oleh

Zuarni, Guru Berliterasi dari MTsN 9 Aceh Timur

-Suara Anda-260 views

ACEHSATU.COM — Guru dan literasi merupakan dua hal yang tidak terpisahkan, seorang guru profesional diharapkan mampu menulis buku, akan tetapi perkembangan sekarang.

Seorang guru profesional dan memiliki ilmu yang tinggi belum tentu dapat menuangkan ilmunya dalam bentuk literasi atau tulisan.

Keterpaksaan menulis adalah awal dari langkah guru menulis, untuk kenaikan pangkat seorang guru harus mampu menulis baik dalam bentuk karya tulis ilmiah, buku, modul, diktat, laporan, karya tulis seni seperti novel, cerpen dan puisi.

Aktivitas menulis guru sudah mengarah pada aktualisasi, eksistensi dan prestasi.

Hal ini juga didukung berbagai pelatihan dan forum menulis guru baik yang dihadirkan oleh pihak yang berwenang ataupun yang dibentuk oleh kalangan sendiri sehingga guru dapat memaksimalkan kemampuan dirinya dan menghasilkan karya yang melahirkan kepuasan tersendiri bagi guru tersebut.

Guru yang mampu menulis dengan baik merupakan guru yang istimewa karena tidak semua guru mampu melakukan hal tersebut.

Genre menulis guru biasanya berbeda beda, misalnya guru bidang studi umum lebih suka memilih menulis karya tulis ilmiah seperti Penelitian Tindakan kelas (PTK), sedangkan guru sastra biasanya lebih suka menulis karya berbentuk fiksi seperti cerpen, novel dan puisi.

Seperti seorang guru Bahasa Indonesia di MTsN 9 Aceh timur yang telah mencuri perhatian saya karena beliau telah menerbitkan 9 buku baik dalam bentuk cerpen, novel, antologi puisi dan beberapa buku lainnya.

“Padi semakin berisi semakin merunduk.”

Peribahasa inilah yang tersirat saat berjumpa dengan sosok wanita setengah baya dan sangat ramah ini. Saat pujian mengudara di telinga beliau atas karyanya dan penulis mengatakan ingin mempublikasikan profil beliau dengan tersenyum beliau berkata “saya baru belajar menulis, karya saya hanya sedikit belum pantas profil saya dipublikasikan”.

Zuarni, S. Pd, salah satu pengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia pada Madrasah tsanawiyah Negeri  9 Aceh Timur yang berlokasi di desa Seunebok Teungoh Alue Lhok, Kecamatan Peureulak Timur, Kabupaten Aceh Timur.

Disamping sebagai pengajar dan ibu rumah tangga, beliau hobi menulis.

Wanita kelahiran 1 september 1967 dilahirkan di sebuah desa kecil di ujung Kecamatan Julok, Aceh Timur ini sejak duduk di bangku SPG sudah hobi menulis.

Beberapa cerpennya pernah dimuat di tabloid remaja, tetapi ketika menempuh jenjang pendidikan strata satu Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Serambi Mekah, aktivitas menulis beliau sempat terhenti karena beberapa hal.

Setelah menjadi guru tepatnya pada 2015 hobi menulis beliau kembali muncul  dengan mengikuti lomba menulis cerpen dan puisi pada salah satu penerbit nasional.

Berulang kali karya beliau meraih penghargaan dan diterbitkan dalam bentuk antologi puisi, cerpen dan novel.

Ketika ditemui ditempat kerja beliau, Zuarni Zia (nama pena), mengungkapkan genre menulisnya adalah fiksi, tapi tidak menutup kemungkinan menulis nonfiksi seperti artikel.

Beberapa Novel beliau laris terjual baik melalui bukalapak, shopee, maupun penjualan ditoko buku, diantaranya adalah  “Denting Cinta yang Tertunda” terbit pertengahan 2018 dan “ Menyibak Kabut” terbit akhir 2018 dan tahun ini telah terbit novel ke 8 dan 9, September 2019 ini novel terbaru berjudul “ Cinta Tiga Musim “ menjadi novel yang banyak disukai oleh pembaca karena alur ceritanya yang menarik.

Usia senja dan kondidi kesehatan fisik yang menurun dengan berbagai judul penyakit tidak menghalangi penulis ini untuk berkarya, “dukungan keluarga, terutama suami dan kelima putra beliau serta teman teman yang selalu memberi semangat dalam menulis.

Menjadi motivasi terbesar beliau dalam berkarya dan pada akhirnya Sebuah karya akan sangat bermakna bila mampu memberikan manfaat untuk orang lain, itulah harapan terbesar dari ibu Zuarni Zia. (*)

Penulis: Herawati, S. Pd, pengajar pada MTsN 9 Aceh Timur

Komentar

Indeks Berita