Dua Bulan Pascabanjir, Tanggul Sub DI Monsukon Masih Rusak Parah, Ribuan Hektare Sawah Terancam Gagal Tanam

ACEH UTARA | ACEHSATU.COM — Dua bulan pascabanjir bandang yang terjadi pada 26 November 2025, tanggul Saluran Irigasi Sub Daerah Irigasi (Sub DI) Monsukon di Desa Buket Dara Baro dan Desa Ujong Dama, Kecamatan Baktiya, Kabupaten Aceh Utara, hingga kini masih mengalami kerusakan parah dan belum diperbaiki. Kondisi tersebut menyebabkan terhentinya aliran air irigasi ke lahan pertanian warga.

 

Berdasarkan pantauan Acehsatu.com di lapangan pada Minggu (8/2/2026), sedikitnya terdapat empat titik tanggul dan saluran irigasi Sub DI Monsukon yang mengalami kerusakan berat. Struktur tanggul terputus dan tergerus derasnya arus banjir, sehingga air irigasi tidak lagi mengalir ke persawahan warga.

Sponsored

 

Sub Daerah Irigasi (Sub DI) Monsukon diketahui memiliki peran vital karena mengairi ribuan hektare lahan persawahan milik warga di Kemukiman Matang Linya, Kecamatan Baktiya, serta sejumlah wilayah di Kecamatan Baktiya Barat. Terputusnya aliran irigasi ini berdampak langsung terhadap keberlangsungan pertanian dan ketahanan ekonomi masyarakat setempat.

 

Selain merusak infrastruktur irigasi, banjir bandang tersebut juga menyebabkan ratusan hektare sawah warga tergenang dan tertutup sedimen lumpur dengan ketebalan sekitar 20 hingga 50 sentimeter. Hingga kini, sebagian besar lahan pertanian tersebut belum dapat kembali diolah.

Petani Kehilangan Mata Pencaharian

Seorang warga Desa Buket Dara Baro mengatakan, sejak banjir dan rusaknya tanggul irigasi, aktivitas pertanian di wilayah tersebut praktis terhenti. Petani tidak dapat mengolah sawah karena lumpur masih menutupi lahan dan suplai air irigasi terputus.

 

“Sudah lebih dua bulan sawah tidak bisa ditanami. Irigasi rusak, lumpur masih tebal. Sampai sekarang belum ada perbaikan,” ujarnya.

 

Warga juga menyebutkan bahwa program padat karya yang sebelumnya diinformasikan akan dilaksanakan sebagai bagian dari penanganan pascabanjir hingga kini belum berjalan. Akibatnya, masyarakat belum memiliki sumber penghasilan alternatif.

 

Bendungan Jambo Aye Beroperasi, SUB DI Monsukon Masih Terisolasi

 

Sementara itu, Bendungan Jambo Aye di Kecamatan Langkahan telah kembali dioperasikan setelah sempat terdampak banjir bandang yang melanda 18 kabupaten/kota di Provinsi Aceh pada 26 Desember 2025. Pengoperasian kembali bendungan tersebut ditandai dengan pelepasan air pada Sabtu (31/1/2026).

 

Ketua Unit Pengelola Irigasi (UPI) Jambo Aye, Setia Budi, mengatakan bahwa pada tahap uji coba, air telah berhasil dialirkan ke Sub DI Pantonlabu.

 

“Lebih dari 5.525 hektare lahan sawah di Sub DI Pantonlabu sudah mendapatkan suplai air. Untuk Sub DI Lhoksukon, Lueng Baro, dan Arakundo juga sedang diupayakan,” kata Setia Budi.

 

Namun demikian, ia mengakui bahwa kerusakan paling parah masih terjadi di Sub DI Monsukon.

 

“Abrasi tanggul di SUB DI Monsukon paling berat, sehingga sampai sekarang wilayah tersebut belum bisa dialiri air dari Bendungan Jambo Aye,” ujarnya.

 

Menurutnya, Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera I terus mengintensifkan upaya perbaikan tanggul dan saluran irigasi agar Sub DI Monsukon dapat segera kembali difungsikan.

 

Bendungan Jambo Aye yang dikelola BWS Sumatera I memiliki peran strategis dalam mengatur aliran Sungai Jambo Aye serta menopang sistem irigasi pertanian di Kabupaten Aceh Utara dan Aceh Timur. Hingga kini, warga Monsukon masih berharap perbaikan segera dilakukan agar mereka tidak kembali kehilangan musim tanam berikutnya. (*)

Baca Juga