Opini

Wangi Toga Rektor Plagiator Lagi Diktator

rektorBanda Aceh – Ilustrasi dalam imajinasi semantik tentang Rektor yang bergaya koboi premanisme kampungan di negeri anchen.

Syahdan ketika kita lahir di dalam kehidupan miskin itu tidak salah tapi kalo mati karena miskin itu yang salah karena tuhan menciptakan umatnya supaya dalam hidup selalu berusaha dan kita siap hidup dalam keadaan miskin harta tapi kaya ilmu pengetahuan.

Ketika kita menjadi intelektual, bila tidak kritis tentu ibarat langit tanpa pelangi,   gunakanlah prinsip ” ghazwatul fikr : perang pemikiran ” dalam mencari solusi disetiap simpang dan sudut yang penuh permasalahan.

Jadikanlah kritik sebagai spirit untuk membangun, jangan jadikan kritik untuk menghantam lawan guna melanggengkan kekuasaan, kampus itu milik rakyat, bukan milik warisan apalagi milik dua desa yang kerap diakomodir kedalam struktural pejabat di kampus itu.

Anehnya, ketika seseorang pejabat diangkat bukan berdasarkan kompetensi, tapi berdasarkan relasi sekampung dan beda profesi lagi, inilah yang namanya ” primordialisme, yang kerap di anut oleh kaum animisme.

Maka sebaikannya kita jadilah jarum jahit, meskipun jalannya tidak lurus tapi ia menyatukan yang sudah terpisah, jangan jadi gunting, meskipun jalannya lurus ia memisahkan yang semula bersatu.

Janganlah menjadikan jabatan pimpinan kampus ( rektor ) untuk menjadi ” diktator ” mengeluarkan kata-kata kotor penuh makian dan tidak bermoral untuk menghujat si pengkritik, menunjuk dengan tangan kiri yang seolah-olah kita akan berkuasa di alam kubur nanti.

Ketika kita bersembunyi dibalik toga intelektual, tapi kelakuan dan attitude kita yang menganulir value dari ilmu itu sendiri adalah bentuk keniscayaan.

Wahai rektor bengis, marilah kita berfikir positif , bukankah saad Ibnu waqash dijamin masuk surga oleh Rasullulah karena selalu berpikiran positif.

Janganlah takut mengakui kekurangan diri dan kelebihan orang lain, karena pengakuan itulah yang dapat menjadi benang sulam mengikat kebersamaan, sesungguhnya kelebihan manusia adalah kekurangannya.

Semoga tulisan ini, tidak di intip si isteri sang rektor dan dilaporkan kepada suaminya yang terkenal dengan ” bengis dan kata kata tidak sopan, mata melotot bak burung hantu yang kelaparan, dan menunjuk wajah orang lain dengan tangan kirinya yang kerap dia gunakan untuk bersuci sesudah membuang hadas.

Sesungguhnya keruntuhan dia tinggal tunggu saja. Illa ajalim musamma ( tunggu waktu yang ditempokan) si rakus akan terhina, si munafik akan terbuka ” aibnya ” yang membangun gezzah diri bak manusia makshum, sungguh dia tak bermoral.

ingatlah ketika seorang filsuf bernama Immanuel kant berkata ” selama langit masih berbintang, selama itu pula hukum moral akan terpatri di batinku.

Wahai rektor, para penjilatmu sekarang tak lebih dari pemain amatir yang tak punya kemampuan selain melakukan pembualan dan pujian pujian bohong belaka agar tetap kau memakai jasanya, taukah kamu rektor kerajaan termegah di Nusantara samudera pasai dan Dinasti Sultan Iskandar muda itu tumbang karena sikap dari ” tun makhdul mu’a: pembisik ” yang kerap membisikkan sari manis semanis madu lebah dan faktanya nihil belaka

Pejabat abal-abal kampusnya bak artis ” syahrini ” yang kerap memposting foto-foto from swimming pool hotels ke hotels, aneh ya! tidak ada tulisan mereka para mengaku dengan segudang gelar akademik di Gramedia atau di Kompas sebagai koran terbesar di Indonesia. Ironis untuk meraih gelar akademik saja masih ” plagiator “.

Tolong jangan sebut rektorku plagiator  karena ketupat bangkahulu akan mendarat di wajahmu, saya cinta ilmu, saya cinta guru, saya cinta belantara ilmu pengetahuan tapi benci fasisme, primordialisme, apalagi hedonisme,  konon apalagi premanisme dan bar barianisme. [mi]

Reza Vahlevi – Alumni Fakultas Syariah UIN Ar-Raniry Banda Aceh sebagai Pengamat Sosial Aceh

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top