Masih Ada Penyintas Banjir di Aceh Tamiang belum Dapat Kepastian Huntara

Ringkasan Berita:

  • Kontradiksi Klaim Pemerintah: Meskipun pemerintah mengklaim tidak ada lagi pengungsi di tenda darurat, faktanya ratusan penyintas banjir di Aceh Tamiang masih bertahan di tenda hingga H+4 Lebaran (Maret 2026).
  • Ketiadaan Bantuan Dasar: Warga mengaku belum menerima bantuan Hunian Sementara (Huntara), Dana Tunggu Hunian (DTH), maupun bantuan logistik lainnya meski sudah hampir empat bulan mengungsi.
  • Kondisi Rumah dan Ekonomi Memprihatinkan: Para penyintas kehilangan tempat tinggal karena rumah rusak parah dan peralatan rumah tangga hancur, sehingga mereka terpaksa bekerja sebagai buruh kasar demi bertahan hidup.
  • Ancaman Penggusuran Tanpa Solusi: Muncul informasi mengenai rencana pembongkaran tenda darurat, namun warga merasa resah karena belum ada kejelasan mengenai lokasi relokasi atau tempat tinggal pengganti.

ACEH TAMIANG – Klaim pemerintah bahwa tidak ada lagi penyintas di tenda darurat ternyata hanya isapan jempol belaka.

Faktanya, hingga H+4 lebaran, masih ada ratusan penyintas yang masih bertahan di tenda darurat.

Sponsored

Salah seorang penyintas, Mustafa Kamal (28) warga Kecamatan Karang Baru mengaku kondisi yang dihadapinya hingga kini masih serba terbatas.

Ia menyebut, selain belum menerima huntara, bantuan Dana Tunggu Hunian (DTH) maupun bantuan lainnya juga belum kunjung diberikan.

“Sudah hampir empat bulan kami masih tinggal di tenda. Sampai sekarang belum ada huntara, DTH, atau bantuan lain yang kami terima,” ujar Mustafa, Selasa (24/3/2026).

Ia juga mengungkapkan, rumah miliknya mengalami kerusakan parah akibat banjir sehingga tidak lagi layak huni.

Seluruh peralatan rumah tangga yang dimiliki pun rusak dan tidak dapat digunakan.

“Rumah kami rusak parah, tidak bisa ditempati lagi. Peralatan rumah tangga juga habis, tidak ada yang bisa dipakai,” tambahnya.

Di tengah keterbatasan tersebut, Mustafa bersama keluarga terpaksa bertahan hidup dengan bekerja sebagai buruh kasar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Selain itu, bantuan dari relawan menjadi salah satu penopang utama bagi mereka selama berada di pengungsian.

Lebih lanjut, ia mengaku sempat mendapat informasi terkait pembongkaran tenda, meski hingga kini belum ada kejelasan terkait relokasi atau tempat tinggal pengganti bagi para penyintas.

“Kami juga dengar tenda akan dibongkar, tapi belum tahu harus pindah ke mana. Sementara bantuan belum ada,” katanya.

Penyintas Banjir di Aceh Tamiang
Tenda penyintas banir di Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang. Dok. Acehsatu.com

Mustafa berharap pemerintah dapat segera menyalurkan bantuan yang dibutuhkan warga, terutama terkait hunian dan pemulihan pascabencana.

“Kami berharap perhatian dan bantuan dari pemerintah bisa segera sampai ke kami,” pungkasnya.

Pemerintah sebelumnya menjanjikan percepatan pemulihan melalui penyaluran bantuan dan penyediaan hunian sementara.

Namun, hingga Lebaran, sebagian warga masih bertahan di pengungsian tanpa kepastian bantuan maupun hunian.

Mereka berharap pemerintah segera memperbaiki data penerima dan menyalurkan bantuan secara merata agar kondisi serupa tidak terus berulang.***

Baca Juga