Sepekan Aceh: Banjir, Gempa hingga 46,6 Kg Sabu Warnai Berita Penting dan Viral
ACEHSATU.COM | BANDA ACEH – Sejumlah peristiwa penting menyita perhatian masyarakat Aceh dalam sepekan terakhir. Mulai dari bencana hidrometeorologi, gempa bumi, pengungkapan puluhan kilogram narkotika hingga peristiwa satwa laut terdampar menjadi topik yang ramai diperbincangkan dan memiliki dampak langsung terhadap masyarakat.
Salah satu peristiwa yang mendapat perhatian adalah banjir yang kembali melanda Aceh Tenggara. Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) melaporkan banjir merendam 13 desa yang tersebar di tujuh kecamatan. Sementara di Aceh Tengah, banjir dan tanah longsor juga dilaporkan melanda sejumlah kecamatan serta menyebabkan sebuah jembatan gantung hanyut.
Ancaman cuaca juga masih perlu diwaspadai. BMKG dalam prakiraan periode 29 September hingga 5 Oktober 2026 menyebut sejumlah dinamika atmosfer masih dapat mendukung terjadinya hujan signifikan di beberapa wilayah Indonesia.
Selain bencana, masyarakat Aceh pada Senin malam (28/9/2026) dikejutkan oleh gempa bumi magnitudo 4,5 yang berpusat di sekitar perairan Sabang. Gempa dilaporkan terjadi pada pukul 21.43 WIB dengan pusat di laut sekitar 127 kilometer barat daya Kota Sabang pada kedalaman 10 kilometer. Getarannya dirasakan hingga Banda Aceh dan Aceh Besar.
Di sektor penegakan hukum, pengungkapan 46,6 kilogram sabu di Langsa menjadi salah satu kasus besar dalam sepekan terakhir. Polres Langsa bersama Bea Cukai Langsa mengungkap peredaran narkotika tersebut dan mengamankan seorang tersangka. Polisi menyebut sabu itu diduga berkaitan dengan jaringan lintas negara dari Malaysia.
Peristiwa lain yang menyita perhatian publik terjadi di Aceh Barat Daya (Abdya). Seekor satwa laut berukuran besar yang diberitakan sebagai hiu paus terdampar di kawasan Kuala Batee. Warga sempat bergotong royong berusaha mengembalikan satwa tersebut ke laut, namun upaya penyelamatan tidak berhasil hingga satwa itu akhirnya mati.
Dunia pendidikan Aceh juga mendapat perhatian setelah seorang taruna Politeknik Pelayaran Malahayati Aceh berusia 18 tahun meninggal dunia. Hingga pemberitaan terbaru, penyebab kematian masih menunggu hasil pemeriksaan forensik. Karena proses pemeriksaan masih berlangsung, penyebab kematian belum dapat disimpulkan.
Sementara itu, dunia pers Aceh berduka atas meninggalnya H. Sjamsul Kahar, salah seorang tokoh pers Aceh dan pendiri Harian Serambi Indonesia, pada 24 September 2026. Kepergiannya mendapat perhatian luas dari kalangan pers, pemerintah dan masyarakat.
Isu sosial juga muncul setelah sebuah kasus perundungan atau bullying di salah satu sekolah di Banda Aceh ramai diperbincangkan di media sosial. Kasus tersebut kemudian diberitakan telah diselesaikan secara damai. Peristiwa itu kembali menjadi pengingat mengenai pentingnya pencegahan kekerasan dan perundungan di lingkungan pendidikan.
Di sektor ekonomi, pergerakan harga emas di Banda Aceh turut menjadi perhatian masyarakat. Pada 28 September 2026, harga emas diberitakan berada di kisaran Rp7,55 juta per mayam. Perubahan harga emas menjadi informasi yang cukup banyak dicari masyarakat Aceh, terutama karena emas masih banyak digunakan sebagai instrumen simpanan dan kebutuhan adat.
Rangkaian peristiwa selama sepekan tersebut menunjukkan isu bencana dan keselamatan masyarakat, narkotika, kriminalitas, pendidikan, hingga ekonomi masih mendominasi perhatian publik di Aceh.
Memasuki akhir September 2026, masyarakat khususnya yang berada di daerah rawan bencana dan wilayah pesisir juga diimbau terus mengikuti informasi resmi mengenai perkembangan cuaca, gempa bumi maupun peringatan dini dari instansi terkait.
