Setelah Pesta Usai

Ringkasan Berita:

  • Esensi Demokrasi vs. Realitas Kampanye: Meskipun pemilu adalah hak berdaulat rakyat, masa kampanye justru sering diwarnai kebisingan dan narasi banal yang memicu polarisasi tajam di masyarakat.
  • Krisis Gagasan Politisi: Kurangnya ide dan visi yang substansial dari para politisi menyebabkan rakyat sering kali hanya dijadikan alat untuk meraih kekuasaan semata.
  • Politik Bukan Medan Tempur: Narasi ini menekankan bahwa perbedaan pilihan di kotak suara tidak seharusnya menjadikan pihak lain sebagai musuh, karena politik sejatinya bukan tentang peperangan.
  • Fokus pada Kepentingan Bersama: Mengutip Rousseau, kekuatan demokrasi terletak pada kepentingan bersama yang menyatukan masyarakat, bukan sekadar jumlah suara atau hasil akhir kemenangan dan kekalahan.

PROSES demokrasi pemilihan umum telah memberikan hak daulat bagi rakyat.

Berhari-hari sebelumnya kita telah dihadapkan kampanye ‘bising” sekaligus banal yang kian membentuk polarisasi di tengah masyarakat.

Sponsored

Seolah-olah sebuah pilihan yang berbeda telah memisahkan mereka menjadi bagian dari kita.

Krisis gagasan yang terus menerus disajikan oleh politisi menjadikan rakyat hanya sebagai alat kekuasaaan.

Ada sesuatu yang membuat orang gentar sekaligus marah dengan angka-angka dan rencana.

Medan politik dalam kotak suara bukanlah sebuah medan tempur, yang menjadikan mereka yang berada di seberang sebagai lawan.

Jean Jacques Rosseau, seorang filosofis perancis pernah berujar bahwa, apa yang membuat “kemauan publik” bukanlah “jumlah pemilih”, melainkan kepentingan bersama yang menyatukan mereka.

Kemenangan pada akhirnya bisa menjadi sebuah harapan. Pun begitu, kekalahan dapat menjadi sebuah kemungkinan.

Pesta memang belum sepenuhnya usai. ***

Baca Juga