ACEHSATU.COM | BIREUEN — Ribuan jamaah dari berbagai daerah di Aceh memadati kompleks makam Habib Abdurrahman bin Alwi Al-Habsyi atau Habib Bugak di Gampong Pante Peusangan, Kecamatan Jangka, Kabupaten Bireuen, Minggu (27/9/2026).
Sejak pagi, kawasan makam dipenuhi jamaah yang mengikuti rangkaian Haul dengan suasana religius. Pembacaan Yasin, Ratib dan Maulid Simtuddurrar mengiringi kegiatan, dilanjutkan ziarah serta pembacaan manaqib yang mengungkap perjalanan hidup dan keteladanan Habib Bugak.
Di tengah ribuan jamaah, Pimpinan Dayah Abu Krueng Kalee, Tgk. Faisal, bersama Syeh Muaz turut hadir dalam Haul Habib Bugak. Kehadiran tersebut sekaligus menjadi momentum silaturahmi dengan Forum Keluarga Besar Habib Bugak.
Dalam kesempatan itu, Tgk. Faisal menyerahkan cendera mata berupa plakat kepada Forum Keluarga Besar Habib Bugak. Plakat tersebut diterima Sayyid Zulkifli Al-Habsyi, salah seorang pengurus forum.
Penyerahan plakat berlangsung dalam suasana penuh keakraban. Momen tersebut menjadi simbol penghormatan sekaligus penguatan hubungan silaturahmi antarkeluarga besar ulama dan dayah.
Ketua Keluarga Besar Habib Bugak, Sayyid Muhajir, menyampaikan apresiasi atas kehadiran Tgk. Faisal bersama Syeh Muaz dalam Haul tersebut.
Menurutnya, silaturahmi antarkeluarga besar ulama memiliki arti penting dalam menjaga hubungan baik sekaligus merawat nilai-nilai keislaman yang diwariskan para ulama terdahulu.
Haul turut dihadiri para ulama, santri, masyarakat serta unsur Forkopimda Bireuen. Keluarga besar Habib Bugak juga ikut dalam pembacaan Ratib dan Maulid Simtuddurrar, di antaranya Habib Mukhsin bin Khatim Al-Habsyi.
Sementara itu, Sayed Jamaluddin bin Yunus Al-Habsyi mengajak jamaah mengambil hikmah dari perjalanan hidup Habib Bugak melalui pembacaan manaqib. Keteladanan Habib Bugak, kata dia, tidak hanya berkaitan dengan ilmu dan perjuangan, tetapi juga amal jariyah yang manfaatnya terus dirasakan lintas generasi.
Haul Habib Bugak akhirnya menjadi lebih dari sekadar agenda mengenang seorang ulama. Ribuan jamaah yang hadir menjadi gambaran bagaimana warisan ilmu, silaturahmi dan wakaf mampu bertahan melampaui zaman.
Dari makam Habib Bugak, pesan itu kembali digaungkan: kebaikan yang ditanam dengan keikhlasan tidak berhenti ketika seseorang telah tiada. Ia dapat terus tumbuh, mengalir dan menjadi manfaat bagi generasi yang bahkan belum lahir ketika kebaikan itu pertama kali ditanam.
