Ketua PWNU Aceh: Pengalaman Gus Rozin Teruji, Siap Pimpin PBNU

Ketua PWNU Aceh: Pengalaman Gus Rozin Teruji, Siap Pimpin PBNU

ACEHSATU.COM | BANDA ACEH — Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Aceh Tengku Haji Faisal Ali menilai kapasitas, pengalaman, dan kepiawaian KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin dalam memimpin organisasi telah teruji. Menurutnya, pengalaman panjang tersebut menjadi bekal penting bagi Gus Rozin untuk mengemban tanggung jawab yang lebih besar di tingkat nasional.

Hal itu disampaikan Tengku Haji Faisal Ali dalam acara silaturahim Gus Rozin bersama PWNU dan PCNU se-Aceh, Rabu (19/8/2026). “Perjuangan yang berada di bawah komando Gus Rozin tentu tidak perlu lagi diragukan. Kapasitas, pengalaman, serta kepiawaian beliau dalam memimpin organisasi telah teruji dalam berbagai situasi,” kata Faisal dalam pertemuan tersebut.

Sponsored

Menurut Faisal, Gus Rozin tidak hanya memiliki kemampuan dalam mengelola organisasi, tetapi juga merupakan tokoh yang selama ini turut berada di garda terdepan dalam membentengi pesantren dari berbagai upaya dan pengaruh yang berpotensi merusak nilai, tradisi, serta keberlangsungan pesantren.

Faisal juga menyinggung keputusan Gus Rozin untuk berikhtiar sebagai calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Menurutnya, keputusan tersebut diambil setelah melalui proses istikharah dan pertimbangan yang matang. “Kurang lebih tiga bulan yang lalu, setelah melakukan istikharah dan pertimbangan yang matang, beliau memutuskan untuk berikhtiar dengan mengajukan diri sebagai calon Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama,” ujarnya.

Ia menilai pencalonan Gus Rozin bukan sekadar langkah untuk menduduki jabatan organisasi, melainkan bentuk kesediaan untuk mengabdikan diri dan mengambil tanggung jawab yang lebih besar bagi kemajuan organisasi dan umat.

Jejak Panjang di Organisasi NU

Pengalaman Gus Rozin di lingkungan Nahdlatul Ulama telah berlangsung selama lebih dari dua dekade. Ia tercatat pernah menjadi Pengurus Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) periode 1998–2001, kemudian menjadi Pengurus Pusat GP Ansor periode 2000–2004.

Pengabdian tersebut berlanjut di sejumlah lembaga dan struktur NU. Gus Rozin pernah menjabat Wakil Ketua LP Ma’arif PBNU periode 2010–2013, kemudian Ketua RMI NU Jawa Tengah periode 2013–2015, dan selanjutnya dipercaya sebagai Ketua RMI PBNU periode 2015–2021.

Pada periode 2019–2024, Gus Rozin juga tercatat sebagai Mustasyar PCNU Kabupaten Pati. Selanjutnya, ia dipercaya menjadi Katib Syuriah PBNU periode 2021–2023. Sejak 2024 hingga 2029, Gus Rozin mengemban amanah sebagai Ketua PWNU Jawa Tengah.

Rekam jejak tersebut menunjukkan perjalanan Gus Rozin yang cukup panjang di berbagai tingkatan dan bidang pengabdian NU, mulai dari organisasi kader, pendidikan, pesantren, hingga kepengurusan NU di tingkat wilayah dan pusat.

Tumbuh dan Ditempa di Lingkungan Pesantren

Selain pengalaman organisasi, Faisal menilai latar belakang Gus Rozin sebagai seorang yang tumbuh dan ditempa dalam tradisi pesantren menjadi modal penting dalam memahami persoalan Nahdlatul Ulama.

Sejak kecil, Gus Rozin tumbuh dalam lingkungan pesantren di bawah didikan langsung KH Sahal Mahfudh. Lingkungan tersebut turut membentuk karakter keilmuan, kesederhanaan, dan semangat pengabdian kepada umat yang menjadi bagian dari perjalanan Gus Rozin.

Gus Rozin juga memiliki keterhubungan dengan sejumlah pesantren besar di Indonesia. Ia berasal dari keluarga besar Pesantren Maslakul Huda, Kajen, merupakan bagian dari keluarga besar Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, sekaligus menantu dari keluarga besar Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri.

Latar belakang tersebut membuat pengalaman Gus Rozin bersentuhan dengan beragam tradisi pesantren dan lingkungan keilmuan. Jejak tersebut, selain membentuk pemahaman terhadap tradisi keilmuan pesantren, juga mempertemukannya dengan dinamika Nahdlatul Ulama dari berbagai lingkungan dan generasi.

Faisal mengatakan pengalaman Gus Rozin sebagai pimpinan pondok pesantren dengan jumlah santri mencapai ribuan juga menjadi modal penting. Pengalaman tersebut, kata dia, membuat Gus Rozin memiliki pemahaman langsung mengenai berbagai persoalan yang dihadapi pesantren.

“Pengalaman tersebut menjadi modal penting dalam memahami persoalan-persoalan yang dihadapi pesantren, khususnya dalam menghadapi tantangan pendidikan, pembinaan generasi muda, serta perkembangan zaman,” kata Faisal.

Pengalaman Pendidikan dan Jejaring Internasional

Selain pengalaman di dunia pesantren dan organisasi, Faisal turut menyoroti latar belakang pendidikan Gus Rozin yang pernah menempuh pendidikan di Australia. Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi salah satu bekal dalam membangun komunikasi dan jejaring yang lebih luas.

Ia juga menilai kemampuan Gus Rozin berkomunikasi dalam pergaulan global menjadi modal penting untuk membangun jejaring NU, baik di tingkat nasional maupun internasional. “Dengan demikian, kemampuan beliau dalam berkomunikasi, baik dalam bahasa Inggris maupun bahasa Arab, tentu tidak perlu diragukan lagi. Kemampuan tersebut menjadi salah satu bekal penting dalam membangun komunikasi dan jejaring yang lebih luas, baik di tingkat nasional maupun internasional,” ujarnya.

Dalam pertemuan bersama PWNU dan PCNU se-Aceh tersebut, Faisal berharap ikhtiar Gus Rozin dalam pencalonan Ketua Umum PBNU mendapatkan kemudahan dan keberkahan. “Semoga ikhtiar dan perjuangan beliau senantiasa mendapatkan kemudahan, keberkahan, serta petunjuk dari Allah SWT,” kata Tengku Haji Faisal Ali.

 

Baca Juga