Vaksin Pembentuk Kekebalan Ekonomi di Masa Pandemi

Walaupun beberapa golongan meyakini bahwasanya ini merupakan bagian dari konspirasi elit global, apabila Allah tidak menghendaki ini terjadi maka tidak akan terjadi.
Nanda Tri Pratama/Foto ACEHSATU.com

Tahun 2019 sampai 2020 merupakan periode genting bagi seluruh dunia. Berawal dari negeri tirai bambu tepatnya di kota Wuhan, tersebar sebuah virus yang sangat cepat penularannya antar manusia, dan virus itu bernama corona.

Tidak seperti virus biasa, virus tersebut dapat membuat orang mati dalam waktu singkat.

Hingga sampai saat ini kasus orang yang terinfeksi olehnya di dunia berjumlah 61.448.892 jiwa dengan jumlah kematian 1.440.526 jiwa dan yang sembuh 42.526.253 jiwa.

Dan di Indonesia sampai saat ini, kasus orang yang terinfeksi mencapai 522.581 jiwa, dengan jumlah kematian berjumlah 16.521 jiwa, dan yang sembuh berjumlah 437.456 jiwa.

Untuk mencegah penularan virus tersebut, kebijakan pertama yang diambil oleh pemerintah adalah karantina, atau pada awalnya dikenal dengan kata lock down.

Dengan adanya kebijakan tersebut, banyak sektor yang terkena dampaknya, dan yang paling terasa adalah sektor sektor ekonomi.

Mulai dari tempat-tempat perbelanjaan yang sepi, angkutan-angkutan baik darat seperti mobil, ojek, mobil bus, maupun angkutan laut bahkan udara pun ikut sepi.

Berhentinya aktifitas ekonomi tersebut, membawa dampak yang besar bagi perekonomian makro di dalam negara.

Dapat kita lihat dari banyaknya perusahaan-perusahaan barang dan jasa tutup, menyebabkan pemutusan hubungan kerja (PHK) terjadi dimana-mana.

Sehingga jumlah pengangguran dan tingkat kemiskinan bertambah, yang berujung pada turunnya pertumbuhan ekonomi suatu negara.

Keadaan seperti ini membuat masyarakat khawatir dan takut, terutama bagi mereka golongan menengah kebawah.

Seperti berada disuatu tempat yang gelap gulita dan tidak bisa melihat apapun, mau berjalan kedepan takut jurang mau mundur takut kawat berduri.

Kondisi ini sedikit tertenangkan dengan adanya bantuan dari pemerintah berupa bantuan langsung tunai (BLT) yang jumlahnya tidak sampai enam nol, cairnya dana kartu prakerja, ditambah lagi bantuan dari kelompok-kelompok sosial berupa makanan pokok, masker dan lain sebagainya.

Tetapi kekhawatiran dan ketakutan terus menghampiri.

Ditambah lagi di saat masa sulit seperti ini, keresahan muncul dengan adanya perlakuan sebagian orang yang kurang imannya, menghalalkan segala cara agar mereka dapat makan esok hari.

Sehingga mereka mencuri, merampok, membegal, mencopet, bahkan sampai membunuh untuk mendapatkan uang untuk mencukupi kebutuhan perutnya.

Dan juga tidak dapat dipungkiri juga, di masa genting seperti ini, kaum buruh harus demo kejalan untuk menuntut keadilan atas kebijakan pemerintah yang dinilai tidak memihak kepada mereka, dan itu terjadi di beberapa kota yang ada di Indonesia.

Angin segar yang berhembus dengan diisukannya bahwa vaksin sebentar lagi akan tercipta dan akan membentuk kekebalan tubuh dari virus yang sedang melanda saat ini.

Tetapi vaksin tersebut hanya dapat membentuk kekebalan tubuh agar terhindar dari virus, dan hanya dapat menyelesaikan satu masalah yaitu kesehatan.

Dan ada vaksin yang harus dimunculkan lagi untuk membentuk kekebalan ekonomi yang dengan izin Allah akan kita bahas di paragraf selanjutnya, apa itu?

Sebelum kita membahas jauh, di tengah pandemi yang sedang melanda, kita harus yakin dan percaya bahwasanya apa yang terjadi saat ini sudah direncanakan dan ditakdirkan oleh Allah SWT.

Walaupun beberapa golongan meyakini bahwasanya ini merupakan bagian dari konspirasi elit global, apabila Allah tidak menghendaki ini terjadi maka tidak akan terjadi.

Keyakinan ini memberikan rasa positif ke dalam tubuh manusia dan menjadikan kita selalu berfikir positif dan berprasangka baik kepada Allah.

Selanjutnya, vaksin yang pertama yang harus disuntikkan ke jiwa seluruh manusia adalah ruh ta’awun (ruh saling tolong menolong).

Di dalam kondisi ketidak pastian ini, yang pertama dan yang paling utama kita tanamkan adalah jiwa saling membantu antar sesama, dan yang pastinya membantu dalam kebaikan.

Membantu dapat kita artikan dan aplikasikan dengan arti yang sangat luas.

Yang paling sederhana adalah orang yang mempunyai kelebihan harta atau diberikan Allah hidup dengan ekonomi dengan taraf yang tinggi membantu mereka yang keadaan ekonominya sedang anjlok terdampak oleh pandemi Covid 19, dengan memberikan mereka sembako, masker gratis, alat pelindung diri bagi tenaga kesehatan, makan gratis dsb.

Yang demikian merupakan defenisi dan aplikasi kata membantu paling sederhana.

Dikatakan sederhana bukan karena sedikitnya bantuan yang diberikan, melainkan efek yang dirasakan hanya dalam waktu sesaat.

Membantu yang diinginkan pengaplikasiannya adalah yang membawa efek dalam jangka panjang.

Sehingga membawa dampak kepada peningkatan produktifitas barang dan jasa, sehingga dapat meningkatkan kembali perekonomian yang terpukul.

Diantara cara tersebut adalah dengan pemberian modal kerja dengan akad-akad yang sudah ditentukan di dalam fiqh muamalah.

Bekerja sama dengan mereka yang sedang berhenti produksinya dikarenakan pandemi dan kekurangan modal, dengan akan mudharabah, musyarakah, muzara’ah, shina’ah, ijarah, bahkan kalau bisa dengan akad qardhul hasan.

Karena di masa yang sulit ini, yang diutamakan adalah kembali mengoperasikan usaha yang terhenti, bukan menuntut keuntungan.

Tapi yang terjadi di lapangan belumlah sesuai dengan yang diharapkan, mereka yang mendapatkan permodalan, justru para pengusaha yang memiliki jaminan atas pembiayaan yang diajukan.

Tidak hanya jaminan, administrasi untuk mencairkan permodalan juga lumayan rumit. Sehingga para pengusaha yang masih kecil dan tidak memiliki jaminan atas pembiayaan, mereka tidak mendapatkannya.

Tidak sedikit dari mereka yang terpaksa mengambil ke rentenir dikarenakan proses pencairan lebih mudah, tetapi bagi hasil yang ditetapkan membuat mereka megap-megap.

Vaksin selanjutnya yang harus disuntikkan adalah vaksin kecintaan terhadap produk lokal.

Hal ini berkaitan dengan efek vaksin sebelumnya yang bertujuan untuk meningkatkan produksi.

Apabila terjadi produksi dan penjualan lalu tidak ada yang membelinya maka yang terjadi produsen lama kelamaan akan tutup juga.

Di saat-saat seperti ini sudah saatnya semua lini kehidupan di masyarakat bekerjasama, mulai dari masyarakat sampai jajaran para pejabat bersatu dalam memajukan perekonomian daerahnya masing-masing.

Pemerintah setidaknya dapat merangkul masyarakat dalam memproduksi seluruh kebutuhan manusia, mulai dari sandang, pangan, papan dan kesehatan.

Dan juga tidak lupa mengajak masyarakat untuk mengkonsumsi apa yang sudah diproduksi oleh masyarakatnya sendiri.

Sekarang adalah saatnya untuk sering-sering menggaungkan slogan-slogan untuk mengajak masyarakat mengkonsumsi produk lokal.

Mulai dari “ayo cintai produk lokal” “ayo belanja di warung tetangga” dan slogan lainnya.

Kata-kata itu mudah diucapkan, tetapi itu akan memompa kemajuan ekonomi masyarakat yang berdampak kepada kemajuan ekonomi daerah dan nasional.

Penulis: Nanda Tri Pratama (Mahasiswa Jurusan Ekonomi Syariah Pascasarjana UIN ARRANIRY Aceh).