BANDA ACEH — Keluarga besar Alumni Sekolah Sukma Bangsa menyampaikan kecaman keras terhadap dugaan tindakan kekerasan yang terjadi dalam lingkungan pendidikan.
Reaksi tersebut terkait meninggalnya seorang taruna Politeknik Pelayaran (Poltekpel) Malahayati Aceh yang diduga berkaitan dengan rangkaian kegiatan orientasi atau pengenalan kampus (ospek).
Peristiwa tersebut menjadi perhatian serius karena lingkungan pendidikan semestinya menjadi ruang yang aman, mendidik, membentuk karakter, serta menjunjung tinggi martabat dan keselamatan setiap peserta didik.
“Tidak ada alasan apa pun yang dapat membenarkan tindakan kekerasan dalam proses Pendidikan,” ujar Dwi Abdulah, dari Keluarga Besar Alumni Sekolah Sukma Bangsa.
Dikatakan, Keluarga besar Alumni Sekolah Sukma Bangsa meminta aparat penegak hukum dan pihak berwenang melakukan investigasi secara menyeluruh, transparan, objektif, dan independen terhadap seluruh rangkaian peristiwa yang terjadi, termasuk apabila terdapat dugaan kekerasan dalam kegiatan ospek maupun aktivitas pembinaan taruna lainnya.
“Kami mengecam keras segala bentuk kekerasan di dunia pendidikan. Pendidikan tidak boleh menjadi ruang pembenaran terhadap kekerasan dengan dalih pembinaan, kedisiplinan, tradisi, atau senioritas,” Dwi Abdullah.
Selain dugaan kekerasan, pihak alumni juga meminta pihak berwenang tidak mengabaikan informasi mengenai dugaan persoalan dalam pelayanan kesehatan di klinik kampus yang disebut-sebut berkaitan dengan penanganan terhadap korban.
Apabila terdapat dugaan kelalaian atau malapraktik dalam pelayanan medis, hal tersebut harus diperiksa melalui mekanisme yang sesuai dan melibatkan pihak yang memiliki kewenangan serta kompetensi untuk melakukan pemeriksaan medis dan etik secara objektif. Kami menyerahkan pembuktian mengenai hal tersebut kepada aparat dan lembaga berwenang.
Karena itu, pemeriksaan tidak seharusnya berhenti hanya pada individu yang diduga melakukan kekerasan.
Karena jika diperlukan berdasarkan hasil penyelidikan, pihak kampus, pengelola kegiatan, penanggung jawab pembinaan, maupun pihak lain yang memiliki keterkaitan dengan rangkaian peristiwa tersebut perlu dimintai keterangan dan diperiksa sesuai ketentuan hukum.
“Kami juga mendorong agar proses penyelidikan dilakukan secara terbuka dan memberikan ruang yang cukup bagi keluarga korban untuk memperoleh informasi mengenai apa yang sebenarnya terjadi,” kata Dwi.
Keluarga besar Alumni Sekolah Sukma Bangsa menegaskan bahwa keselamatan peserta didik harus menjadi prioritas utama dalam setiap proses pendidikan.
Ditambahkan, tradisi pendidikan, kedisiplinan, maupun kegiatan orientasi tidak boleh dilakukan dengan cara yang mengancam keselamatan fisik dan psikologis peserta didik.
“Kami berharap kasus ini dapat diusut secara tuntas sehingga kebenaran dapat terungkap, pihak yang terbukti bertanggung jawab dapat diproses sesuai hukum, dan kejadian serupa tidak kembali terjadi di lingkungan pendidikan mana pun,” pungkas Dwi Abdullah. ***
