VIDEO – Kisah Korban Konflik Aceh Bertahan Hidup dengan Satu Tangan

Korban Konflik Aceh
Jurnalis Acehsatu,com saat mewawancarai Bukhari Yusuf, korban konflik Aceh di Gampong Paloh Peuradi, Kecamatan Kutablang, Bireuen. Foto Youtube/ACEHSATUtv

ACEHSATU.COM Sabtu, 15 Agustus 2020 tepat  15 tahun Gerakan Aceh Merdeka dan Republik Indonesia sepakat menghentikan konflik yang sudah berlangsung sejak tiga dasawarsa.

Konflik Aceh sudah mengakibatkan banyak korban berjatuhan.

Puluhan ribu warga sipil menjadi korban.

Sejak Pemerintah Indonesia menyatakan operasi militer pada tahun 2003, sedikitnya 2.000 orang telah terbunuh.

Saat itu, Pemerintah Indonesia menempatkan 30.000 tentara dan 12.000 polisi yang tersebar di seluruh pelosok Aceh.

Operasi militer ini dilakukan setelah GAM menolak ultimatum menerima otonomi khusus di bawah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Operasi ini merupakan operasi militer terbesar yang dilakukan Indonesia sejak Operasi Seroja tahun 1975 di Timor Timur.

Sampai kemudian peristiwa gempa bumi dan tsunami pada tahun 2004 menjadi alasan berakhirnya konflik bersenjata yangsudah terjadi selama 30 tahun.

Korban Konflik Aceh
Jurnalis Acehsatu,com saat mewawancarai Bukhari Yusuf, korban konflik Aceh di Gampong Paloh Peuradi, Kecamatan Kutablang, Bireuen. Foto Youtube/ACEHSATUtv

Nah, setelah 15 tahun Aceh menyongsong perdamaian.

Kami menurunkan sebuah wawancara langsung dengan seorang warga sipil yang menjadi korban konflik di Aceh.

Namanya Bukhari Yusuf.

Warga Paloh Peuradi Kecamatan Kutablang Kabupaten Bireuen ini mengalami cacat seumur hidup.

Ia kehilangan tangan kanannya, akibat terkena granat lontar saat membersihkan kebunnya.

Kampung Paloh Peuradi adalah salah satu kampung yang jadi basis para gerilyawan.

Perang secara sporadis pernah terjadi dengan menggunakan senjata artileri di kampung itu.

Pecahan mortir bertebaran di rawa-rawa, kebun dan juga di ladang warga.

Kasus cacatnya Bukhari menjadi bukti bahwa perang hebat pernah menghancurkan kampung itu.

Kini Bukhari tidak bisa bekerja selayaknya manusia normal yang lain.

Sehari-hari, Bukhari mengandalkan tangan kirinya untuk mengembala ternaknya.

Dengan sisa satu tangan, Bukhari harus tetap bekerja agar bisa menghidupi ketiga anak dan seorang istrinya.

Meski konflik sudah berakhir, namun nasib Bukhari tidak jauh lebih baik.

Ia masih menyimpan kenangan pahit sampai kini..

Kenangan yang tetap menganga..entah sampai kapan

Sampai 15 tahun Aceh Damai, Bukhari menjadi bukti bahwa masih ada korban konflik di Aceh yang nasib dan kehidupannya masih terabaikan. (*)

Lihat Juga Videonya di Sini:

Video Lainnya
Seputar Aceh
Kabar Lainnya