Varian India Terdeteksi di Sumatera, Jadi Ancaman COVID Gelombang Kedua di Aceh

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Aceh menyatakan masyarakat provinsi paling barat Indonesia itu sudah longgar dalam menerapkan protokol kesehatan sehingga tidak tertutup kemungkinan akan terjadi lonjakan kasus COVID-19 gelombang kedua.
Varian India Terdeteksi di Sumatera
Ilustrasi - Warga memakai masker turun dari KMP Aceh Hebat 2 saat tiba di Pelabuhan Balohan, Kota Sabang, Senin (5/4/2021). (ANTARA/Khalis)

ACEHSATU.COM | BANDA ACEH – Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Aceh menyatakan masyarakat provinsi paling barat Indonesia itu sudah longgar dalam menerapkan protokol kesehatan sehingga tidak tertutup kemungkinan akan terjadi lonjakan kasus COVID-19 gelombang kedua.

“Tanpa kerjasama kita semua, gelombang kedua (COVID-19) yang biasanya lebih besar dari gelombang pertama akan terjadi di Aceh,” kata Ketua IDI Aceh dr Safrizal Rahman di Banda Aceh, Jumat (30/4/2021).

Dia menjelaskan dalam beberapa bulan terakhir penambahan kasus COVID-19 di Aceh dibawah angka 10 orang, namun selama dua pekan terakhir kasus baru rata-rata bertambah di atas angka 50 orang. Meski belum diketahui apakah virus terus menular itu merupakan varian baru atau varian lama.

Varian India Terdeteksi di Sumatera
Ilustrasi – Warga memakai masker turun dari KMP Aceh Hebat 2 saat tiba di Pelabuhan Balohan, Kota Sabang, Senin (5/4/2021). (ANTARA/Khalis)

Safrizal mengatakan lonjakan drastis itu karena masyarakat sudah mulai abai terhadap terhadap COVID-19. Sejak beberapa bulan terakhir kasus warga terinfeksi sudah mulai menurun sehingga protokol kesehatan tidak lagi menjadi perhatian.

Bahkan, lanjut dia, antusiasme terhadapt vaksinasi COVID-19 bagi beberapa kelompok juga masih sangat rendah. Maka hal ini dinilai berbahaya, karena sejarah membuktikan pandemi tidak hanya datang sekali, tetapi ada fase penurunan kasus dan akan kembali dengan gelombang kedua yang lebih besar.

“Apa yang terjadi di India membuktikan itu. India sudah hampir mengatakan mereka bisa herd immunity, vaksinasi diberikan hampir 100 juta orang, kondisi sudah tenang, kemudian masyarakat merasa sudah selasai, berlaku seolah-olah normal dan akhirnya kini terjadi ledakan berikutnya,” kata Safrizal.

Gelombang kedua lonjakan kasus COVID-19 dapat dicegah. Kata Safrizal masyarakat hanya perlu meningkatkan kewaspadaan dan menjadikan India sebagai pelajaran dalam penanggulangan COVID-19.

Apalagi, kata dia, COVID-19 varian India yang dikenal dengan B1617 tersebut penularannya sudah sampai di Sumatera. “Bahkan disinyalir bukan hanya sampai, tapi sudah menjadi transmisi atau sudah menyebar ke orang lain,” katanya.

Oleh sebab itu IDI meminta masyarakat menerapkan 5M yakni memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, membatasi mobilitas interaksi serta mencegah dan menghindari kerumunan. Di samping pemerintah terus melanjutkan program vaksinasi COVID-19.

“Harapanya terus menjaga dan memberikan pamahaman kepada masyarakat agar jangan abai. Karena tipe apapun dalam virus ini kalau bukan dengan protokol kesehatan maka tidak bisa kita lawan,” kata Safrizal. (*)