Religi

Ustaz Umar Rafsanjani: Orang tak Peduli Sesama adalah tak Beriman

“Sumbangsih Aceh mari kumpulkan sebagai wujud kesadaran beriman, landasan iman ini harus diwujudkan dalam kiprah nyata. Mari kita tolong saudara kita di Palu,” tutup Ust. Umar Rafsanjani dalam tausiah singkatnya.

Foto | Muhammad Rain

ACEHSATU.COM | BANDA ACEH – Berlangsung dalam suasana khusyuk dengan iringan hujan gerimis menerpa kota seribu zikir Banda Aceh Gemilang, kegiatan rutin yang dilaksanakan oleh Majelis Zikir dan Pengajian Gemilang (MPG) berjalan dengan lancar, Jumat (malam) (12/10/2018).

Zikir dan Tausiah Gemilang Kota Banda Aceh yang berlangsung di Pendopo Walikota Banda Aceh tersebut menghadirkan pembicara energik dan menyerap perhatian para jamaah yang terkesan intrik juga menghibur dengan lelucon membuka arus pikir atas kenyataan kehidupan, dialah Ustaz Umar Rafsanjani, Lc. MA.

Termasuk sosok yang sangat mengharapkan kebijakan-kebijakan Banda Aceh sebagai kotamadya yang menggagas zikir rutin agar perubahan kehidupan dalam beribadah terutama melaksanakan syariat Islam difasilitasi dengan baik oleh para pengambil kebijakan, dalam hal ini Walikota Aminullah Usman.

Melalui tausiah Agama Islam secara singkat, Ust. Umar Rafsanjani menyampaikan beberapa kekhawatirannya terkait nilai “Saling Peduli pada Sesama” sebagai tema, tanpa kecuali terkait peristiwa gempa dan tsunami yang kini dialami oleh Sulawesi Tengah.

Dari paparannya dapat dikutip beberapa hal pokok terkat tema tausiah yakni;

Tanamkan Saling Peduli pada Sesama.

Islam merupakan agama yang menyelamatkan, sebagai ajaran yang menghadirkan rahmad bagi seluruh alam, karenanya sudah sepatutnya setiap orang Islam yang mengaku muslim mestilah membela sesama, menolong sesamanya.

Sesungguhnya orang Islam seperti tubuh yang satu, oleh sebab itu setiap muslim diperintahkan untuk bersatu dalam amal baik (amar makruf) maupun bersatu memberantas kemaksiatan (nahi mungkar)

Al-Quran dan Hadist telah Menyatakan Perintah Persatuan dalam kehidupan Manusia.

Persatuan dan kesatuan berdasarkan perintah Al-Quran maupun Hadis Rasullullah menjadi dasar bahwa bagi setiap insan diwajibkan membina persatuan dan kesatuan antarmereka, tanpa pandang siapa yang dimaksudkan mesti bersatu, tidak melihat dari wilayah mana mereka saling berasal.

Kota Palu, Donggala dan sekitarnya telah luluh lantak dihenyak gempa dan tsunami, tugas persatuan dan kesatuan dalam hal ini menjadi kewajiban bersama untuk bersatu menolong, membantu sesama.

Meskipun tetap ada saja orang-orang atau sekelompok/golongan yang menganjurkan tak perlu melakukan reaksi apapun atas gempa yang dialami saudara kita di Palu, alasan yang tak masuk akal oleh kelompok ini adalah bahwa “Palu penduduknya sudah demikian menyimpang dan penuh kemaksiatan, karenanya biarkan mereka kena musibah, jangan kita tolong, biar tahu rasa” ujar sebuah informasi di sms yang disebar. Ketika ada musibah, kita tidak berhak menghakimi, menyatakan hal demikian.

Bencana akan menimpa jika maksiat tidak secara bersama memberantasnya. Bagi pemimpin maupun masyarakat luas, lakukan pengawasan. Tegur dengan kekuasaan, tegur dengan mulut, atau hati selemah-lemahnya iman.

Jika tidak melakukan apapun hanya menganggap angin lalu dari kemaksiatan yang berlaku di lingkungannya maka akan tetap berimbas bencana.

Pilihan kita tak ada lain selain membantu, jika kita bercermin dari peristiwa Aceh yang juga alami musibah gempa dan tsunami 2004 silam, itu juga turut dilatarbelakangi kemaksiatan yang meraja lela di mana-mana.

Saat itu juga kekuasaan begitu lengangnya untuk berkiprah nyata menegakkan keadilan, seakan Aceh tak ada yang mengontrol kehidupan umat, semua sibuk mencapai kedudukan dan mengejar kenikmatan dunia.

Sebelum gempa dan tsunami menimpa Aceh, saat itu seakan tak ada lagi keadilan, tak bisa lagi membedakan yang haq dan batil, seakan hilang batasan benar dengan salah.

Hasilnya, bencana kita alami, orang-orang yang dulu kaya dan berkuasa menjadi papa, bahkan ada yang gila.

Wujudkan persatuan dan kesatuan dengan saling menolong sesama, jangan pandang siapa pihak maupun wilayah yang kita tolong, Aceh sepatutnya berdiri terdepan menolong warga Sulawesi Tengah yang kini mengalami apa yang dulu Aceh alami.

Hal itu bahkan menjadi bentuk rasa syukur Aceh sebab telah berhasil merekonstruksi keadaan pascatsunami.

Saling Tolong Menolong dalam Kebaikan

Bencana Aceh berkaitan erat dengan bencana Palu yang terjadi awal Oktober ini, jadikan itu sebagai pelajaran bagi manusia yang masih hidup.

Perintah Allah ambil peringatan bencana sebagai pelajaran yang paling besar atas perjalanan hidup manusia.

Bencana ini adalah rencana Allah supaya kita sadar, tidak lagi lalai dalam menjalani serta taat atas setiap perintah dan larangan-Nya, serta agar peduli pada sesama.

Saling tolong menolong dalam kebaikan sebagai wujud takwa adalah perintah Allah, dan karena itulah orang yang tak peduli pada sesama bukanlah orang yang beriman.

“Jika kamu tolong Allah, maka Allah akan tolong kamu, kiranya demikian makna dan tafsir atas turunnya perintah saling tolong menolong dari Allah,” urai Ust. Umar Rafsanjani.

Allah memberikan kepercayaan juga jaminan supaya manusia melakukan semua kebaikan atas kebaikan berdasarkan iman kepadaNya.

“Sumbangsih Aceh mari kumpulkan sebagai wujud kesadaran beriman, landasan iman ini harus diwujudkan dalam kiprah nyata. Mari kita tolong saudara kita di Palu,” tutup Ustaz Umar Rafsanjani dalam tausiah singkatnya. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top