Musim Kemarau, Warga Aceh Timur Masih Bergantung pada Pasokan Air Bersih Pascabanjir
ACEHSATU.COM | ACEH TIMUR – Memasuki musim kemarau 2026, sebagian masyarakat di Kabupaten Aceh Timur masih menghadapi dampak berkepanjangan akibat banjir bandang yang terjadi pada akhir 2025. Sejumlah sumur warga yang sempat tercemar belum sepenuhnya pulih sehingga kebutuhan air bersih tetap menjadi perhatian utama.
Wahyuni, warga Kecamatan Julok, mengatakan persoalan air bersih menjadi tantangan terbesar yang dirasakan masyarakat setelah banjir melanda pada November 2025.
“Masalah terbesar yang kami hadapi adalah air bersih. Banyak sumur warga tercemar sehingga tidak bisa digunakan,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, selain merendam permukiman, banjir juga membuat sumber air warga dipenuhi lumpur dan tidak layak dikonsumsi. Kondisi tersebut diperparah dengan padamnya listrik dan terputusnya jaringan telekomunikasi selama beberapa hari.
“Kalau rumah yang kotor masih bisa dibersihkan sedikit demi sedikit, tetapi kalau tidak ada air bersih tentu sangat sulit,” katanya.
Berdasarkan data Pos Komando Bencana Aceh Timur, banjir bandang pada akhir 2025 berdampak terhadap 73.531 kepala keluarga atau sekitar 265.723 jiwa yang tersebar di delapan kecamatan, yakni Julok, Simpang Ulim, Pante Bidari, Nurussalam, Birem Bayeun, Peunaron, Idi Tunong, dan Peureulak.
Bencana tersebut juga mengakibatkan puluhan korban jiwa, ribuan warga mengalami luka-luka maupun sakit, serta merusak belasan ribu rumah dengan tingkat kerusakan yang bervariasi. Desa Lokop menjadi salah satu kawasan yang mengalami kerusakan paling parah akibat material kayu, lumpur, dan bebatuan yang terbawa arus banjir.
Sebagai bagian dari upaya pemulihan, PT Medco E&P Malaka bersama Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) menyalurkan sekitar 1,13 juta liter air bersih kepada masyarakat terdampak.
Distribusi air dilakukan menggunakan empat mobil tangki berkapasitas 5.000 liter yang menjangkau 56 desa di Kecamatan Julok, Simpang Ulim, Pante Bidari, Nurussalam, dan Peureulak. Penyaluran dimulai sejak 3 Desember 2025 dan berlangsung selama masa tanggap darurat hingga pemulihan.
Selain memasok air bersih, Medco E&P Malaka juga mengerahkan alat berat untuk membuka akses jalan yang sempat terputus di 31 desa terdampak. Bantuan tersebut meliputi 12 unit ekskavator, empat bulldozer, tiga backhoe loader, enam grader, dan dua dump truck.
Perusahaan juga membantu pembersihan RSUD Sultan Abdul Aziz Peureulak agar pelayanan kesehatan kepada masyarakat dapat kembali berjalan normal.
Bupati Aceh Timur, Iskandar Usman Al-Farlaky, menilai dukungan dunia usaha selama masa tanggap darurat hingga pemulihan memberikan kontribusi penting dalam mempercepat penanganan dampak bencana.
Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, perusahaan, dan masyarakat menjadi salah satu faktor yang membantu membuka kembali akses wilayah yang sempat terisolasi serta mempercepat distribusi bantuan kepada warga.
Memasuki musim kemarau, masyarakat berharap kondisi sumber air bersih dapat terus membaik. Pengalaman menghadapi banjir besar tahun lalu menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan dan kerja sama berbagai pihak dalam memastikan kebutuhan dasar masyarakat, terutama akses terhadap air bersih, tetap terpenuhi di tengah potensi bencana maupun perubahan musim.
