Wikipedia Sebut Soeharto PKI, Mbak Tutut: Bapakku Negarawan

Wikipedia Sebut Soeharto PKI, Tutut Soeharto: Bapakku Negarawan

ACEHSATU.COM | BANDA ACEH –  Baru-baru ini heboh kemunculan sebuah artikel keliru tentang Partai Komunis Indonesia (PKI) di Wikipedia. Ulama Tengku Zulkarnain mendapati tulisan yang menyebutkan Soeharto merupakan tokoh di balik layar.

Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indoenesia itu sempat menyerukan kepada umat Islam dan Tentara Nasional Indonesia (TNI) untuk memboikot Wikipedia.

Seruan tersebut disampaikannya di media sosial Twitter dengan memberi tanda pagar (Tagar) boikot wikipedia atau #boikotwikipedia).

“Wikipedia sudah menuliskan sejarah “bengkok”? Peristiwa pemberontakan PKI justru WIKIPEDIA menuliskan PKI sebagai KORBAN, Pak Harto dkk sebagai “penjahatnya”, pelaku pembantaian,” tulis Tengku Zulkarnain dalam akun Twitternya @ustadtengkuzul, Rabu (3/6/2020).

Namun terlepas dari kontroversi Wikipedia, Siti Hardiyati Indra Rukmana atau yang dikenal juga dengan sebutan Mbak Tutut, punya kenangan tersendiri tentang Soeharto, yang tidak lain ayah kandungnya sendiri.

Melansir detikcom, berikut cerita pengalaman Tutut Soeharto tentang keseharian sosok Presiden RI ke-2 Indonesia, Soeharto:

Setiap tanggal 8 Juni, Siti Hardiyati Indra Rukmana (Tutut Soeharto) biasanya selalu mengadakan acara mengenang hari lahir sang ayah, Presiden ke-2 Indonesia Soeharto . Namun tahun ini, tak ada acara dengan mengumpulkan banyak orang karena memang masih dalam suasana Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) terkait dengan adanya pandemi COVID-19 atau Corona.

Selain doa untuk kedua orang tua, tepat di hari lahir Soeharto, Tutut membuat tulisan untuk mengenang sang ayah. “Saya nulis di IG saya,” kata Tutut kepada detikcom, Jumat 5 Juni 2020.

Putri pertama Presiden ke-2 Soeharto itu pun menepati janjinya. Pada Sabtu 7 Juni 2020 dini hari tulisan pun jadi dan diberi judul, ‘Bersyukur Kita Masih Di Uji Allah’. Tulisan diunggah ke akun Instagram pribadinya @tututsoeharto dan websitenya.

Tutut mengisahkan detik-detik di hari terakhir Soeharto memutuskan untuk berhenti menjadi presiden karena desakan dari masyarakat dan juga mahasiswa. Sayang setelah permintaan itu dituruti, muncul hujatan, cacian, hingga tuduhan kepada Soeharto dan keluarganya.

Namun, Soeharto kala itu selalu mengingatkan Tutut dan keluarganya untuk sabar dan tidak mendendam. “Berat rasanya bagi saya dan adik-adik menerima semua tekanan ini. Walau Bapak selalu mengingatkan agar kami sabar dan jangan dendam,” tulis dia.

Bersyukurnya, di tengah-tengah peristiwa itu masih ada banyak orang yang perhatian dengan Soeharto. Mereka meminta Soeharto untuk meninggalkan kediamannya dan mengungsi ke tempat lain. Beberapa pemimpin negara bahkan siap menerimanya.

Hanya saja, Soeharto mengaku tidak akan meninggalkan kediamannya, apalagi Indonesia. Sebab, Indonesia adalah Tanah Air baginya di mana ia lahir dan harus mati di sana.

“Sampaiken terima kasih saya pada sahabat-sahabat saya dari negara-negara lain. Tapi maaf, saya tidak akan meninggalken Indonesia. Saya lahir di Indonesia. Seandainya saya harus mati, saya akan mati di Indonesia, negeri di mana saya dilahirken,” kata Tutut menirukan ucapan Soeharto.

Hal ini dilihat Tutut sebagai sifat ksatria dan negarawan, yakni tidak mau lari dari masalah atau dalam bahasa Jawa ‘tinggal glanggang colong playu’ (lari dari masalah atau lari meninggalkan tanggung jawab).

“Mendengar jawaban bapak, rasa bangga dan haru, tak dapat dibendung. Bapakku seorang negarawan dan ksatria. Tidak akan “tinggal glanggang colong playu” (lari dari masalah atau lari meninggalkan tanggung jawab),” kata Tutut.

Lebih lanjut, wanita berusia 71 tahun ini mengatakan pada dasarnya hatinya terguncang atas kejadian yang menimpa keluarganya. Ia merasa marah dan kecewa yang menuduh Soeharto berbuat buruk kepada Indonesia. Sebab menurutnya, Sang Ayah telah mengabdikan dirinya untuk bangsa Indonesia.

“Kami merasa tidak terima terhadap apa yang mereka tuduhkan kepada bapak, karena kami tahu sebagian besar hidup Bapak, diabdikan untuk kejayaan Bangsa dan Negara Indonesia. Sejak Indonesia lahir melalui serangkaian perjuangan melawan penjajahan hingga proses membangun bangsa dengan tantangan yang tidak sederhana,” jelasnya.

Soeharto menasihati anak-anaknya agar tetap sabar dan tidak mendendam. Sebab, dendam tidak akan menyelesaikan masalah dan justru bisa menambah korban. Tutut dan adik-adiknya diingatkan agar tidak tersulut emosi dengan hujatan yang tidak mendasar.

Hujatan dan tuduhan yang selalu datang membuat Tutut memberanikan diri untuk menanyakannya ke Soeharto, kenapa Allah SWT menguji umatnya dengan hal yang begitu berat padahal sebagai umat telah taat menjalankan perintahnya.

Soeharto pun menjawab bahwa Allah SWT selalu memberikan ujian pada umatnya untuk menaikkan tingkat keilmuannya. Sebab, tak ada orang yang bisa naik pendidikannya bila tak diuji.

“Allah sedang menguji kesabaran kita, mampukah kita menerima ujian yang Allah beriken, atau kita akan menyerah dalam setiap peristiwa yang Allah beriken, terpasrah patah tanpa iman. Coba kamu pikirken wuk, kamu masuk sekolah dari kelas 0 sampai dengan universitas, pada setiap kenaikan kelas, pernah tidak kamu tidak dijuji,” tanya Soeharto kepada Tutut dengan jawaban selalu diuji.

Soeharto pun melanjutkan, menurutnya ilmu Allah sangat lah tinggi. Maka dari itu, ujian yang akan dihadapi umat akan lebih berat dan berbeda dari ujian sekolah. Maka dari itu, Soeharto kembali mengingatkan Tutut dan keluarganya agar selalu sabar, istiqomah dalam menjalankan sholat lima waktu dan menjauhi larangan Allah.

“Tapi kalau kamu sabar, istiqomah dalam menjalanken sholat 5 waktu serta perintah-perintah Allah dan menjauhi semua larangan Allah, kamu rajin bersedekah membantu orang lain, dan kamu selalu baik dengan orang lain, insya Allah kamu akan dapat melewati semua ujian yang Allah berikan wuk. Bersyukur lah kita masih diuji Allah, artinya kita diberi kesempatan untuk menjadi lebih baik kalau kita dapat melewati semua ujian dengan baik, dan itu menunjukkan bahwa Allah menyayangi kita,” kenang Tutut.

Sejak mendapatkan banyak pelajaran dan nasehat dari Soeharto, Tutut mengaku mulai mendalami Al Quran hingga saat ini. Ia bersyukur bisa mengetahui semua isi Al Quran sesuai dengan apa yang Soeharto dulu pernah sampaikan.

Soeharto yang lahir di Kemusuk, Yogyakarta pada 8 Juni 1921 meninggal dunia pada 27 Januari 2008 atau saat berusia 87 tahun. Ia dimakamkan di makam keluarga Astana Giribangun, Karanganyar, Jawa Tengah. (*)