Warga Tamiang Temukan Satwa Kedih Sakit Tergeletak di Jalan

Warga Desa Tanjung Karang Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang menemukan satwa kedih atau hewan sebangsa monyet ekor panjang.
Karang baru
Dok. Gosumatra.com

ACEHSATU.COM | KUALA SIMPANG – Warga Desa Tanjung Karang Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang menemukan satwa kedih atau hewan sebangsa monyet ekor panjang tergeletak di atas jembatan kawasan Aras Sembilan Sembilan perbatasan antara Kecamatan Bandar Pusaka dan Sekerak.

“Saat ditemukan kondisinya kejang-kejang di pinggir jalan, karena kasihan melihatnya dibawa pulang untuk diobati,” kata Mimi (44) di Karang Baru, Aceh Tamiang, Sabtu (2/7/2022).

Dijelaskan Mimi, kedih jenis kelamin jantan ini awalnya ditemukan oleh adiknya M Guntur, Selasa (28/6) waktu magrib sekitar pukul 18.30 WIB. Saat itu si adik tengah jalan pulang dari Bandar Pusaka naik sepeda motor melihat seekor kedih tertidur di beram jalan.

“Kami lihat rahang lehernya memar tidak bisa makan. Tubuhnya lemas, matanya merah sering kali mengeluarkan air mata,” ujar Mimi.

Sejauh ini keluarga Mimi sudah berusaha melaporkan temuan satwa dilindungi tersebut ke instansi pemerintah daerah setempat untuk dilakukan evakuasi. Menurut ibu rumah tangga ini, sudah tiga hari dirawat kondisi satwa kedih makin memburuk.

“Selama tiga hari hanya dikasih madu saja karena kedih-nya tidak mau (bisa) makan mungkin akibat rahangnya luka memar. Kami kasih pisang saja kedih tidak mau,” tuturnya.

Salah satu aktivis lingkungan hidup di Aceh Tamiang Andi Nur Muhammad mengatakan saat ini satwa kedih jantan yang diselamatkan warga sedang mendapat perawatan medis dari lembaga Sumatran Rescue Alliance (SRA) dari Langkat Sumatera Utara. Aktivis ini juga sudah menghubungi pihak BKSDA Aceh untuk datang melakukan evakuasi, karena dikhawatirkan bisa mati.

“Lukanya parah, diduga hewan kedih itu luka dalam akibat tertabrak kendaraan yang melintas di jembatan Lubuk Sidup. Perlu segera dilakukan upaya medis,” ujar Andi.

Menurut Andi Nur Muhammad satwa dengan nama latin Presbytis Thomasi berada dalam status konservasi rentan punah. Satwa ini juga dikenal sebagai pemulih ekosistem hutan membantu konservasi karena sebagai hewan pemakan buah dari tumbuhan yang ada di hutan.

“Awalnya saya diminta bantu oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup Aceh Tamiang Syurya Luthfi untuk evakuasi kedih. Alhamdulillah hari ini tim dokter hewan dari lembaga SRA Sumut dan BKSDA Aceh sudah datang,” sebut Nur Andi Muhammad. (*)