Rusia Buka Peluang Kerja Sama Strategis dengan Indonesia, dari Kapal hingga Beasiswa
JAKARTA – Hubungan Indonesia dan Rusia memasuki babak baru dengan semakin luasnya kerja sama di berbagai sektor. Memasuki usia 76 tahun hubungan diplomatik kedua negara pada 2026, Rusia menyatakan komitmennya untuk terus memperkuat kemitraan dengan Indonesia.
Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Sergei Tolchenov, mengatakan hubungan bilateral kedua negara saat ini berada dalam kondisi baik. Menurutnya, kemitraan strategis yang telah disepakati para pemimpin kedua negara menjadi dasar untuk memperluas kerja sama.
“Hubungan ini masih tergolong muda, namun sangat menjanjikan,” ujar Sergei dalam wawancara khusus di Jakarta, Kamis, 18 Juni 2026.
Ia menyebut kerja sama Indonesia-Rusia kini tidak hanya bergerak di bidang politik dan diplomasi. Sejumlah sektor lain mulai mendapat perhatian, termasuk ekonomi, pendidikan, penelitian, pertukaran ilmiah, hingga kerja sama militer dan teknis.
Perkapalan Jadi Salah Satu Sektor Potensial
Salah satu sektor yang tengah dijajaki adalah industri perkapalan. Sergei mengungkapkan sejumlah perusahaan galangan kapal Rusia telah melakukan pendekatan kepada mitra di Indonesia.
Proposal kerja sama tersebut mencakup pembangunan kapal cepat, berbagai jenis kapal lainnya hingga kemungkinan penyerapan tenaga kerja Indonesia di fasilitas galangan kapal Rusia.
Pembahasan juga dilakukan dengan sejumlah perusahaan Indonesia, termasuk BUMN seperti PT PAL.
Menurut Sergei, Rusia memiliki pengalaman dan teknologi dalam pembangunan kapal yang dapat dikembangkan melalui kerja sama dengan Indonesia.
“Kami dapat menawarkan pembangunan kapal di Indonesia maupun menerima pesanan pembangunan kapal-kapal khusus, misalnya kapal riset ilmiah dan kapal teknis,” katanya.
Selain perkapalan, Rusia juga melihat peluang kerja sama pada sektor energi, pertanian, kesehatan, farmasi hingga industri.
Rusia Tawarkan Kerja Sama Energi dan Nuklir
Di sektor energi, Rusia menyatakan kesiapan memasok minyak, gas dan pelumas ke Indonesia. Kerja sama juga terbuka pada bidang energi nuklir.
Sergei mengatakan perusahaan energi atom Rusia, Rosatom, telah aktif melakukan komunikasi dengan pihak Indonesia. Menurutnya, Rusia siap menjadi mitra jika Indonesia memutuskan membangun pembangkit listrik tenaga nuklir.
Kepala Rosatom bahkan disebut telah berkunjung ke Indonesia dan bertemu Presiden Prabowo Subianto serta sejumlah pejabat pemerintah.
Kerja sama nuklir, kata Sergei, tidak hanya berkaitan dengan pembangunan pembangkit listrik, tetapi juga dapat mencakup penelitian, pendidikan dan pengembangan tenaga ahli.
Di bidang pertanian, Rusia juga membuka peluang perdagangan komoditas. Produk Rusia seperti gandum dan daging berpotensi dipasarkan ke Indonesia, sementara Indonesia dapat meningkatkan ekspor produk tropis seperti kopi, kakao, teh dan minyak sawit.
Ratusan Beasiswa Disiapkan untuk Pelajar Indonesia
Kerja sama Indonesia-Rusia juga diarahkan pada penguatan hubungan antarmasyarakat, khususnya generasi muda.
Rusia setiap tahun menyediakan ratusan beasiswa bagi mahasiswa Indonesia. Untuk 2026, sebanyak 300 kuota beasiswa disebut telah terisi dan pihak Rusia telah mengajukan tambahan sekitar 40 hingga 50 kuota.
Jika tambahan tersebut disetujui, Rusia berharap dapat menyediakan sekitar 350 beasiswa pada tahap awal untuk tahun 2027.
Bidang studi yang tersedia juga beragam, mulai dari teknologi nuklir hingga seni dan budaya. Selain beasiswa, Rusia mendorong pertukaran pemuda, kerja sama museum dan kegiatan kebudayaan.
Bebas Visa Belum Berlaku
Di tengah meningkatnya hubungan kedua negara, isu kemudahan perjalanan warga Indonesia ke Rusia juga menjadi perhatian.
Sergei menegaskan bahwa bebas visa bagi pemegang paspor biasa Indonesia belum berlaku.
Saat ini, pembahasan yang dilakukan adalah perjanjian bilateral untuk menyederhanakan proses pengurusan visa bagi masyarakat umum. Sementara fasilitas bebas visa bagi pemegang paspor diplomatik dan dinas telah berlaku.
Menurutnya, penyederhanaan proses visa diharapkan dapat mempermudah mobilitas masyarakat kedua negara.
Menanti Kunjungan Presiden Putin
Rusia juga berharap Presiden Vladimir Putin dapat melakukan kunjungan ke Indonesia.
Sergei mengatakan Presiden Prabowo telah mengundang Putin saat kunjungannya ke Moskow pada Desember sebelumnya. Putin disebut merespons dengan menyampaikan kemungkinan kunjungan ke Indonesia pada 2026 atau 2027.
Menurut Sergei, kunjungan tingkat kepala negara nantinya diharapkan menghasilkan pembahasan dan kesepakatan strategis, bukan sekadar agenda seremonial.
Ia berharap pertemuan kedua pemimpin dapat menghasilkan proyek atau kesepakatan penting yang memperkuat hubungan Indonesia-Rusia.
Dengan semakin luasnya kerja sama di bidang ekonomi, pendidikan, teknologi, energi dan hubungan antarmasyarakat, Rusia melihat Indonesia sebagai salah satu mitra penting di kawasan Asia Tenggara.
Kedua negara juga terus mendorong hubungan people-to-people sebagai bagian dari fondasi hubungan bilateral jangka panjang.
