BANDA ACEH – Sekian lama tribun markas lawan terasa sepi akibat regulasi larangan pascatragedi Kanjuruhan 2022, PSSI kini resmi memberi lampu hijau bagi suporter away atau tandang kembali mendampingi klub kebanggaannya.
Kebijakan tersebut disambut positif oleh manajemen Persiraja Banda Aceh.
Manajer Persiraja Banda Aceh, Ridha Mafdhul alias Gidong, mengatakan keputusan tersebut merupakan hasil rapat PSSI. Namun, kehadiran suporter tandang tetap dibatasi dengan sejumlah ketentuan.
“Iya benar, sudah dibolehkan. Keputusan hasil rapat PSSI, suporter tim away (tandang) boleh datang dengan syarat lima persen dari kapasitas stadion,” kata Gidong kepada wartawan, Selasa (8/9/2026).
Dia menyampaikan, selain pembatasan jumlah selama kebijakan baru ini, suporter tim tamu juga diwajibkan membeli tiket melalui aplikasi khusus yang disiapkan oleh Indonesian League (Ileague), yakni Sobat Liga.
Meski suporter tim tamu telah diperbolehkan menyaksikan langsung ke stadion, akan tetapi ada tidak seluruh laga bisa disaksikan langsung. Ada aturan pembatasan yang ditentukan oleh Ileague.
“Ada juga batasan-batasan suporter dilarang away. Nanti yang akan menentukan itu dari pihak Ileague. Mereka yang menentukan suporter dari tim tamu boleh away atau tidak,” ujarnya.
Gidong mengatakan pihak Persiraja sejauh ini belum mengetahui tim mana saja yang suporter tandangnya diperbolehkan datang ke Banda Aceh.
“Kita di Banda Aceh belum tahu ini, suporter tim siapa yang dibolehkan dan tidak dibolehkan oleh Ileague,” katanya.
Meski demikian, manajemen Persiraja menyambut positif pemberlakuan kembali aturan suporter tandang tersebut.
Menurut Gidong, kebijakan ini menjadi salah satu tanda bahwa kondisi sepak bola Indonesia mulai membaik.
“Mengenai suporter away sudah boleh, kami menyambut baik. Ini menandakan kondisi sepak bola di Indonesia sudah mulai membaik. Semoga tidak ada lagi keributan antarsuporter,” ujarnya.
Kembalinya suporter tandang, kata dia, juga memiliki sisi positif karena dapat menjadi ruang bagi pendukung klub untuk bersilaturahmi dan saling mengenal.
Namun, Gidong mengingatkan adanya potensi negatif jika aturan tersebut tidak disikapi secara dewasa oleh seluruh kelompok suporter.
“Positifnya dari pemberlakuan kembali aturan ini adalah, suporter kita bisa silaturrahmi dan saling mengenal satu sama lain,” kata Manajer Persiraja Banda Aceh itu.
“Sedangkan negatifnya tentu aturan ini bisa juga membuat suporter yang masih kurang dewasa memancing keributan antarsuporter,” imbuhnya.***
