ACEH UTARA| ACEHSATU.COM — Wartawan Beritamerdeka.net Haiqal Alfikri mengungkap kronologi dugaan penganiayaan yang dialaminya saat terjadi kericuhan dalam pertandingan sepak bola di Kecamatan Tanah Luas, Aceh Utara.
Haiqal membantah keterangan yang menyebut dirinya menjadi bagian dari upaya anggota TNI untuk melerai kericuhan. Menurut pengakuannya, ia justru mengalami tindakan kekerasan setelah turun ke lapangan untuk menjalankan tugas jurnalistik.
Sebelum kericuhan terjadi, Haiqal mengaku berada di tribun bagian belakang bersama seorang personel Polsek Tanah Luas. Ia mengatakan masih menyaksikan selebrasi salah seorang pemain bernomor punggung 18 dari kesebelasan Trieng yang menurutnya mengarah pada ejekan dan gestur provokatif setelah wasit meniup peluit akhir pertandingan.
Ketika kericuhan mulai terjadi, Haiqal kemudian turun ke lapangan untuk mengambil dokumentasi.
“Saya turun ke lapangan untuk mengambil dokumentasi. Ketika ada yang merongrong saya, saya hendak menjelaskan kapasitas saya sebagai wartawan. Dalam kondisi ramai, saya memang merespons dengan nada tinggi,” ujar Haiqal, Jumat (28/8/2026).
Haiqal mengatakan situasi kemudian berubah ketika dirinya terlibat aksi dorong. Menurut dia, seorang anggota TNI tiba-tiba memitingnya dari belakang.
“Saya dipiting dari belakang. Kemudian ada anggota lain yang melakukan penganiayaan. Alhamdulillah, ada anggota Polsek Tanah Luas yang langsung melindungi saya dan berteriak agar tindakan tersebut dihentikan,” katanya.
Haiqal menegaskan bahwa berdasarkan apa yang dialaminya, tindakan tersebut bukan merupakan upaya peleraian terhadap dirinya.
Haiqal Bantah Diamankan Polisi
Haiqal juga membantah informasi yang menyebut dirinya diamankan oleh personel Polsek Tanah Luas setelah kejadian.
“Saya tidak diamankan. Saya sendiri yang berlari ke Polsek karena kendaraan saya memang biasa saya parkir di sana ketika menonton pertandingan sepak bola,” jelasnya.
Ia juga mempertanyakan alasan dirinya menjadi sasaran ketika kericuhan sudah lebih dahulu terjadi di lokasi.
“Mereka datang dari arah yang cukup jauh dan langsung mengarah kepada saya. Pertanyaannya sederhana, kalau memang tujuan mereka melerai kericuhan, mengapa justru saya yang didatangi dan dipiting?” ujarnya.
Menurut Haiqal, setelah dilerai oleh personel Polsek, salah seorang anggota TNI yang disebutnya bernama Sertu Hendra masih menunjukkan gestur yang menurutnya menantang.
“Saya melihat matanya masih melotot dan gesturnya seperti menantang. Itu yang saya rasakan langsung di lokasi,” katanya.
Haiqal mengaku sebelum insiden tersebut dirinya beberapa kali merasakan sikap sinis dari Sertu H ketika keduanya berpapasan. Namun, ia mengatakan tidak mengetahui secara pasti apa yang menjadi penyebabnya.
Mengalami Nyeri pada Bagian Rusuk
Setelah kejadian, Haiqal mengaku merasakan nyeri pada bagian rusuk. Ia menyebut hingga kini masih menjalani observasi medis untuk mengetahui perkembangan kondisinya.
“Saya masih merasakan nyeri pada bagian rusuk dan saat ini masih menjalani observasi medis,” ujarnya.
Haiqal berharap kejadian yang dialaminya dapat diperiksa secara objektif berdasarkan fakta dan keterangan para saksi di lokasi.
PWI Soroti Keterangan Danramil
Sementara itu, Ketua PWI Lhokseumawe, Sayuti Achmad, mengecam keterangan yang disampaikan Muspika Tanah Luas melalui Danramil 10 Tanah Luas terkait insiden tersebut.
Sayuti menilai keterangan tersebut perlu diuji dengan fakta lapangan dan meminta agar persoalan dugaan kekerasan terhadap wartawan tidak ditarik ke dalam narasi yang dapat mengaburkan kejadian sebenarnya.
“Kami sudah melakukan investigasi. Fakta yang kami temukan di lapangan tidak seperti yang disampaikan Danramil. Jangan menggunakan cara-cara lama dengan membangun kontraopini ketika persoalan menyangkut dugaan kekerasan terhadap wartawan,” tegas Sayuti.
Menurut Sayuti, PWI Lhokseumawe telah membentuk tim investigasi untuk menelusuri informasi terkait kejadian tersebut, termasuk kemungkinan adanya kaitan dengan aktivitas jurnalistik Haiqal sebelumnya.
Sayuti mengatakan Haiqal selama ini aktif melakukan peliputan mengenai sejumlah persoalan di Kecamatan Tanah Luas, termasuk pemberitaan terkait dugaan penggelapan dana kegiatan 17 Agustus.
“Kami menemukan banyak pihak yang merasa risih dengan kehadiran Haiqal karena pemberitaannya kritis. Karena itu, kami melihat kejadian ini perlu diperiksa secara serius. Jangan sampai kericuhan dijadikan kesempatan untuk melakukan tindakan terhadap wartawan,” kata Sayuti.
PWI Siapkan Langkah Hukum
Sayuti mengatakan PWI Lhokseumawe masih menunggu perkembangan kondisi kesehatan Haiqal sebelum mengambil langkah hukum.
Menurutnya, PWI berencana melaporkan dua anggota TNI yang diduga terlibat dalam insiden tersebut ke Polisi Militer setelah kondisi Haiqal memungkinkan.
“Kami sedang menunggu pemulihan Haiqal. Setelah itu, kami akan menempuh jalur hukum. Kami juga sudah berkoordinasi dengan sejumlah pihak, termasuk PWI Aceh dan Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA), dan mereka siap memberikan dukungan agar persoalan ini diproses secara hukum,” ujar Sayuti.
Ia menegaskan, persoalan tersebut tidak hanya menyangkut Haiqal secara pribadi, tetapi juga berkaitan dengan perlindungan terhadap wartawan ketika menjalankan tugas jurnalistik.***