Valentine Day Adalah Hari Kasih Sayang, Mengapa Dilarang?

ACEHSATU.COM — Valentine Day meski sudah biasa dirayakan oleh orang-orang di negara barat.

Namun bagi mayoritas masyarakat Indonesia perayaan Valentine Day atau disebut juga Hari Kasih Sayang masih awam atau bahkan masih tergolong tabu.

Di negara-negara barat, yang penduduknya mayoritas beragama Kristen, merayakan Valentine Day merupakan bagian dari kebiasaan mereka.

Meskipun itu terdapat beberapa versi sejarah mengenai Valentine dikalangan penganut Kristen sendiri.

Bila ditilik dari sejarahnya, Valentine merupakan nama seorang pendeta dari Roma, yang memiliki kisah akhir hidup sangat tragis.

Legenda ini menceritakan bawah Valentine dipukuli dan berakhir dengan dipancung pada tanggal 14 Februari 278 Masehi.

Bentuk eksekusi ini merupakan sebuah hukuman karena pendeta Valentine dianggap menentang kebijakan seorang Kaisar bernama Claudius II.

Dari legenda tersebutlah menjadi cikal bakal perayaan Valentine Day di seluruh pelosok dunia saat ini.

Di mana setiap 14 Februari selalu ada perayaan momen kasih sayang terutama oleh orang-orang tercinta.

Pada hari itu mereka saling memberikan hadiah, coklat, dan pernak-pernik berwarna hati, diskon makan malam romantis, serta balon-balon yang menyemarakkan berbagai tempat.

Bahkan ada yang mengadakan pesta muda-mudi.

Bagi sebagian muda-mudi memanfaatkan Valentine Day sebagai hari yang tepat untuk mengungkapkan perasaan kepada pasangannya.

Melakukan make love, bernakoba ria, dan lain sebagainya. Tentu saja hal ini tidak sejalan dengan sejarah atau kisah Valentine.

Beragam cara orang merayakan hari Valentine. Masing-masing memiliki tradisi dan corak sendiri dalam mengisi hari sakral berkasih sayang itu. Beda negara beda pula ragamnya.

Apalagi selama ini orang-orang di negara yang memiliki umat islam mayoritas juga mulai latah dengan perayaan Valentine Day.

Sehingga menambah warna tersendiri.

Namun bagaimana pandangan Islam terhadap Valentine Day?

Secara tegas Islam melarang umatnya untuk merayakan Valentine Day.

Bukan berarti bahwa Islam menolak saling membagi kasih sayang. Justru Islam adalah agama yang penuh dengan kasih sayang.

Bahkan nama Tuhan saja dimulai dengan sebutan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Dalam agama Islam, perasaan kasih dan rasa sayang diletakkan sebagai dasar beragama.

Sehingga Islam sangat menentang segala bentuk kekerasan dan pemaksaan kehendak sebab hal itu bertolak belakang dengan semangat rahman dan rahim.

Rasa kasih dan sayang tersebut kemudian menjadi penghubung atau jembatan dalam berinteraksi. Tidak hanya sesama makhluk bahkan juga dalam berhubungan dengan Allah Swt.

Dengan begitu akan tercipta harmonisasi dalam kehidupan sosial dan spiritual.

Karenanya Islam sangat menaruh perhatian pada persoalan kasih sayang dan sama sekali tidak menentang segala bentuk kasih sayang itu sendiri.

Namun yang ditolak dalam ajaran Islam adalah segala bentuk yang dilarang oleh Allah sebagaimana firman Nya dalam Al-Quran serta Sunnah Nabi. Salah satunya adalah perayaan Valentine Day.

Dasar hukum Islam tidak membolehkan umatnya ikut merayakan Hari Kasih Sayang tersebut adalah karena perayaan hanyalah untuk mengenang jasa seorang Pendeta.

Selain itu untuk menyembah dan memuja dewa-dewa.

Artinya hal itu bukanlah peribadatan Islam.

Selain itu saling berkasih sayang dengan siapa saja haruslah tidak termasuk dalam kategori maksiat. Termaktublah disini orang yang bukan mahramnya.

Perkara ini dipandang sebagai zina dalam ajaran Islam. Sehingga setiap muslim wajib menghindarinya.

Berdasarkan latar belakang itulah, Pemerintah Kota Banda Aceh secara resmi melalui Surat edaran Wali Kota menolak secara tegas dan melarang warga Banda Aceh untuk merayakan Valentine Day.

Dalam surat tertanggal 10 Februari 2020 tersebut Aminullah menjelaskan jika Valentine Day bertentangan dengan Syariat Islam dan tidak sesuai dengan budaya Aceh.

Tujuan imbauan larangan itu dikeluarkan dalam rangka menjaga kesucian aqidah dan penguatan pengamalan Syariat Islam di Bumi Aceh.

Meskipun tidak dijelaskan sanksi apa yang akan dikenakan bagi yang tidak mengindahkan imbauan Pemko tersebut.

Namun hampir dapat dipastikan bahwa peringatan Valentine Day di Banda Aceh tidak akan ada perayaan semeriah di kota lain. Sebab bagaimana pun Pemko tidak melarang bagi umat Kristen yang merayakannya.

Pelarangan perayaan Valentine Day tidak hanya ditujukan kepada warga, khususnya umat muslim namun juga kepada pelaku usaha perhotelan/penginapan, cafe, tempat hiburan/permainan anak-anak dan keluarga, termasuk tempat-tempat wisata di Kota Banda Aceh.

Nah bagaimana pendapat Anda. Bolehkah menolak perayaan Valentine Day? (*)