Ustadz Abdul Somad  Kunjungi Makam Hamzah Fansuri

Berdasarkan sejumlah referensi, Syekh Hamzah Fansuri seorang cendekiawan, ulama tasawuf, dan budayawan terkemuka Aceh.
Foto: Net

ACEHSATU.COM | BANDA ACEH – Makam Syekh Hamzah Fansuri di Desa Oboh, Kecamatan Rundeng, Kota Subulussalam, masuk menjadi salah satu destinasi kunjungan, Ustadz Abdul Somad atau akrab disapa UAS. 

Ya, dalam kunjungan safari dakwah di Kota Subulussalam besok lusa, Rabu (13/10/2021). 

Kunjungan dai kondang asal Riau ini pun diharapkan akan menjadi momen memopulerkan keberadaan makam ulama sufi yang juga ahli filosofi dan sastrawan internasional ini sebagai destinasi wisata religi.

Informasi kedatangan UAS ke Kota Subulussalam dan Aceh Singkil ini tersebut sebelumnya telah dikonfirmasi Koordinator Ustadz Abdul Somad (UAS) untuk Aceh, Ustadz Nazaruddin Yahya Lc, melalui pesan WhatsApp kepada Serambinews.com, Minggu (10/10/2021).

“Insya Allah UAS mengisi beberapa agenda dakwah di Aceh Singkil dan Subulussalam pada tanggal 11-14 Oktober 2021,” kata Ustaz Nazar.

Nazaruddin Yahya mengatakan, kehadiran Ustaz Abdul Somad ke Aceh Singkil dan Subulussalam, dalam rangka memenuhi undangan dakwah di beberapa tempat di Negeri Syeikh Abdul Rauf tersebut.

Sementara di Kota Subulussalam setidaknya ada tiga lokasi agenda tujuan UAS sebagaimana rundown kunjungan wisata UAS ke Aceh Singkil dan Kota Subulussalam yang diterima Serambinews.com.

UAS dilaporkan tiba ke Kota Subulussalam sekitar pukul 15.00 WIB dan mengawali kunjungan di Pondok Pesantren Darul Affani bersama Wali Kota Subulussalam, H Affan Alfian Bintang SE.

Kunjungan ke Darul Affani di Desa Harapan Baru, Kecamatan Rundeng itu dijadwalkan pukul 15.30 WIB hingga pukul 16.30 WIB.

Selanjutnya, UAS berziarah ke Makam Syekh Hamzah Fansuri di Desa Oboh, Kecamatan Rundeng.

Kemudian, UAS akan mengikuti agenda pernikahan salah satu guru Pondok Modern Darurrahmah Sepadan.

Kegiatan ziarah ke Makam Syekh Hamzah Fansuri ini disambut baik pemerintah setempat dan masyarakat  dalam rangka mengangkat kembali kemasyhuran ulama yang dikenal dengan salah satu karya populernya berjudul ‘Syair Perahu’.

Kunjungan ke Subulussalam ada momen ziarah, sehingga diharapkan bisa menggabungkan karya tulis dan sejarah Syekh Hamzah Fansuri, yang belum terlalu dikenal oleh kebanyakan rakyat Aceh dan dunia luar itu berada di Subulussalam nantinya jadi tersohor ke penjuru nusantara bahkan dunia.

Sejarah Syekh Hamzah Fansuri

Untuk diketahui, makam ulama sufi yang juga ahli filosofi dan sastrawan internasional ini patut dikunjungi karena memiliki historis yang monumental lewat berbagai karyanya. 

Berdasarkan sejumlah referensi, Syekh Hamzah Fansuri seorang cendekiawan, ulama tasawuf, dan budayawan terkemuka Aceh. Ia salah satu penyebar agama Islam di Aceh. 

Desa Oboh terletak sekitar 23 kilometer atau 30-an menit perjalanan darat dari pusat Kota Subulussalam.

Makam sang ulama masyhur ini terawat rapi dalam bangunan kecil. Sebuah sungai mengalir tak jauh dari sisi kiri makam.

Di tempat itu, tak hanya Syekh Hamzah Fansuri yang dimakamkan. Di sekitarnya ada tiga makam lagi, yakni sahabat dan mertua Fansuri.

Bagi siapapun yang berkunjung, akan merasakan suasana tenang di tempat ini.

Ali Hasjmy dalam Jembatan Selat Malaka menuliskan, Hamzah juga memiliki salah seorang saudara bernama Ali.

Pada masa Sultan Alaiddin Malikussaleh memimpin Kerajaan Islam Samudera Pasai (1261-1289 Masehi), berduyun-duyun ulama Persia datang ke sana untuk mengajar di dayah-dayah.

Berbagai referensi dan artikel menyebutkan nama Fansur merupakan sebutan orang-orang Arab terhadap Kota Barus dan dalam kisah lain dikatakan menunjukan daerah Singkil, Aceh.

Kota kecil ini berada di pantai barat Sumatera yang terletak antara Sibolga, Sumatera Utara, dan Singkil, Aceh.

Namun yang pasti, Syekh Hamzah Fansuri diakui sebagai salah seorang tokoh kaliber besar dalam perkembangan Islam di nusantara.

Ia juga pujangga Islam yang menghiasi lembaran sejarah kesusastraan Melayu dan Indonesia.

Dapat anugerah dari SBY

Bahkan, penyair dan ahli tasawuf Aceh abad ke 17 tersebut, Selasa (13/8/2013) lalu mendapat anugerah Bintang Budaya Parama Dharma, yang diserahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam acara  penganugerahan Bintang Maha Putera, dan Tanda Jasa di Istana Negara.

Hamzah Fansury hidup dan berpengaruh pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636), merupakan tokoh utama yang mengangkat bahasa Melayu dari bahasa lingua-fransca, menjadi bahasa ilmu dan sastra.

Peneliti dari Malaysia, Prof Dr Naguib Alatas dalam bukunya  “The Mysticcism of Hamzah Fansuri” menyebut Hamzah Fansyuri sebagai  Pujangga Melayu terbesar dalam abad XVII, penyair Sufi yang tidak ada taranya pada zaman itu.

Karya-karya Hamzah Fansyuri antara lain “Syair Perahu, Syair Burung Pingai” dan lain-lain. “Syair Perahu” berisi petuah tetang kehidupan agar tetap memelihara amal kebaikan.

Dalam buku Hamzah Fansuri Penyair Aceh, Ali Hasjmy menuliskan, selama hidup, Syekh Hamzah pernah mengembara untuk merajut ilmu.

Lokasi-lokasi yang ia datangi seperti Banten (Jawa Barat), semenanjung Tanah Melayu, India, Parsi, dan Arab.

Hamzah Fansuri menguasai bahasa Arab, Urdu, Parsi, dan Melayu. Ia juga sangat mahir dalam bidang fikih, tasawuf, falsafah, mantik, ilmu kalam, sejarah, sastra, dan lain-lain.

Syair Hamzah Fansuri

Salah satu karya Fansuri yang terkenal ialah “Syair Perahu”. Cuplikannya seperti ini: “Inilah gerangan suatu madah/Mengarangkan syair terlalu indah/Membetuli jalan tempat berpindah/

Di sanalah i’tikad diperbetuli sudah// Wahai muda kenali dirimu/Ialah perahu tamsil tubuhmu/Tiadalah berapa lama hidupmu/Ke akhirat jua kekal diammu//Hai muda arif budiman/

Hasilkan kemudi dengan pedoman/Alat perahumu juakerjakan/Itulah jalan membetuli insan.

Untuk mengenang kemasyhuran syair ini, Pemko Subulussalam 2017 lalu membangun tugu di perempatan jalan nasional, Penanggalan persis dekat SPBU Kasman Lizar.

Syaie Syekh Hamzah Fansuri lainnya adalah;

Hamzah ini asalnya Fansuri // Mendapat wujud di tanah Shahrnawi // Beroleh khilafat ilmu yang ‘ali // Daripada ‘Abd al-Qadir Jilani.

Hamzah di negeri Melayu // Tempatnya kapur di dalam kayu.

Hamzah Fansuri di dalam Mekkah // mencapai Tuhan di Baitul Ka’bah // dari Barus terlalu payah // akhirnya dijumpa di dalam rumah.

Hamzah Fansuri orang uryani // seperti ismail menjadi qurbani // bukan Ajami  lagi Arabi //senantiasa wasil dengan Yang Baqi.