BPMA Realisasikan Lifting Perdana 45 Ribu Barel Minyak Medco Malaka

Ringkasan Berita:

  • Realisasi Lifting Perdana: BPMA berhasil melaksanakan pengapalan (lifting) perdana minyak milik PT Medco E&P Malaka sebanyak kurang lebih 45.000 barel melalui terminal SPM Pangkalan Susu, Sumatera Utara.
  • Solusi Jalur Alternatif: Penggunaan terminal Pangkalan Susu merupakan jalur alternatif untuk memastikan produksi tetap terserap setelah adanya gangguan fasilitas di Terminal Arun akibat bencana alam dan kendala teknis.
  • Sinergi Antaroperator: Keberhasilan ini didukung oleh perjanjian berbagi fasilitas (Facility Sharing Agreement) antara Pertamina EP Pangkalan Susu dan Medco E&P Malaka sebagai bentuk fleksibilitas operasional.
  • Ketahanan Energi Nasional: Capaian ini menjadi langkah strategis untuk menjaga pasokan energi nasional dan membuktikan ketangguhan sektor hulu migas Aceh di tengah ketidakpastian pasar serta krisis minyak global.

BANDA ACEH — Di tengah tekanan krisis minyak global, Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) berhasil merealisasikan lifting perdana minyak milik PT Medco E&P Malaka sebesar sekitar 45.000 barel melalui terminal SPM Pangkalan Susu, Sumatera Utara.

Capaian ini menjadi langkah strategis dalam menjaga keberlanjutan pasokan energi nasional di tengah ketidakpastian pasar global.

Sponsored

Lifting tersebut merupakan bagian dari upaya percepatan pemulihan operasional sektor hulu migas di Aceh, khususnya pasca gangguan yang terjadi akibat bencana banjir dan longsor serta kendala fasilitas di Terminal Arun.

Proses pengapalan dilakukan sebagai solusi alternatif agar produksi tetap terserap dan tidak mengganggu target lifting yang telah ditetapkan.

Kepala Divisi Operasi Produksi BPMA, Ibnu Hafizh, menjelaskan bahwa keberhasilan ini tidak terlepas dari kesiapan skema komersial dan operasional yang telah disusun sebelumnya, termasuk kerja sama antaroperator.

“Pengapalan melalui Pangkalan Susu dapat terlaksana berkat adanya perjanjian Facility Sharing Agreement (FSA) antara Pertamina EP Pangkalan Susu dan Medco E&P Malaka. Ini menjadi solusi penting di tengah keterbatasan fasilitas, terutama pasca terganggunya operasional di Terminal Arun,” ujar Ibnu Hafizh di Banda Aceh, Selasa (14/4/2026).

Ia menambahkan, skema alternatif ini menjadi bukti fleksibilitas industri hulu migas dalam merespons berbagai tantangan, baik dari sisi infrastruktur maupun kondisi eksternal.

Sementara itu, Deputi Operasi BPMA, Muhammad Mulyawan, menilai capaian tersebut menunjukkan ketangguhan sektor migas Aceh dalam menghadapi tekanan global dan domestik.

“Di tengah dinamika geopolitik dunia yang berdampak pada pasokan energi, keberhasilan lifting ini menjadi indikator bahwa operasional hulu migas di Aceh tetap berjalan dan mampu beradaptasi,” katanya.

Menurutnya, upaya mencari jalur distribusi alternatif seperti melalui Pangkalan Susu merupakan langkah strategis untuk menjaga kesinambungan produksi, sekaligus memastikan kontribusi sektor migas terhadap ketahanan energi nasional tetap terjaga.

BPMA menegaskan akan terus memperkuat sinergi dengan para Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS), baik dari sisi teknis maupun komersial, guna memastikan kegiatan produksi dan lifting tetap optimal di tengah berbagai tantangan yang ada.

Ke depan, diversifikasi jalur distribusi dan penguatan infrastruktur menjadi fokus utama agar sektor migas Aceh semakin tangguh, adaptif, dan mampu menopang kebutuhan energi nasional secara berkelanjutan. ***

Baca Juga