Yusri Melon Bina Petani Bawang, Segini Produksinya

Yusri Melon Bina Petani Bawang, Segini Produksinya

ACEHSATU.COM [ BENER MERIAH – Siapa yang tidak kenal Yusri Melon seorang warga Pidi Jaya yang ahli bidang pertanian dan konsen dalam melakukan pembinaan petani, karena keberhasilnnya salah satu nama tanamanpun ditabalkan padanya.

Saat ini Yusri Melon dengan lembaga yang dipimpinnya Gerakan Petani Sejahtera (Geunta) melakukan pembinaan petani bawang merah di Kampung Blangrakal, Kecamatan Lintu Rimegayo, Kabupaten Bener Meriah. Di desa ini, ia bersama petani menanam bawang merah di lahan seluas 5 hektare, hasilnya 10 ton per hektare, jika permasalahan kabut dapat diatasi, produksi bawang dapat mencapai 20 ton per hektare.

Yusri Melon kepada Acehsatu.com, Sabtu (11/7/2020) mengatakan, apapun profesi yang digeluti yang terpenting fokus dan menikmati, jika dua kriteria ini tidak terpenuhi maka yang muncul adalah bosan. Bersama Lembaga Geunta, kini ia mulai membangun gerakan kesejahteraan petani dengan pola kemitraan  sebagai lahan percontohan yang akan di jadikan central petani bawnag di Kabupaten Bener Meriah.

”Petani yang serius kita tingkatkan sumberdaya manusianya (SDM), kita latih dan mau mengikuti sesuai arahan ilmu yang kita berikan, petani yang berpotensi akan di sandingkan dengan lembaga pembiayaan seperti Bank Aceh Syariah, untuk pembiayaan

“Kita ingin menjadikan central petani, petani punya lahan, serius, baru kita transper ilmunya, setelah itu kita sandingkan dengan Bank Aceh Syariah,” ujarnya  .

Dijelaskan, konsepnya pembinaan petani harus dilakukan secara terpadu, ada pembiayaan, ada pembinaan dan ada pemasaran. Jika ini tidak terpenuhi maka petani akan menjadi korban. Saat panen harganya bisa murah padahal di pasaran harganya mahal.

Selain itu, dalam memilih produk yang akan di tanam, kepada petani Yusri Melon mengaku menawarkan komiditi yang dekat dengan kebutuhan masyarakat dan cepat menghasilkan, serta harga lebih stabil. Makanya, pilihan jatuh kepada tanaman bawang karena tanaman ini mudah panennya, ada waktu untuk panen dan tidak penen sekaligus.

“Persoalan teknik dapat kita ajari bagaimana mengolah tanah, semai bibit, cara tanam, perawatan dan  cara memberikan pupuk,” ujarnya dan menambahkan, semuanya harus dikerjakan dengan serius.

Baru kemudian, komitmen, dengan lembaga pemodal dengan pola syariah seperti dengan Bank Aceh Syariah. “Pola syariah dari zaman sudah ada dalam kehidupan warga Aceh. Di contohkan, satu orang memberikan modal, satu orang pemilik tanah dan satu orang yang mengerjakan ketika dapat hasil mereka berbagi sama.

Bawang yang saat ini ditanam pihaknya seluas 5 hektare, saat ini dalam proses panen, ia memperkirakan, hasil panen bawang merah ini sekitar 10 ton per hektare namun jika kendala dapat diatasi  produksi dapat mencapai 20 ton per hektare.  “Kita punya cadangan tanah seluas 60 hektare lagi untuk mengembangkan komoditi selian bawang,” ujarnya.

Kendala tanaman bawang yang di alaminya saat ini  jelaskan Yusri,  tingginya curah hujan dan kabut yang tebal, jika kabut dapat kita atasi, diprediksi produksi bawang merah mencapai di atas 20 ton per hektare. “Kabut dapat merusak tanaman bawang karena daunnya sangat tipis dan lemah. Apabila berkabut, kabut tersebut lengket di daun dan beku sehingga menutupi pori-pori tanaman,” ujarnya.

Sedangkan keberadaan pori-pori sendiri, mendukung pertumbuhan tanaman, cara mengatasinya lewat penyiraman, begitu kabut hilang langsung dilakukan penyiraman agar kabut cair tidak beku.

Staf Bank Aceh Syariah, Iskandar mengatakan, hasil panen bawang binaan Geuta akan di beli pengusaha bawang Aceh Tamiang, Rusli alias Koceng. Koceng sendiri sudah melihat langsung lokasi bawang dan  ikut memanen bawang tersebut.

“Ia minta daun bawang tidak dipotong dan dikeringkan agar bertahan lama,” ujar Iskandar (*).