USK Gandeng AWF Kembangkan Biochar untuk Pertanian Organik

Universitas Syiah Kuala melalui Pusat Riset Biochar dan Hutan Tropis Lestari menggandeng Aceh Wetland Foundation (AWF) mengembangkan biochar untuk meningkatkan kesuburuan tanah pertanian.
Pusat riset biochar
Foto Dok. Pusat Riset Biochar dan Hutan Tropis Lestari.

ACEHSATU.COM | BANDA ACEH – Universitas Syiah Kuala melalui Pusat Riset Biochar dan Hutan Tropis Lestari menggandeng Aceh Wetland Foundation (AWF) mengembangkan biochar untuk meningkatkan kesuburuan tanah pertanian.

Proses penandatanganan perjanjian kerja sama keduabelah pihak berlangsung di Gedung Pascasarjana Universitas Syiah Kuala Banda Aceh, Selasa (12/4/2022).

Perjanjian kerja sama dua lembaga ini untuk mendukung pengembangan sumber daya manusia, penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta inovasi dan pengabdian untuk masyarakat.

Kepala Pusat Riset Biochar Dan Hutan Tropis Lestari Universitas Syiah Kuala, Prof. Dr. Ir. Darusman, M.Sc mengatakan, kerja sama ini untuk saling menguatkan peran masing-masing pihak dalam meningkatkan daya dukung lahan untuk pertanian.

Upaya ini, menurut Prof Darusman, dilakukan untuk membantu petani meningkatkan hasil produksi, meningkatkan pengetahuan dan memberikan edukasi bagi petani dan masyarakat umumnya.

Terkait penggunaan biochar, Prof Darusman mengatakan, biochar adalah bahan padat kaya karbon hasil konversi dari limbah organik (biomas pertanian) melalui pembakaran tidak sempurna atau suplai oksigen terbatas (pyrolysis).

Ditambahkan, fungsi biochar sebagai pembenah tanah, dan sebagai bentuk sekuestrasi (penambatan) karbon juga dapat dikatakan sebagai fungsi biochar terhadap lingkungan.

Dikatakan, pembuktian secara empirik sudah banyak dilakukan, menunjukkan bahwa biochar dapat meningkatkan kesuburan dan C organik tanah.

Komposisi tanah yang ideal mengandung 5% bahan organik.

“Tapi nilai tersebut sangatlah jarang ditemukan di tanah-tanah pertanian di tempat kita, terlebih lagi lahan kering,” kata Prof Darusman sembari menyebut bahwa kehilangan bahan organik sebagian besar karena proses dekomposisi dan degradasi lahan, sehingga perlu upaya untuk perbaikan.

Pusat riset biochar
Foto Dok. Pusat Riset Biochar dan Hutan Tropis Lestari.

Penambahan biochar sebagai pembenah tanah sangat potensial untuk mendukung pertanian berkelanjutan atau meningkatkan kualitas lahan.

Biochar selain dapat  menjadi pembenah tanah dan meningkatkan pertumbuhan tanaman, juga berperan dalam mengendalikan hama dan penyakit.

Selain itu, biochar memiliki karakteristik yang tahan terhadap dekomposisi tidak seperti pupuk kandang, kotoran ayam maupun kompos yang lainnya, sehingga ketersediaan di dalam tanah relatif lebih lama.

“Manfaat biochar terhadap lahan pertanian kita antara lain memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah,” kata pakar Klimatologi ini.

Direktur AWF, Yusmadi mengatakan, pihaknya akan mengembangkan biochar untuk mendukung petani kecil yang selama ini lahan mereka terdegradasi oleh berbagai faktor.

Apalagi biochar bisa diproduksi dari limbah hasil pertanian yang tidak termanfaatkan seperti limbah tongkol jagung, kulit kakao, cangkang kelapa, cangkang sawit, sisa bambu, sisa kayu kayu dari somil dan mebel, bahkan kotoran ternak juga bisa dimanfaatkan untuk menjadi biochar.

“Petani sangat mungkin menggunakan biochar karena bahan baku yang mudah, aman dan efisien.” (*)