BANDA ACEH – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda Aceh mendeteksi sebanyak 75 titik panas di wilayah Aceh berdasarkan pemantauan satelit.
Titik panas tersebut terpantau melalui sensor MODIS dari satelit Terra Satellite, Aqua Satellite, dan Suomi NPP, serta sensor VIIRS dari satelit NOAA-20. Tingginya jumlah titik panas tersebut menjadi indikasi meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Prakirawan cuaca BMKG SIM Aceh, Fitriana Nur, mengatakan kondisi atmosfer di Aceh saat ini masih cukup kering sehingga masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan.
Ia juga mengimbau pemerintah daerah bersama para pemangku kepentingan menyiapkan mekanisme respons cepat guna meningkatkan kesiapsiagaan, khususnya di sektor kehutanan, untuk mencegah terjadinya karhutla.
“Pemerintah daerah bersama para pemangku kepentingan juga diminta menyiapkan mekanisme respons cepat guna meningkatkan kesiapsiagaan, khususnya di sektor kehutanan,” ujarnya.
Selain itu, indeks sinar ultraviolet (UV) di wilayah Aceh diprakirakan berada pada kategori tinggi hingga pukul 15.00 WIB. Masyarakat diminta membatasi aktivitas di bawah paparan sinar matahari langsung pada jam-jam tersebut.
“Untuk kondisi angin, kecepatannya masih berada dalam kategori normal dengan kisaran hingga 20 kilometer per jam,” katanya.
BMKG juga memprakirakan kondisi cuaca di Aceh pada hari ini bervariasi, mulai dari cerah berawan hingga berpotensi hujan dengan intensitas sedang di sejumlah wilayah.
“Secara umum, sebagian besar wilayah Aceh diprakirakan cerah berawan hingga berawan. Sementara potensi hujan ringan hingga sedang diperkirakan terjadi di wilayah pesisir barat Aceh, termasuk Aceh Tenggara dan Gayo Lues,” ujarnya. ***
