WWF-Indonesia Gandeng Jerhemy Owen Tanam 250 Ribu Bibit Pohon untuk Pulihkan Lanskap Peusangan di Aceh

Ringkasan Berita:

  • WWF-Indonesia dan Jerhemy Owen meluncurkan gerakan penanaman 250.000 bibit pohon di Lanskap DAS Peusangan, Aceh, sebagai bagian dari Program Peusangan Elephant Conservation Initiative (PECI).
  • Sebanyak 2.000 bibit ditanam pada tahap awal di kawasan Conservation Response Unit (CRU) DAS Peusangan, sementara sisanya akan didistribusikan secara bertahap ke tujuh desa di Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Bireuen.
  • Program ini menggabungkan konservasi dan pemberdayaan ekonomi masyarakat, melalui penanaman tanaman produktif seperti kopi, kakao, durian, alpukat, kemiri, petai, dan jeruk untuk mendukung sistem agroforestri.
  • Pemulihan habitat Gajah Sumatra menjadi salah satu fokus utama, dengan penanaman tanaman pionir, bambu, legum, dan tanaman pakan gajah di kawasan yang mengalami kerusakan ekologis.
  • Program PECI merupakan kolaborasi lintas sektor yang melibatkan pemerintah, masyarakat, akademisi, sektor swasta, dan mitra internasional untuk mewujudkan koeksistensi yang berkelanjutan antara manusia dan Gajah Sumatra di Lanskap Peusangan.

BENER MERIAH | ACEHSATU.COM – Upaya memulihkan kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Peusangan di Aceh terus diperkuat melalui kolaborasi antara WWF-Indonesia dan kreator konten Jerhemy Owen. Melalui gerakan Wenanam, keduanya menargetkan penanaman 250.000 bibit pohon yang akan dilakukan secara bertahap di sejumlah desa dalam Lanskap Peusangan.

 

Sponsored

Program tersebut menjadi bagian dari Peusangan Elephant Conservation Initiative (PECI), sebuah inisiatif yang mengintegrasikan pemulihan lingkungan, penguatan ekonomi masyarakat, serta pelestarian habitat Gajah Sumatra di Kabupaten Bener Meriah, Aceh Tengah, dan Bireuen.

 

Penanaman perdana dilaksanakan di kawasan Conservation Response Unit (CRU) DAS Peusangan pada Sabtu (18/7/2026). Sebanyak 2.000 bibit pohon ditanam bersama masyarakat, relawan, komunitas lingkungan, pemerintah daerah, hingga sejumlah kreator konten sebagai simbol dimulainya gerakan restorasi bentang alam tersebut.

 

Selanjutnya, ratusan ribu bibit lainnya akan disalurkan secara bertahap kepada masyarakat di tujuh desa, yakni Alur Cincin, Alur Gading, Blang Ara, Musara Pakat, Negeri Antara, Simpang Lancang, dan Salah Siron Jaya.

 

Direktur Konservasi WWF-Indonesia, Dewi Lestari Yani Rizki, mengatakan upaya menjaga kelestarian satwa liar harus berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat yang hidup di kawasan tersebut.

 

Menurutnya, pemulihan habitat gajah tidak akan berhasil apabila masyarakat di sekitar kawasan konservasi masih menghadapi persoalan ekonomi dan kehilangan sumber mata pencaharian.

 

“Konservasi harus mampu memberikan manfaat bagi alam sekaligus masyarakat. Pemulihan habitat dan penguatan ekonomi warga merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan dalam mewujudkan koeksistensi manusia dan gajah,” ujarnya.

 

Ia menambahkan, kolaborasi dengan Wenanam menunjukkan bahwa dukungan publik dapat diubah menjadi aksi konservasi yang terencana dan berbasis kebutuhan ekologis di lapangan.

Restorasi Disesuaikan dengan Kondisi Kawasan

Melalui Program PECI, setiap lokasi penanaman akan mendapatkan jenis tanaman yang berbeda sesuai karakteristik wilayahnya.

 

Di lahan milik masyarakat, bibit yang disalurkan didominasi tanaman produktif seperti kopi, kakao, durian, alpukat, kemiri, petai, dan jeruk. Tanaman tersebut diharapkan mampu menghidupkan kembali sektor agroforestri sekaligus menjadi sumber pendapatan baru bagi warga yang terdampak bencana.

 

Sementara itu, di kawasan sempadan sungai yang mengalami kerusakan, penanaman difokuskan pada tanaman pionir, bambu, tanaman legum, serta tanaman pakan gajah. Vegetasi tersebut dipilih untuk memperbaiki kualitas tanah, memulihkan ekosistem, dan mendukung terbentuknya penghalang alami bagi pergerakan satwa.

 

Pendekatan tersebut dinilai lebih efektif dibanding sekadar melakukan penghijauan tanpa mempertimbangkan fungsi ekologis maupun kebutuhan masyarakat.

Mengajak Publik Terlibat Langsung

Jerhemy Owen mengatakan Wenanam lahir dari keinginan mengajak masyarakat berkontribusi langsung dalam pemulihan lingkungan.

 

Ia menilai penanaman pohon bukan hanya soal jumlah bibit yang ditanam, melainkan juga tentang membangun kembali kehidupan masyarakat yang kehilangan lahan, memperbaiki habitat satwa liar, serta menciptakan hubungan yang lebih harmonis antara manusia dan gajah.

 

“Saya berharap Wenanam menjadi gerakan bersama masyarakat Indonesia. Yang menanam bukan hanya saya, tetapi seluruh masyarakat yang ingin berkontribusi menjaga lingkungan,” katanya.

Libatkan Banyak Mitra

Program PECI dikembangkan melalui kolaborasi lintas sektor yang melibatkan Kementerian Kehutanan, Pemerintah Provinsi Aceh, Pemerintah Kabupaten Bener Meriah, Aceh Tengah, dan Bireuen, PT Tusam Hutan Lestari, Forum Kolaborasi PECI, akademisi, masyarakat lokal, serta berbagai mitra pembangunan.

 

Dukungan juga datang dari Pemerintah Inggris melalui Foreign, Commonwealth & Development Office (FCDO), HSBC Indonesia, Arei Outdoor Gear, Eastspring Investments Indonesia, Tencent, Kitabisa, dan Mantappu Corp yang turut memperkuat pelaksanaan program melalui pendanaan, kampanye publik, serta pelibatan relawan.

 

Melalui penanaman 250.000 bibit pohon tersebut, WWF-Indonesia berharap upaya restorasi di Lanskap Peusangan tidak hanya meningkatkan kualitas lingkungan, tetapi juga memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat sekaligus menjaga keberlangsungan habitat Gajah Sumatra sehingga tercipta kehidupan yang lebih seimbang antara manusia dan satwa liar.***

Baca Juga