Hari Bumi 2026: AWF Tanam 1.500 Mangrove di Kuala Raja Bireuen

Ringkasan Berita:

  • Aksi Nyata Hari Bumi 2026: Aceh Wetland Forum (AWF) bersama berbagai komunitas menanam 1.500 batang mangrove di Desa Kuala Raja, Bireuen, pada Rabu, 22 April 2026.
  • Luas Lahan dan Dukungan: Penanaman dilakukan di atas lahan seluas 2 hektar dengan dukungan penuh dari BPDLH melalui program strategis FOLU Net Sink 2026.
  • Tujuan Utama: Selain mencegah abrasi pantai, aksi ini bertujuan meningkatkan keanekaragaman hayati dan mendukung mitigasi perubahan iklim melalui penyerapan karbon secara alami.
  • Kolaborasi Lintas Sektor: Kegiatan ini melibatkan Pemerintah Daerah, siswa MAN 2 Bireuen, aktivis lingkungan, hingga masyarakat lokal sebagai bentuk edukasi dan investasi lingkungan jangka panjang.

BIREUEN – Aceh Wetland Forum bersama sejumlah komunitas peduli lingkungan menanam 1,500 batang pohon bakau di Desa Kuala Raja, Bireuen, Rabu 22 April 2026.

Kegiatan tersebut dalam rangka memperingati Hari Bumi 2026 bertemakan bumi kita “kekuatan kita, planet kita” dengan dukungan dari Badan Pengelola Lingkungan Hidup (BPDLH) melalui program FOLU Net Sink BPDLH 2026.

Sponsored

Ketua Panitia, Munzir Yunus mengatakan, kegiatan penanaman mangrove tersebut bentuk nyata kepedulian terhadap lingkungan pesisir.

Dikatakan, sebanyak 1.500 batang mangrove berhasil ditanam di atas lahan seluas 2 hektar, sebagai upaya rehabilitasi ekosistem pesisir yang berperan penting dalam mencegah abrasi.

“Kegiatan ini juga untuk meningkatkan keanekaragaman hayati, serta mendukung mitigasi perubahan iklim melalui penyerapan karbon,” kata Munzir.

Kegiatan ini melibatkan kolaborasi multipihak, antara lain Pemerintah Daerah Kabupaten Bireuen, siswa MAN 2 Bireuen, komunitas, dan sejumlah aktivis lingkungan seperti BireuenKut, serta masyarakat setempat yang turut berpartisipasi aktif dalam proses penanaman.

Munzir mengtakan, dukungan terhadap kegiatan ini juga datang dari program FOLU (Forestry and Other Land Use) serta Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH), yang berkomitmen dalam mendukung program restorasi ekosistem dan pengelolaan lingkungan berkelanjutan di Indonesia.

Munzir menambahkan, kegiatan ini tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga merupakan langkah strategis jangka panjang dalam menjaga keseimbangan ekosistem pesisir.

“Mangrove memiliki peran vital sebagai benteng alami dari abrasi dan perubahan iklim. Kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan,” ujarnya.

Selain penanaman, kegiatan ini juga menjadi momentum edukasi lingkungan bagi generasi muda dan masyarakat, untuk lebih peduli terhadap keberlanjutan ekosistem pesisir.

Melalui kolaborasi lintas sektor ini, diharapkan upaya pelestarian lingkungan dapat terus berlanjut dan memberikan dampak nyata bagi kehidupan masyarakat serta keberlanjutan alam di masa depan. ***

Baca Juga