Cut Azizah: Mengurai Akar Banjir Bandang Aceh Tamiang

Ringkasan Berita:

  • Topografi "Leher Botol" (Bottleneck): Secara geografis, DAS Tamiang memiliki hulu yang sangat luas namun menyempit drastis saat mencapai wilayah hilir (Aceh Tamiang). Hal ini menyebabkan akumulasi debit air yang sangat tinggi di pusat permukiman dan pemerintahan saat curah hujan ekstrem.
  • Karakteristik Alam yang Jenuh Air: DAS Tamiang berada di kaki Taman Nasional Gunung Leuser dengan curah hujan sangat tinggi (hampir 3.000 mm/tahun) dan tidak memiliki bulan kering. Kondisi tanahnya sangat jenuh air, sehingga kapasitas resapan rendah dan rentan memicu banjir bandang serta longsor.
  • Alih Fungsi Lahan yang Signifikan: Aktivitas manusia memperburuk risiko bencana melalui perubahan penggunaan lahan. Sejak 1995 hingga 2018, hutan primer berkurang 18%, sementara area perkebunan kelapa sawit melonjak hingga 71% dan pemukiman meningkat 73%.
  • Rekomendasi Mitigasi dan Adaptasi: Dr. Cut Azizah menyarankan pemerintah melakukan relokasi pada 11 desa yang masuk kategori sangat rawan (berdasarkan hasil riset) dan mendorong kemandirian desa melalui pengadaan perahu evakuasi menggunakan dana desa untuk menyelamatkan warga saat bantuan resmi terlambat datang.

KABUPATEN Aceh Tamiang ditengarai menjadi wilayah paling parah terdampak oleh banjir bandang dan tanah longsor Sumatra pada akhir November lalu. Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana yang dihimpun pada Selasa (23/12/2025), pukul 18.00 WIB, setidaknya 20.066 rumah warga di Aceh Tamiang dilaporkan rusak.

Secara geografis, Aceh Tamiang berada di posisi yang unik sekaligus rentan. Terletak di bagian hilir Daerah Aliran Sungai (DAS) Tamiang, sementara hulunya membentang di Kabupaten Gayo Lues dan sebagian Aceh Timur, kawasan yang sebagian besar bersinggungan langsung dengan Taman Nasional Gunung Leuser.

Sponsored

Dalam catatan sejarah kebencanaan, DAS Tamiang rutin mengalami banjir. Pada tahun 2006 menjadi yang terparah sebelumnya sebab menelan puluhan korban jiwa dan mengakibatkan puluhan ribu orang mengungsi kala itu.

“Nah ini juga ada korban jiwa 70 orang dan 53.000 mengungsi waktu itu. Walaupun tidak signifikan seperti saat ini, tapi 70 orang meninggal dan itu angka yang besar menurut saya,” ujar dosen Universitas Almuslim (Umuslim) Dr. Cut Azizah kepada Tirto, Selasa (23/12/2025).

Dampak banjir di Aceh Tamiang

Cut Azizah telah melakukan riset mendalam tentang DAS Tamiang pada 2017. Atas arahan promotornya, Prof. Hidayat Pawitan—pakar hidrologi Indonesia—ia mencari penyebab ilmiah di balik banjir bandang tersebut.

Temuan kunci dalam risetnya itu adalah bentuk DAS Tamiang yang menyerupai “leher botol” atau bottleneck. Cut Azizah menyebut bentuk DAS yang besar di hulu, namun menyempit di hilir, telah menyebabkan akumulasi debit air di wilayah permukiman dan pusat pemerintahan Kabupaten Aceh Tamiang.

Dalam wawancara khusus dengan Tirto, Cut Azizah menguraikan secara rinci hasil risetnya, menjelaskan mengapa Aceh Tamiang menjadi sangat rentan terhadap banjir bandang. Tak lupa, dia turut menguraikan peran manusia yang memperbesar risiko bencana. Berikut petikan lengkap wawancara yang kami lakukan bersama dengan Cut Azizah:

Apa yang melatarbelakangi melakukan riset di Aceh Tamiang?

Saya sebenarnya waktu itu dengan promotor, Prof. Hidayat Pawitan, beliau salah satu ahli hidrologi Indonesia yang mendapatkan achievement dari UNESCO. Jadi beliau menyarankan saya untuk mengambil topik risetnya di Aceh, ‘nah karena Bu Cut orang Aceh, Bu Cut akan kembali ke Aceh, jadi coba telusuri risetnya dengan lokasi Aceh’.

Waktu itu saya komunikasi, kebetulan ada angkatan senior, Pak Razuardi namanya. Beliau pada tahun 2017 adalah Sekda Aceh Tamiang, beliau menyarankan ke saya untuk mengambil DAS Tamiang ini sebagai lokasi riset karena kekhawatiran beliau terkait dengan kerusakan lingkungan yang terjadi. Jadi itu cerita mulanya.

Perlu kita ajak lebih paham bahwa Kabupaten Aceh Tamiang itu cuma bahagian dari tiga, jadi DAS Tamiang itu terdiri dari tiga kabupaten. Ada Kabupaten Gayo Lues, kemudian ada sebagian Kabupaten Aceh Timur, dan Kabupaten Aceh Tamiang itu sendiri. Jadi kalau kita terkait konsep ekologis, kita enggak bisa bicara hanya ranah administratif. Jadi kita harus melihat bentang alamnya.

Aceh Tamiang itu posisinya tepat di hilir. Jadi hulunya Gayo Lues, hulunya Aceh Timur ya, di Serba Jadi. Dan hilirnya di Aceh Tamiang. Nah, jadi memang Aceh Tamiang ini secara administratif atau geografis memang wilayah alirannya air.

Ketika diusulkan membahas DAS pada penelitian 2017 lalu, apa persoalan utama yang ditemukan?

Waktu itu kita mempelajari apa persoalan lingkungan yang terjadi, kemudian kita melihat ada data-data historis yang ada. Ternyata DAS Tamiang ini memang rutin banjir. Jadi dari data BNPB yang kita telusuri, dalam setahun itu bisa dua kali banjir, walaupun bukan banjir besar.

Dan kita melihat bahwa secara historis, DAS Tamiang itu pernah banjir bandang dari tahun 2003 sampai 2018, itu ada tiga kali banjir bandang, yang terbesar itu di 2006. Mungkin kalau kita wawancara masyarakat Aceh Tamiang sendiri dan masyarakat di DAS Tamiang itu, mereka juga sadar ya bahwa 2006 mereka itu pernah banjir bandang besar, dan juga ada tumpukan kayu.

Nah, ini juga ada korban jiwa 70 orang dan 53.000 mengungsi waktu itu. Walaupun tidak signifikan seperti saat ini, tapi 70 orang meninggal dan itu angka yang besar menurut saya.

Apa hasil dari temuan riset yang dilakukan?

Kalau kita berbicara alam, kita harus melihat bentang alamnya. Jadi DAS Tamiang ini punya bentang alam yang unik, khususnya di Aceh Tamiang itu sendiri dia konsepnya adalah bottleneck, tutup botol gitu ya. Jadi dia punya DAS yang besar di hulu, tetapi pada saat di hilir dia menyempit gitu. Makanya itu mengakibatkan Kota Kuala Simpang yang menjadi ibukota Kabupaten Aceh Tamiang itu dampaknya parah sampai banjir di tepian. Kenapa Kabupaten Aceh Tamiang itu tinggi banjir bandangnya signifikan? Karena dia konsepnya adalah bottleneck.

Secara topografi, ada dua percabangan sungai yang masuk ke Kabupaten Aceh Tamiang. Nah ini kita baru bicara bentang ya, belum bicara yang lain. Misalnya Ciliwung itu kecil di hulu, membesar di hilir. Berbeda dengan Tamiang, besar di hulu, hilirnya nyempit, dan itulah disebut dengan bottleneck atau leher botol.

 

Makanya dia pada saat masuk ke Kabupaten Aceh Tamiang, airnya desak dan tinggi, terjadilah dalam istilah kita akumulasi debit, akumulasi limpasan, makanya mereka tinggi sekali airnya. Katanya ada sampai 7 meter atau 10 meter ya berdasarkan masyarakat menyampaikan.

Kedua terkait dengan jenis tanah. Saya ngambil datanya itu sekitar bulan Juli, bulan Juli itu adalah bulan kering di semestinya, tetapi kadar air di DAS Tamiang itu memang sangat tinggi. Kita ambil kadar air, kelembapan tanah, kapasitas infiltrasi, dan itu sudah saya publikasikan di Jurnal Tanah dan Iklim terkait dengan bagaimana karakteristik tanah di DAS Tamiang. Jadi memang istilahnya tanahnya itu sangat jenuh air atau mengandung air yang tinggi.

Itu sejalan juga dengan hujannya, karakteristik hujan di DAS Tamiang itu memang sangat lembab, dia punya bulan tanpa kering. Maksudnya begini, kalau menurut klasifikasi iklim, kalau curah hujan bulanan di bawah 60 milimeter, itu berarti bulannya kering. Kalau di atas 60 milimeter per bulan, berarti bulannya enggak kering, basah. Jadi kan kita punya hujan, misalkan bulan Desember tanggal 1 [curah hujan] 20 milimeter, tanggal 2 mungkin 5, tanggal 3 enggak hujan gitu ya. Setelah kita jumlahkan, jumlah hujan dalam satu bulan itu, kalau di bawah 60 dia disebut bulan kering. Tapi kalau di atas 60 dia disebut bulan basah.

Tetapi DAS Tamiang itu tidak punya bulan kering, selalu di atas 60. Itu sama dengan Ciliwung, ini kan mungkin terkenal di Jawa. Jadi Ciliwung itu bisa punya hari tanpa selalu hujan. Dari tanggal 1 sampai, kalau kita jumlahkan hari kan 365 hari. Dari hari 1 sampai hari 365, dia selalu hujan, itu biasanya DAS sangat basah.

Curah hujannya memang sangat tinggi, hampir 3.000 milimeter per tahun. Jadi memang DAS-nya basah karena dia ini di kaki Taman Nasional Gunung Leuser. Jadi DAS Tamiang ini sebenarnya kalau kita mau angkat isu internasional, ini ya signifikan. Karena 30 persen dari DAS Tamiang masuk ke dalam Taman Nasional Gunung Leuser. Kan kalau Taman Nasional Gunung Leuser kan dilindungi ya.

Ditambah poin yang terakhir, yaitu penggunaan lahan. Nah, itu pamungkas sebenarnya. Jadi ada empat sebenarnya karakteristik kalau kita mau mempelajari alam istilahnya ya. Alam secara hidrologi ada empat hal yang harus kita pelajari, yakni ada hujannya, kemudian jenis tanahnya memang rawan longsor, kemudian jenuh air, dan terakhir itu land use-nya ya, tutupan lahan. Dari empat hal ini, yang bisa diganggu oleh manusia cuma land use atau penggunaan lahan. Misalkan dari hutan berubah menjadi perkebunan, dari perkebunan menjadi pemukiman, ini kan manusia di sini.

Berdasarkan riset yang dilakukan, berapa banyak perubahan land use atau penggunaan lahan?

Dari kajian kita, dari 1995 sampai 2018, terjadi penggunaan lahan 18 persen, hutan primer itu berkurang menjadi hutan sekunder. Kemudian hutan sekunder berubah menjadi belukar. Belukar berubah menjadi perkebunan sawit. Kemudian belukar juga berubah menjadi pemukiman. Paling penting sebenarnya adalah dia mengarahnya ke hulu atau makin naik.

Perbandingan antar tahun, hutan lahan kering primer 1995 itu sekitar 1.100 kilometer persegi, kemudian 2018 itu menjadi 966. Jadi berkurang 18 persen. Dan paling signifikan adalah kenaikan perkebunan kelapa sawit menjadi 71 persen, dan pemukiman jadi 73 persen.

Ini yang istilahnya terkait dengan tindakan, di sini juga manusia melakukan apa yang manusia bisa lakukan gitu ya. Kalau dia mau ke arah yang lebih baik, di sini dia perbaiki, karena kalau yang tiga faktor itu kan kita enggak bisa. Walaupun secara teori ya beberapa riset udah menemukan land use itu berhubungan dengan hujan, kalau misalnya land use-nya bagus, hujannya rintik-rintik gitu ya. Kenapa? Karena residence time istilahnya, waktu tempuh hujan, waktu tempuh air dari daratan kembali ke laut itu kalau hutannya bagus kan lambat.

Curah yang berbahaya kan sebenarnya curah hujan ekstrem. Kalau curah hujan sedang-sedang 60 milimeter kan kita bisa beraktivitas dan tidak membahayakan. Apalagi yang kemarin terkait bahwa hujan yang terjadi [di Aceh Tamiang] itu kan mencapai, ini belum valid angkanya ya, itu sekitar hampir 400 milimeter per hari. Waktu saya riset dengan saya bangun model, itu 111 itu pun sudah ada potensi banjir bandang ya. Apalagi ini mencapai 400 milimeter per hari.

Dari beberapa bacaan yang kita baca akibat Badai Senyar itu, curah hujan yang terjadi itu hampir mencapai 400 milimeter per hari walaupun bervariasi. Kalau di Bireuen tempat saya tinggal itu sekitar 350, itu ada catatannya di BMKG Pertanian yaitu sekitar 350. Tapi di Tamiang disampaikan sekitar 400, ya di bawah 400, lah, istilahnya.

Kalau kita lihat historis, karena saya juga mengkaji banjir Aceh keseluruhan sebenarnya, rata-rata banjir, banjir di Aceh itu 200 milimeter per hari. Dan ini kita udah sampai 400, memang istilahnya secara hujan memang sangat ekstrem seperti itu.

Jika dibandingkan dengan DAS lain di Aceh, apakah persoalannya terkait banjir bandang Aceh Tamiang ini relatif sama?

Faktornya ada yang berbeda dan ada yang sama karena kita di Aceh ini kan sama-sama iklim humid tropic atau iklim yang sangat lembab. Karakteristik yang berbeda adalah topografinya, berbeda dengan Peusangan yang bentuk DAS itu seperti badan, dari atas besar, sampai hilirnya besar, sehingga dia menyebar airnya, enggak terpusat. Jadi kalau Kabupaten Bireuen dengan ibukotanya Bireuen tempat saya tinggal, banjir bandangnya itu cuma di sepanjang kiri kanan sungai, dia tidak merusak kotanya.

Berbeda dengan Tamiang, karena ibukota kabupatennya kan di titik botol ini, makanya rumah sakitnya lumpuh, hancur semua. Jadi berbeda dari sisi topografi, kemudian dari karakteristik land use-nya. Dari 4 DAS yang saya analisis, memang hutan kita berkurang. Rata-rata DAS yang saya analisis, hutan lahan kering primer itu memang berkurang menjadi perkebunan.

Saran kepada pemerintah agar banjir bandang yang telah terjadi ini tak terulang?

Poin pertama sebenarnya kita menyelamatkan nyawa dengan konsep adaptasi dan mitigasi. Saya membuat peta, pemetaan terkait dengan wilayah mana yang rawan, yang sedang, dan tidak rawan untuk didiami di DAS Tamiang. Jadi pemukiman penduduk, apalagi saat ini sudah rusak parah ya, desanya hilang segala macam, kita relokasi ke tempat yang memang wilayahnya aman untuk ditinggali.

Nah kemudian yang paling penting sebenarnya untuk adaptasi mitigasi pemerintah bisa pakai data riset saja. Jadi ada 11 desa yang memang enggak bisa ditinggali dan harus direlokasi, dan wilayahnya dapat ditanam pohon saja.

Daftar desa yang tidak bisa ditinggali berdasarkan hasil riset Dr. Cut Azizah, di antaranya Pengidam, Perk Pulau Tiga, Bengkelang, Rongoh, Terujak, Tampor Paloh, Leles, Lokop, Nalon, Pasir Putih, dan Tualang.

Sebenarnya kan ini model kan prediksi. Dengan kejadian 2025 ini dan dengan informasi terkait sejumlah desa yang hilang, model ini benar bahwa desanya itu sangat rawan banjir bandang. Jadi sarannya mitigasi yang harus kita lakukan tinggal mengacu pada nama desa ini aja, dan ini nama desa ini adalah semua desa yang ada di DAS Tamiang.

Kita tidak lihat kabupaten ya, kita lihat desa. Dan dengan dana desa bisa digunakan, minimal penyadaran kepada masyarakat ya terkait adaptasi. Saya sudah sering sekali selalu saranin, “Tolong desa beli boat satu,” gitu lalu gantung di meunasah atau musala. Kita enggak tahu kapan hari sial datang, nanti waktu ada banjir, kita tinggal pakai. Kalau nunggu BPBD dengan armada BPBD cuma 5, 6 perahu karetnya, gimana bisa nolong 400 ribu orang gitu. Jadi minimal kita, apalagi ada dana desa setahu saya ada untuk siaga bencana, itu bisa digunakan oleh masyarakat. Dan itu cuma perlu Bupatinya bilang gitu, “Desa tolong beli boat-nya, yang rawan-rawan ini beli.”

Dan itu ternyata ada satu desa di Langkahan, desa itu berhasil loh. Desa itu ada boat. Pada saat banjir, mereka menjemput lansia, anak-anak, wanita hamil, dan dibawa ke tempat meunasah. Dan alhamdulillah tidak ada yang istilahnya cedera atau apa. Dan desa memang udah seperti itu. Nah itu kan kearifan lokal yang bisa kita lakukan.

Maksudnya kalau kita bicara tinggi sekali, susah kita ya, bantuan aja enggak sampai-sampai gitu. Jadi mungkin kita harus survive, masyarakat juga harus sadar kalau dia tinggal di wilayah yang rawan bencana.

Riset harus menjadi acuan kebijakan. Enggak usah jauh-jauh di Malaysia itu kalau misalkan mau buat kebijakan, mereka riset dulu gitu. Jadi kita enggak boleh melakukan sesuatu itu hanya “Oh gini, oh gitu.” Pelajari dulu. Banyak sekali ahli-ahli. (sumber tirto.id)

Baca Juga