ACEHSATU.COM – Setiap tahun, perguruan tinggi di Aceh melahirkan ribuan lulusan baru. Mereka datang membawa ijazah, pengetahuan, keterampilan, dan harapan untuk membangun masa depan di tanah kelahirannya sendiri.
Namun setelah toga dilepas, sebagian menghadapi pertanyaan yang jauh lebih sulit daripada ujian di ruang kuliah: setelah lulus, bekerja di mana?
Persoalan anak muda Aceh bukan semata-mata tentang kemampuan. Banyak generasi muda daerah ini memiliki pendidikan yang baik, menguasai teknologi, kreatif, serta mampu bersaing ketika memperoleh kesempatan.
Persoalannya adalah bagaimana Aceh menyediakan ekosistem yang membuat kemampuan tersebut dapat berkembang menjadi pekerjaan, usaha, inovasi, dan penghasilan.
Jangan Biarkan Pilihan Hanya PNS atau Pergi
Selama bertahun-tahun, pekerjaan sebagai aparatur pemerintah masih menjadi salah satu tujuan yang banyak diminati. Tidak ada yang keliru dengan pilihan tersebut.
Yang menjadi persoalan adalah ketika lapangan pekerjaan di luar sektor pemerintahan tidak berkembang cukup luas sehingga anak muda merasa pilihannya hanya dua: menunggu penerimaan ASN atau mencari masa depan di luar Aceh.
Aceh membutuhkan lebih banyak pilihan.
Industri kreatif, pertanian modern, perikanan, pariwisata, perdagangan digital, teknologi informasi, industri pengolahan hingga usaha kecil dan menengah seharusnya mampu menjadi ruang baru bagi generasi produktif.
Kekayaan sumber daya alam Aceh semestinya tidak berhenti sebagai komoditas yang keluar dari daerah. Nilai tambahnya perlu tumbuh di Aceh dan membuka pekerjaan di Aceh.
Anak Muda Jangan Hanya Dijadikan Peserta
Kita juga perlu mengevaluasi cara pembangunan kepemudaan dijalankan.
Terlalu mudah mengukur keberhasilan melalui jumlah seminar, pelatihan, seremoni, dan banyaknya peserta yang hadir. Padahal pertanyaan sesungguhnya adalah apa yang terjadi setelah kegiatan selesai.
Berapa peserta yang berhasil membangun usaha?
Berapa yang memperoleh pekerjaan?
Berapa produk yang berhasil masuk pasar?
Berapa usaha yang bertahan setelah satu atau dua tahun?
Itulah ukuran yang lebih berarti.
Anak muda tidak cukup hanya diundang menjadi peserta. Mereka perlu diberikan akses terhadap modal, pasar, teknologi, pendampingan dan jejaring usaha.
Potensi Besar Ada di Desa
Peluang juga tidak seluruhnya berada di Banda Aceh atau kota-kota besar.
Desa-desa di Aceh menyimpan potensi ekonomi yang sangat besar. Kopi, kakao, nilam, kelapa, pinang, padi, hasil laut dan berbagai komoditas lokal dapat dikembangkan dengan pendekatan baru.
Generasi muda dapat membawa teknologi ke sektor-sektor tersebut.
Petani muda tidak harus identik dengan pekerjaan tradisional. Pertanian hari ini dapat menggunakan data, pemasaran digital, mekanisasi, pengolahan produk hingga perdagangan lintas daerah dan negara.
Begitu pula nelayan dan pelaku UMKM.
Teknologi memungkinkan produk dari sebuah gampong di Aceh dikenal konsumen yang bahkan tidak pernah datang ke Aceh.
Tantangannya adalah membangun jalan agar peluang itu benar-benar dapat dimanfaatkan.
Pemerintah Harus Menjadi Pembuka Jalan
Pemerintah tidak mungkin menyediakan pekerjaan bagi seluruh lulusan. Namun pemerintah mempunyai peran besar dalam menciptakan iklim yang memungkinkan pekerjaan baru tumbuh.
Perizinan yang sederhana, kepastian berusaha, infrastruktur yang memadai, pendidikan yang sesuai kebutuhan dunia kerja, akses pembiayaan serta keberpihakan terhadap produk lokal merupakan bagian penting dari pekerjaan tersebut.
Perguruan tinggi juga tidak cukup hanya menghasilkan sarjana.
Kampus perlu semakin dekat dengan dunia usaha, industri dan persoalan nyata masyarakat sehingga mahasiswa tidak hanya dipersiapkan mencari pekerjaan, tetapi juga mampu menciptakan kegiatan ekonomi baru.
Sementara dunia usaha perlu diberikan ruang untuk tumbuh sekaligus didorong menyerap tenaga kerja lokal berdasarkan kemampuan dan profesionalitas.
Beri Mereka Kesempatan
Aceh mempunyai sumber daya alam. Aceh mempunyai perguruan tinggi. Aceh mempunyai dana pembangunan. Dan yang tidak kalah penting, Aceh mempunyai generasi muda.
Yang harus dipastikan adalah semua kekuatan tersebut saling bertemu.
Kita tentu ingin melihat semakin banyak anak Aceh sukses di Jakarta, Medan, Batam, Malaysia, Timur Tengah maupun berbagai belahan dunia lainnya.
Tetapi Aceh juga harus menjadi tempat yang memungkinkan mereka sukses tanpa harus meninggalkan kampung halaman karena tidak menemukan kesempatan.
Sebab pembangunan tidak cukup hanya menghadirkan jalan, gedung dan berbagai proyek fisik.
Pembangunan juga berarti menciptakan alasan bagi generasi terbaik Aceh untuk tetap tinggal, bekerja, berusaha, membangun keluarga dan menciptakan masa depan di daerahnya sendiri.
Aceh tidak kekurangan anak muda berbakat. Tantangannya adalah memastikan bakat itu mendapatkan kesempatan.
— Editorial ACEHSATU.COM
