Akademisi USK Sarankan Perusahaan Rokok di Aceh Lakukan Inovasi Produk

Berdasarkan survei, di Aceh saat ini ada 1,43 juta orang perokok aktif. Dan itu menjadi peluang bagi perusahaan rokok di Aceh memasarkan produknya.
Akademisi sarankan perusahaan rokok di Aceh lakukan inovasi produk
Dokumentasi - Petani merajang daun tembakau saat memasuki musim panen di Desa Lambeugak, Kecamatan Kuta Cot Glie, Kabupaten Aceh Besar, Aceh, Minggu (1/8/2021). ANTARA FOTO/Ampelsa

ACEHSATU.COM | Banda Aceh – M Ridha Siregar yang juga seorang Akademisi Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Syiah Kuala menyarankan perusahaan rokok di Aceh untuk melakukan inovasi terhadap produk, dalam merebut pasar di provinsi ujung barat Indonesia tersebut.

“Potensi pemasaran rokok dan hasil tembakau lainnya, Aceh menjanjikan. Namun, perusahaan rokok di Aceh harus berinovasi agar mampu bersaing dengan produk luar Aceh,” kata M Ridha Siregar di Banda Aceh.

Pernyataan tersebut disampaikan dosen Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Syiah Kuala Banda Aceh tersebut pada pembekalan strategi pemasaran produk hasil tembakau yang difasilitasi Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea Cukai Provinsi Aceh.

M Ridha mengatakan potensi pemasaran rokok dan hasil tembakau lainnya produksi lokal di Provinsi Aceh sangat menjanjikan.

Berdasarkan survei, di Aceh saat ini ada 1,43 juta orang perokok aktif. Dan itu menjadi peluang bagi perusahaan rokok di Aceh memasarkan produknya.

Namun tanpa inovasi produk, tentu rokok dan hasil tembakau lainnya produksi lokal sulit bersaing dengan produk-produk luar Aceh.

Apalagi produk rokok dan hasil tembakau lainnya produksi luar Aceh sudah sejak lama menguasai pasar di provinsi ujung barat Indonesia tersebut.

Inovasi produk, kata M Ridha Siregar, dilakukan dengan mempelajari segmen pasar serta membedakan kebiasaan konsumen.

Misalnya, konsumen di wilayah pesisir lebih menyukai rokok keretek. Sedangkan konsumen perkotaan lebih menyukai rokok yang sifatnya ringan.

“Inovasi harus terus dilakukan dengan meningkatkan cita rasa, sehingga rokok dan hasil tembakau lainnya produksi perusahaan lokal mampu bersaing di daerah sendiri. Apalagi tembakau Aceh termasuk kualitas baik,” kata M Ridha Siregar.

Selain inovasi, kata M Ridha Siregar, yang paling penting dilakukan adalah distribusi.

Bagaimana distribusi tersebut mampu menembus wilayah pedalaman maupun terisolasi.

Sebab, rokok yang belum atau baru dikenal lebih mudah dipasarkan di wilayah tersebut.

“Potensi pendapatan daerah dari rokok dan hasil tembakau lainnya di Aceh sangat menjanjikan.

Kalau ini digarap tentu menjadi peluang usaha menjanjikan. Apalagi di Aceh, baru ada delapan perusahaan memproduksi rokok dan hasil tembakau lainnya,” kata M Ridha Siregar.