VIDEO – Arti Bahasa Mudik dan Pulang Kampung

VIDEO – Arti Bahasa Mudik dan Pulang Kampung

ACEHSATU.COM —  Pernyataan Presiden Joko Widodo  bahwa mudik dan pulang kampung itu berbeda menuai reaksi.

Jokowi datang membawa cara pandang berbahasa.

Publik terkesiap karena mengetahui ‘mudik’ dan ‘pulang kampung’ merupakan dua hal yang berbeda.

Najwa Shihab bertanya kepada Jokowi, apakah mudik itu dilarang atau tidak karena sudah banyak orang yang mudik sampai saat ini.

Jokowi lantas menjawab.

“Kalau itu bukan mudik, itu namanya pulang kampung. Memang bekerja di Jabodetabek, di sini sudah tidak ada pekerjaan, ya mereka pulang. Karena anak istrinya ada di kampung,” ujar Jokowi dalam wawancara eksklusif di acara Mata Najwa yang disiarkan Trans7, Rabu 22 April.

Menurut Jokowi, pulang kampung berbeda dengan mudik.

Jokowi mengatakan mudik dilakukan saat menjelang Hari Raya Idul Fitri.

Namun ‘pulang kampung’ tidak terbatas pada momen Lebaran.

“Ya kalau mudik itu di hari Lebaran-nya, beda, untuk merayakan Idul Fitri. Kalau yang namanya pulang kampung itu bekerja di Jakarta, tetapi anak-istrinya ada di kampung,” kata Jokowi.

Merujuk ke Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) versi Android, terbitan Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Kata ‘mudik’ memiliki dua arti.

Berikut adalah arti ‘mudik; dalam KBBI V.

1.(berlayar, pergi) ke udik (hulu sungai, pedalaman): dari Palembang — sampai ke Sakayu

  1. pulang ke kampung halaman

Contoh: seminggu menjelang Lebaran sudah banyak orang yang mudik

Berikut adalah arti ‘pulang kampung’.

kembali ke kampung halaman; mudik

Contoh: dia pulang kampung setelah tidak lagi bekerja di kota

Teryata pengertian ‘mudik’ dan ‘pulang kampung’ hampir sama.

Ada contoh yang disertakan dalam KBBI, yakni mudik disertai contoh konteks Lebaran, sedangkan pulang kampung disertakan konteks kondisi pekerjaan di kota.

Kata ‘mudik’, tak bisa dipungkiri, memang lebih sering terdengar saat suasana Lebaran, baik jelang, hari H, ataupun sesudahnya.

Kata ‘pulang kampung’ bisa dipakai lebih umum.

Namun kenyataannya, dua kata itu punya arti yang sama. (*)