Warga Translok Gahru Dambakan Air Bersih dan Akses Jalan

Warga Translok Gahru memiliki dua persoalan utama yang dihadapi warga transmigrasi lokal (traslok) di Gampong Gahru Kecamatan Bandardua, Pidie Jaya tersebut.
PDAM Tirta Daroy
ILUSTRASI -- Warga kesulitan air bersih karena layanan PDAM di Banda Aceh mati sepekan (dok. Istimewa)

Warga Translok Gahru Dambakan Air Bersih dan Akses Jalan

ACEHSATU.COM | PIDIE JAYA – Warga Translok Gahru memiliki dua persoalan utama yang dihadapi warga transmigrasi lokal (traslok) di Gampong Gahru Kecamatan Bandardua, Pidie Jaya tersebut.

Pertama menyangkut dengan suplai air bersih yang masih jauh dari harapan, sementara kedua akses jalan yang belum optimal.

“Hampir sebelas tahun kami disini, dua hal tersebut belum tertangani,” kata warga. Tak ahnaya itu, kondisi rumah yang sudah uzur  juga butuh uluran tangan pemerintah untuk melakukan rehabilitasi.

Beberapa penghuni rumah translok di perbukitan Gahru, kepada Acehsatu.com menuturkan keprihatinan yang sudah berkalang tahun mereka alami dan terkesan kurang mendapat perhatian dinas terkait.

Akses jalan dalam komplek termasuk jalan utama yang berbatu dan ada gorong-gorong di perempatan jalan yang sudah pecah juga kerap nyaris membawa petaka bagi pengguna sepeda motor.

Suplai air untuk ke 100 unit rumah di komplek tersebut, kata Tgk Basri, bersumber dari sungai (krueng) dengan cara memasang ratusan meter pipa lalu disodot dari sungai.

Jika hujan deras disusul banjir dipastikan  air tak tersuplai.  Karena memang untuk ke 100 rumah tak mungkin dialiri sekaligus, sehingga terpaksa menggunakan sistem bergilir. 

Itu jika kondisinya normal, tapi kalau suplai air lumpuh total, warga kelabakan dibuatnya. Dalam kondisi begitu kami harus cari alternatif masing-masing, kata Basri.

Ditanya bagaimana jika ada kemalangan atau musibah serta kenduri , sementara suplai air lumpuh, Basri mengatakan, dalam kondisi demikian warga yang membantu.

Bagi yang ada kemudahan, tentu airnya membeli dari mobil tanki. Sementara yang  berekonomi lemah, ya seperti disbutkan tadi, dibantu warga.

“Sedih sekali memang kami warga translok, tapi apa mau dikata. Jelang 11 tahun masih saja begini,” imbuh seorang ibu rumah tangga. Armia seorang warga setempat juga membenarkan kondisi itu.

Akses jalan yang belum maksimal dimana semua ruas jalan dalam komplek termasuk  jalan induk masih seperti awalnya mereka huni juga sebuah persoalan yang dialami.

Padahal, mereka sudah lama mendambakan dan sudah pernah disampaikan baik tingkat kecamatan (camat) termasuk juga pada kabupaten (Dinas PU), tapi sepertinya tidak ada kepedulian.

“Lihatlah bagaimana kondisi badan jalan di tempat kami ini,” kata seorang warga translok lainnya dengan nada sedih.

Jalan yang masih “telanjang” sulit dilalui termasuk dengan sepeda motor. Sepanjang rute yang dilalui batu yang meruncing menjadi rawan kempes ban. 

Apalagi jika bepergian pada malam. Karenanya, warga berharap, kalau pun tidak diaspal, setidaknya pengerasan saja sudah lumayan. Kepada dinas terkait diminta perhatian terhadap yang satu ini, pinta seorang penghuni rumah trasnlok lainnya.

Direktur PDAM Tirta Krueng Meureudu, melalui Petugas Tehnis, Edi Kurniawan yang dikonfirmasi, Rabu (19/5) mengatakan, untuk kawasan Gahru dan sekitarnya, hingga saat ini belum ada jaringan.

“Untuk Komplek Translok Gahru dan sekitarnya belum ada jaringan PDAM,” sebut Edi Kurniawan. 

Pun begitu, pihaknya akan mengupayakan agar kedepan wilayah tersebut juga tersambung jaringan air bersih.

Sementara terkait dengan jalan,  Kabid Bina Marga Dinas PU Pijay, Edi ST menyebutkan, kalau jalan dalam komplek, itu kewenangan Bidang Cipta Karya . “Jalan dalam komplek itu wewenang Bidang Cipta Karya,” imbuh Edi singkat. (*)