Warga Idi Timur Temukan Siamang

Seorang warga menemukan seekor siamang (symphalangus syndactylus) di Taman Rusa Pusat Perkantoran Pemkab Aceh Timur di Idi, Aceh Timur.
Warga Idi Timur Temukan Siamang
Siamang di sangkar milik warga di Desa Keutapang Dua, Idi Timur, Aceh Timur, Selasa (4/5/2021). Antara Aceh/Hayaturrahmah

Warga Idi Timur Temukan Siamang

ACEHSATU.COM | ACEH TIMUR – Seorang warga menemukan seekor siamang (symphalangus syndactylus) di Taman Rusa Pusat Perkantoran Pemkab Aceh Timur di Idi, Aceh Timur.

“Saya temukan di taman rusa Jumat (30/4). Saya melihat kondisinya sangat lemas, sehingga saya bawa pulang,” kata Sindy Wulandari, warga Desa Keutapang Dua, Idi Timur, yang menemukan siamang di Aceh Timur, Selasa (4/5/2021).

Awalnya Sindy menganggap satwa itu bisa dipelihara sebagaimana monyet. Namun setelah berkoordinasi dengan dinas terkait ternyata siamang tidak boleh dipelihara dan tergolong satwa dilindungi.

“Ternyata satwa ini tidak boleh dipelihara dan saya sudah berkoordinasi dengan dinas terkait untuk dijemput,” kata Sindy Wulandari.

Sindy juga mengaku sama sekali tidak mengetahui awal mula keberadaan siamang tersebut. Namun menurutnya, siamang dengan usia di atas tujuh tahun itu kesasar ke Taman Rusa Pusat Perkantoran Pemkab Aceh Timur.  

“Saya yakin kesasar ke taman rusa, tapi kondisi lemas, makanya saya selamatkan dengan membawanya ke sangkar di rumah. Selama di sangkar saya kasih makan berupa buah-buahan dan minum. Alhamdulillah kondisinya saat ini sudah berubah,” kata Sindy.

Warga Idi Timur Temukan Siamang
Siamang di sangkar milik warga di Desa Keutapang Dua, Idi Timur, Aceh Timur, Selasa (4/5/2021). Antara Aceh/Hayaturrahmah

Ketua Yayasan Konservasi Alam Aceh (Yakata) Zamzami Ali Umri Balqiah meminta Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh segera menjemput seekor siamang itu. Pasalnya, kondisi satwa dilindungi itu kini sangat kurus dan butuh penanganan medis secara khusus.

“Kami telah mengirimkan tim ke lokasi untuk melihat dan mendokumentasikan. Kondisinya kurus dan tidak banyak gerakannya. Bahkan sesekali tampak lemas, sehingga terpaksa merebahkan badannya dalam sangkar,” kata Zamzami.

Menurut Zamzami, siamang jantan itu perlu dijemput untuk segera dilakukan observasi, karena kabarnya sejak kecil telah menjadi piaraan manusia, sehingga agak susah beradaptasi dengan habitatnya.

“Jika pun dijemput, maka perlu diobservasi. Jika nanti sudah saat dilepasliarkan, maka harapan kita dilepas liar di kawasan Aceh Timur,” pungkas Zamzami. (*)