Breaking News

Wali Nanggroe Minta Himne Memiliki Nilai Patriotisme Aceh

“Belanda sampai mencari penulis syair “Dodaidi,” karena bisa membangkitkan semangat patriotisme Aceh,”

foto | dok. keurukon katibul wali

ACEHSATU.COM | BANDA ACEH – Tgk Malik Mahmud Al-Haythar yang saat ini menjabat Wali Nanggroe Aceh ke-9 menegaskan bahwa dalam setiap bait syair Himne Aceh harus memiliki makna keacehan dari nilai Islam sebagai agama dan nilai patriotisme sejarah kepahlawanan Aceh masa lalu.

“Saya meminta kepada tim penyelenggara sayembara Himne Aceh agar dalam setiap bait syair yang ditulis terdapat makna keacehan dari nilai Islam sebagai agama dan juga patriotisme Aceh,” kata Wali Nanggroe Aceh yang bergelar Paduka Yang Mulia, ini dalam pertemuan dengan Tim Shering Comitte dan Dewan Juri Sayembara Himne Aceh di Meuligo Wali Nanggroe, Banda Aceh, Kamis (7/12/2017).

Ia kemudian mencontohkan syair “Dodaidi” yang dinyanyikan para perempuan Aceh saat menidurkan anaknya di dalam ayunan. Syair ini telah ‘menghipnotis’ jutaan rakyat Aceh untuk menjadi gerilyawan bagi bangsanya saat melawan Belanda.

“Belanda sampai mencari penulis syair “Dodaidi,” karena bisa membangkitkan semangat patriotisme Aceh,” kata Malik Mahmud yang didampingi Staf Khusus Wali Nanggroe, DR Rafiq.

Karena itu, Wali meminta agar Tim Shering Comitte dan Dewan Juri Sayembara Himne Aceh bekerja keras untuk mendapatkan nilai tersebut.

“Kita bersama dengan Pemerintah Aceh harus lebih serius dan cepat dalam mengimplementasikan UUPA hasil dari kesepakatan damai MoU Helsinki. Himne, bendera, dan lambang adalah roh sedang pembangunan fisik adalah jasadnya, itu harus berjalan seiring,” kata Mantan Perdana Menteri GAM ini.

Tim Shering Comitte dan Dewan Juri Sayembara Himne Aceh yang diketuai Mirza Irwansyah, Abdul Gani Asyik, M Yakob Thailah, Tgk Ibnoe Arhas sebagai anggota dewan juri menemui Wali Nanggroe Aceh untuk meminta masukan terkait penetapan Himne Aceh.

Dalam pertemuan tersebut tim tersebut mempresentasikan tujuh judul syair yang akan ditetapkan sebagai Himne Aceh.

Selain itu, Wali Nangroe juga mengapresiasikan kebijakan DPRA yang telah menyelenggarakan sayembara Himne Aceh dan terus mencari masukan agar penetapan himne tersebut mewakili jiwa dan sejarah Bangsa Aceh.

Pertemuan berlangsung pukul 14.00 WIB juga dihadiri Sekwan DPRA, A Hamid Zain, Anggota DPRA, Tgk Abdullah Saleh, Seniman Sarjev, dan Madya Hus sebagai SC, serta OC dari Tim Sayembara Himne.

Secara khusus, Staf Khusus Wali Nanggroe, DR Rafiq kepada ACEHSATU.COM, mengatakan, antara irama dengan syair harus seiring sejalan, sehingga setiap bait dalam syairnya bisa merasuk dalam jiwa masyarakat Aceh yang patriotik.

Selain itu, nilai historis Aceh yang religi juga harus mengiringi nilai patriotisme. “Sejarah membuktikan, sikap patriotik rakyat Aceh didasari kepada nilai ajaran agama Islam,” pungkas DR Rafiq. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top