Tiga Blok Migas Aceh yang Terminasi Kini Jadi Rebutan Investor

Ringkasan Berita:

  • Peningkatan Investasi Migas Aceh: Hingga awal April 2026, Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) menerima tiga pengajuan resmi joint study (JS) untuk pengelolaan blok migas yang sebelumnya telah terminasi (berakhir masa kontraknya).
  • Tiga Blok Strategis yang Diminati: Wilayah kerja yang kembali dilirik investor adalah WK Andaman I (eks Repsol), WK South Block A (eks KRX), dan WK Lhokseumawe (eks Zaratex).
  • Kolaborasi Investor Lokal dan Global: Investor yang mengajukan minat berasal dari latar belakang beragam, mulai dari konsorsium Jepang (Japex/Jogmec), BUMD Aceh (PT PEMA), hingga kolaborasi perusahaan Aceh–Malaysia (PT Energi Hijau Biru/Barakah Petroleum).
  • Target Ketahanan Energi: BPMA optimis proses ini akan menghasilkan tiga Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) baru guna memperkuat posisi Aceh sebagai pusat energi nasional dan mendukung program ketahanan energi Kementerian ESDM.

BANDA ACEH – Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) menyatakan ada geliat baru dari para investor baik di dalam maupun di luar negeri terhadap pengelolaan wilayah kerja (WK) migas yang sebelumnya terminasi.

Hal itu disampaikan Kepala BPMA, Nasri, kepada wartawan baru-baru ini.

Sponsored

“Hingga awal April 2026, kami telah menerima tiga pengajuan resmi joint study (JS) untuk pengelolaan blok-blok migas strategis di Aceh,” kata Nasri.

Disebutkan, BPMA telah mendapatkan tiga pengajuan keberminatan untuk melakukan joint study di tahun 2026.

“Ini merupakan WK terminasi yang kini kembali dilirik investor,” tambahnya.

Tiga wilayah kerja tersebut mencerminkan kombinasi kekuatan investor global dan lokal yaitu WK Andaman I (eks Repsol) yang diminati oleh konsorsium Jepang yakni Japex/Jogmec.

Selanjutnya WK South Block A (eks KRX) diajukan oleh PT. PEMA dari BUMD Aceh, dan WK Lhokseumawe (eks Zaratex) yang menarik minat kolaborasi PT Energi Hijau Biru/Barakah Petroleum, perusahaan gabungan Aceh–Malaysia.

Blok Andaman
Plan of Development (PoD) Blok South Andaman. Dok SKK Migas

Menurut Nasri, masuknya investor dari berbagai latar belakang ini menjadi indikator kuat meningkatnya kepercayaan terhadap iklim investasi migas di Aceh.

“Alhamdulillah, dalam satu tahun terakhir BPMA mendapatkan kepercayaan dari investor dalam dan luar negeri untuk berinvestasi di Aceh,” katanya.

Nasri menyatakan optimistis bahwa proses joint study ini akan bermuara pada kontrak kerja sama baru.

“Apabila berjalan lancar, insya Allah BPMA akan mendapatkan tiga KKKS baru,” katanya.

Langkah ini dinilai strategis dalam memperkuat posisi Aceh sebagai salah satu pusat pertumbuhan energi nasional, sekaligus mendukung agenda besar pemerintah melalui Kementerian ESDM dalam mewujudkan ketahanan energi.

Nasri mengatakan, BPMA akan terus mendorong percepatan program eksplorasi dan pengembangan migas di wilayahnya.

“Kami berkomitmen menjalankan program pemerintah dan KESDM dalam mendukung ketahanan energi nasional,” ujarnya. ***

Baca Juga