KIP Lhokseumawe Bekali Pelajar Jadi Pemilih Cerdas

Ringkasan Berita:

  • Komisi Independen Pemilihan (KIP) Kota Lhokseumawe terus memperkuat pendidikan pemilih bagi generasi muda melalui sosialisasi kepemiluan kepada pemilih pemula di sejumlah sekolah.
  • Kedatangan KIP Kota Lhokseumawe disambut Siti Anjarwati, S.E., M.Pd., yang mewakili Kepala Sekolah, bersama Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Muhammad, S.T.
  • 43.010 pemilih masuk kelompok Generasi Z atau mereka yang lahir pada rentang 1997–2012.

ACEHSATU.COM | LHOKSEUMAWE – Komisi Independen Pemilihan (KIP) Kota Lhokseumawe terus memperkuat pendidikan pemilih bagi generasi muda melalui sosialisasi kepemiluan kepada pemilih pemula di sejumlah sekolah.

Kegiatan yang telah berlangsung sejak sepekan terakhir itu kali ini menyasar siswa SMK Negeri 1 Lhokseumawe, Jumat, 25 September 2026.

Sponsored

Sosialisasi tersebut berlangsung di halaman SMK Negeri 1 Lhokseumawe, Jalan Pramuka No. 74, Gampong Hagu Teungoh, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe.

Kedatangan KIP Kota Lhokseumawe disambut Siti Anjarwati, S.E., M.Pd., yang mewakili Kepala Sekolah, bersama Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Muhammad, S.T.

Kegiatan diikuti seluruh siswa kelas X hingga kelas XII yang jumlahnya mencapai sekitar seribuan siswa.

Para siswa mengikuti sosialisasi setelah melaksanakan kegiatan rutin Jumat pagi berupa pembacaan Surah Yasin, salawat, dan doa bersama.

Komisioner KIP Kota Lhokseumawe, Zainal Bakri, S.Sos., M.Kom.I., yang menjadi narasumber dalam kegiatan tersebut mengatakan, sosialisasi pemilih pemula merupakan bagian dari upaya membangun pemilih yang memahami hak dan kewajiban serta proses demokrasi sejak pertama kali menggunakan hak pilih.

“Kami ingin anak-anak atau siswa sekolah menengah atas di Kota Lhokseumawe menjadi lebih cerdas, lebih memahami demokrasi dan proses pemilihan sejak awal sebelum nanti mereka datang ke tempat pemungutan suara untuk memberikan hak politiknya,” kata Zainal Bakri.

Menurut Zainal, pendidikan pemilih tidak cukup hanya diberikan ketika tahapan pemilu berlangsung.

Pemahaman mengenai demokrasi dan kepemiluan perlu dibangun sejak seseorang mulai memenuhi syarat sebagai pemilih.

“Karena mereka ini adalah pemilih pemula, maka kita ingin memberikan pemahaman sejak awal.

Mereka harus tahu bahwa memilih itu bukan sekadar datang ke TPS, tetapi ada proses dan tanggung jawab yang harus dipahami,” ujarnya.

Zainal mengatakan, generasi muda juga perlu memiliki kemampuan untuk menyaring informasi yang mereka terima, terutama melalui media sosial.

Perkembangan teknologi membuat informasi mengenai politik dan kepemiluan dapat diterima dengan cepat, tetapi tidak seluruh informasi tersebut dapat langsung dipercaya.

“Anak-anak sekarang sangat dekat dengan media sosial. Karena itu, mereka harus mampu membedakan mana informasi yang benar dan mana yang tidak.

Jangan sampai informasi yang belum jelas kebenarannya justru memengaruhi cara mereka memahami pemilu,” katanya.

Sosialisasi tersebut menjadi semakin relevan jika melihat komposisi pemilih di Kota Lhokseumawe.

Berdasarkan Rekapitulasi Pemilih Berdasarkan Usia hasil Pemutakhiran Data Pemilih Berkelanjutan (PDPB) Triwulan II Tahun 2026, jumlah pemilih di Kota Lhokseumawe mencapai 141.596 jiwa.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 43.010 pemilih masuk kelompok Generasi Z atau mereka yang lahir pada rentang 1997–2012.

Jumlah itu terdiri atas 21.939 pemilih laki-laki dan 21.071 pemilih perempuan.

Sementara Generasi Y atau milenial yang lahir pada 1981–1996 menjadi kelompok terbesar dengan 46.949 pemilih, terdiri atas 22.874 laki-laki dan 24.075 perempuan.

Jika Gen Z dan Gen Y digabungkan, jumlahnya mencapai 89.959 pemilih atau sekitar 63,53 persen dari keseluruhan pemilih Kota Lhokseumawe.

Data tersebut menunjukkan besarnya porsi generasi muda dan dewasa dalam struktur pemilih Kota Lhokseumawe.

Gen Z sendiri menjadi salah satu kelompok penting yang perlu mendapat perhatian dalam pendidikan pemilih, khususnya mereka yang baru pertama kali menggunakan hak pilih.

“Data kita menunjukkan Gen Z memiliki jumlah yang cukup besar.

Karena itu, pendidikan pemilih kepada generasi ini harus terus dilakukan, termasuk melalui sekolah.

Kita ingin mereka tidak hanya menjadi pemilih secara administratif, tetapi juga memahami proses demokrasi,” kata Zainal.

Selain Gen Z dan Gen Y, data PDPB Triwulan II Tahun 2026 mencatat Generasi X sebanyak 35.154 pemilih, Baby Boomers 14.907 pemilih, serta Pre Boomers sebanyak 2.687 pemilih.

Baca Juga