Nasional

Usai Gempa Palu, Tarif PSK di Tondo Ikut Turun, Mau Tau Berapa?

“Alasan itu. Tadi malam ada teman didatangi rumahnya. Dia ketuk-ketuk. Cari pelanggan,” beber seorang rekan yang bermukim di Palu.

FOTO | ILUSTRASI

ACEHSATU.COM – Mayoritas pekerja seks komersial atau PSK di Tondo, Palu Sulawesi Tengah pulang ke kampung halamannya usai gempa Palu.

Namun, masih ada yang bertahan dan beroperasi di indekos mereka.

Akses masuk ke Tondo relatif lengang. Hanya satu dua kendaraan yang lewat.

Di dekat pertigaan, awak Fajar memarkir motor matik di bawah pohon.

Sembilan pohon masih berderet rapi di sebelah selatan sebelum sampai ke pintu belakang sebuah rumah besar. Usianya kira-kira lima tahunan.

Aneka diameter. Kru Fajar berteduh di bawah pohon yang paling rindang.

Sekitar 15 menit, seorang kenalan menghampiri. Dari arah Jl RE Martadinata, Kota Palu. Sebuah jalan nasional, penghubung antarprovinsi di Sulawesi. Bagian dari jalan Trans-Sulawesi. Jalan ini menghubungkan Palu, Donggala, dan Toli-toli.

BACA: Cerita Pesatnya Perkembangan LGBT di Palu, dari Pesta Seks Hingga Pemilihan Miss Waria

Edy namanya. Ada tato di lengannya. Dia menguasai wilayah itu. Sudah lama menetap di Palu. Setelah bertegur sapa, kami menyalakan mesin motor. Dia menjadi pemandu awak Fajar yang mengikuti dari belakang.

Bagi yang tak biasa, tidak akan tahu bahwa jalanan yang dilalui itu merupakan akses menuju sebuah kawasan prostitusi yang disebut-sebut terbesar di Sulawesi itu. Yang usianya telah lama.

Tak ada petunjuk sama sekali bahwa ada penjaja seks di sana. Di ujung jalan dengan lebar delapan meter tanpa trotoar.

Untuk masuk ke sana, warga sekitar akan dengan sederhana menjelaskan seperti ini: di sebelah kanan Jl RE Martadinata, ada kantor pemasaran sebuah merek otomotif.

Di depan showroom itulah ada jalanan. Pertigaan tepatnya. Masuk ke situ. Lebih sederhananya lagi, masuk ke lokalisasi itu, cukup menanyakan Tondo Kiri. Semua warga pasti mengetahuinya.

Tondo Kiri dan Tondo Kanan, sebetulnya bukanlah nama resmi administratif. Dibuat hanya untuk membedakan antara kompleks permukiman dan kawasan lokalisasi prostitusi. Data Pemkot Palu, Kelurahan Tondo memiliki luas 55,16 kilometer per segi.

“Dahulu, di sini hanya hutan,” ujar Edy sesampai di ujung gang dan memarkir motor di depan sebuah tempat karaoke, Minggu, 7 Oktober.

Ada beberapa blok di Tondo Kiri. Sebagian besar tempat hiburan. Yang sekaligus menyediakan alkohol dan aneka softdrink. Layanan utamanya bagi yang butuh menyalurkan hasrat biologis: esek-esek. Hampir semua rumah yang telah disulap jadi kafe dan tempat karaoke itu menyediakan.

Awak Fajar bertemu seorang pemilik kafe yang lebih mirip warung. Bahrin. Begitu dia memperkenalkan diri. Pria kelahiran Parepare, pada 1956 silam. Tangannya sedang memegang palu.

Sedang menata pagar yang ambruk dihantam gempa yang disusul tsunami itu.

Telah lama dia menetap di Palu. Sejak 1986. Di kota ini pula dia bertemu wanita yang kini menjadi istrinya. Bahrin bersyukur, tiga anak serta istrinya itu, selamat dari gempa dan tsunami. Namun, istrinya luka-luka.

“Sudah pulang kampung semua,” kata Bahrin saat menjawab pertanyaan dari awak Fajar soal para perempuan penjaja seks yang menghuni kawasan Tondo Kiri ini.

Di depan warungnya, jalanan terlihat lebih sempit. Hanya satu mobil bisa lewat. Kru Fajar menyodorkan rokok, permen, dan wafer kepadanya. Aktivitasnya dihentikan. Menggeser badannya ke arah timur. Ada undakan lantai di situ. Bahrin duduk. Melantai.

Cerita tentang perempuan sewaan dan prostitusi di Tondo kami jeda. Dia kesal. Saat mengungsi, penjarah masuk ke dalam rumahnya. Tabung gas dan kompornya dicuri.

BACA: Sebelum Tsunami Menerjang, Pelaku LGBT di Kota Palu Meningkat Tajam

“Pasti orang dalam juga pelaku. Tidak mungkin orang luar tahu kondisi rumah,” ketusnya.

Rokok di sela telunjuk dan jari tengahnya diisap dalam. Wafer yang disodorkan tadi dicicipinya. Sambil mengambil segelas air mineral dari dalam kardus yang telah sobek.

Kebanyakan perempuan penjaja seks statusnya hanya sebagai pekerja di kafe-kafe dan warung remang-remang di Tondo Kiri.

Usai tsunami, tak semuanya pulang kampung. Sebagian bertahan tinggal.

“Alasan itu. Tadi malam ada teman didatangi rumahnya. Dia ketuk-ketuk. Cari pelanggan,” beber seorang rekan yang bermukim di Palu.

Para penjaja seks itu tetap beroperasi.

Namun, tak lagi di Tondo Kiri. Memanfaatkan indekosnya. Atau rumah pria yang mem-booking-nya. Tarifnya turun. Jika dulu Rp 250 ribu, sekarang Rp 50 ribu pun diterima. Tetapi, tergantung negosiasi tentunya. (*/fajar)

Sumber: jpnn.com   

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top