Si, menambahkan bahwa kolaborasi dengan Kementerian Kesehatan sangat membantu di tengah keterbatasan tenaga medis daerah.
Ambulance Rusak, Risiko Penyakit Meningkat
Di Desa Krueng Lingka, Kecamatan Langkahan, kondisi darurat masih dirasakan warga. Sekitar 80 persen rumah rusak berat, sementara genangan air masih muncul setiap kali hujan turun. Warga mengkhawatirkan sektor kesehatan karena ambulance Puskesmas setempat rusak dan belum dapat digunakan.
“Pascabanjir sangat rawan penyakit seperti ISPA, batuk, dan gatal-gatal. Saat warga perlu dirujuk ke rumah sakit, dengan ketidak tersedian armada ambulace ini,mungkin salah satu faktor yang menyulitkan masyarakat untuk mengakses kesehatan” ujar Geuchik Krueng Lingka, Efendi Nurdin, Sabtu (10/1/2026).
Ia mendesak pemerintah daerah segera mengaktifkan kembali armada ambulance untuk mencegah risiko wabah penyakit pascabencana.
Layanan Kesehatan Mulai Dipulihkan
Pemerintah Kabupaten Aceh Utara terus memulihkan layanan kesehatan dengan melibatkan Tim Elektromedis Kementerian Kesehatan. Tim tersebut mengidentifikasi dan memperbaiki alat-alat medis yang rusak akibat banjir di sejumlah puskesmas.
Beberapa alat kesehatan, seperti timbangan balita dan ibu hamil, kembali difungsikan setelah diperbaiki. Namun, sejumlah alat laboratorium mengalami kerusakan berat dan membutuhkan penggantian. Tim telah melakukan pendataan di Puskesmas Dewantara, Matangkuli, Baktiya, dan Lhoksukon agar pelayanan kesehatan dasar kembali berjalan optimal.
Pendidikan Tetap Berjalan di Tengah Keterbatasan
Di SD Negeri 11 Langkahan, Gampong Paya Tukai, semangat belajar siswa tetap bertahan meski fasilitas sekolah rusak. Banyak siswa datang tanpa seragam karena pakaian mereka hanyut atau rusak diterjang banjir. Meja dan kursi rusak, dinding kelas masih menyisakan bekas genangan, namun proses belajar mengajar tetap berlangsung.
“Mereka tetap datang ke sekolah meski tanpa seragam,” ujar seorang guru.
Pihak sekolah dan masyarakat berharap adanya bantuan seragam, alat tulis, buku pelajaran, serta rehabilitasi ruang kelas agar kegiatan belajar mengajar kembali berjalan layak.
Harapan dari Pembangunan Hunian Tetap
Harapan warga mulai tumbuh seiring rencana pembangunan hunian tetap. Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan RI, Jenderal TNI (Purn) Djamari Chaniago, memastikan pembangunan 104 unit rumah bagi korban banjir di Kecamatan Lapang selesai sebelum Ramadan.
“Lahan, administrasi, dan material sudah siap. Kami berharap sebelum puasa, rumah-rumah ini sudah bisa ditempati,” ujar Djamari saat meninjau lokasi, Rabu (7/1/2026).
Bertahan di Pengungsian
Sementara itu, di Desa Rumoeh Rayek, Kecamatan Langkahan, sekitar 600 kepala keluarga terdampak langsung, dengan 90 persen rumah mengalami kerusakan berat. Warga masih mengungsi di enam titik. Meski kondisi relatif terkendali, persoalan sanitasi dan hunian layak masih menjadi kebutuhan mendesak.
“Yang paling utama itu rumah, setelah itu ekonomi. Banyak kebun warga tidak bisa dipanen,” kata Balisyah, salah seorang warga.
Banjir juga merenggut korban jiwa. Dua warga meninggal dunia akibat terseret arus, sementara seorang lansia wafat di tenda pengungsian.
Menanti Pemulihan Nyata
Lebih dari sebulan setelah banjir bandang, warga Aceh Utara masih menantikan pemulihan yang menyentuh kebutuhan dasar. Air bersih, layanan kesehatan, pendidikan, dan hunian layak menjadi fondasi utama untuk bangkit kembali. Meski banjir telah berlalu, perjuangan warga belum berakhir.
