PROSES demokrasi pemilihan umum telah memberikan hak daulat bagi rakyat.
Berhari-hari sebelumnya kita telah dihadapkan kampanye ‘bising” sekaligus banal yang kian membentuk polarisasi di tengah masyarakat.
Seolah-olah sebuah pilihan yang berbeda telah memisahkan mereka menjadi bagian dari kita.
Krisis gagasan yang terus menerus disajikan oleh politisi menjadikan rakyat hanya sebagai alat kekuasaaan.
Ada sesuatu yang membuat orang gentar sekaligus marah dengan angka-angka dan rencana.
Medan politik dalam kotak suara bukanlah sebuah medan tempur, yang menjadikan mereka yang berada di seberang sebagai lawan.
Jean Jacques Rosseau, seorang filosofis perancis pernah berujar bahwa, apa yang membuat “kemauan publik” bukanlah “jumlah pemilih”, melainkan kepentingan bersama yang menyatukan mereka.
Kemenangan pada akhirnya bisa menjadi sebuah harapan. Pun begitu, kekalahan dapat menjadi sebuah kemungkinan.
Pesta memang belum sepenuhnya usai. ***
