oleh

“Uroe Meugang” dan Pesan Moral yang Terkandung di Dalamnya

-Opini-117 views

Oleh: Hamdani, SE.,M.Si

ACEHSATU.COM – BERBAGAI persiapan mulai dilakukan oleh umat muslim dalam menyambut bulan suci ramadan sejak empat bulan yang lalu, bahkan sejak setahun yang sebelumnya.
Menyambut datangnya bulan ramadan bagi ummat muslim setiap tahun merupakan sebuah nilai yang diajarkan oleh Islam.

Apalagi jika disambut dengan hati senang dan gembira, maka pahalalah bagi mereka.

Bahkan Rasullullah Saw memberikan garansi dan kabar gembira bagi siapa saja yang gembira dengan datangnya bulan ramadhan maka diharamkan atasnya siksa api neraka.

Tetapi datangnya ramadan bagi ummat Islam di Aceh bukan hanya disambut dengan meriah, gembira, dan senang karena sang tamu agung tersebut telah tiba. Namun ada tradisi lain yang selalu dirayakan dengan meriah yang mengiringi masuknya bulan suci ramadan.

Tradisi itu dikenal dengan sebutan “Meugang” atau hari meugang. Tradisi tersebut telah dilakukan sejak zaman dulu, sudah turun temurun.

Meugang adalah istilah dalam bahasa Aceh. Meugang yaitu tradisi memasak daging dan menikmatinya bersama keluarga, kerabat dan yatim piatu oleh masyarakat Aceh, Indonesia. Meugang atau Makmeugang adalah tradisi menyembelih kurban berupa kambing atau sapi dan dilaksanakan setahun tiga kali, yakni Ramadhan, Idul Adha, dan Idul Fitri, (wikipedia).

Biasanya meugang dilakukan dua hari sebelum masuknya bulan puasa, tepatnya pada hari ini, Sabtu, 4/5/2019 dan esok hari.

Pada hari itu masyarakat peternak sapi atau kerbau menyembelih ternak mereka lalu menjualnya di pasar. Sebagian peternak ada juga yang tidak memotongnya dan memasarkan daging hewan mereka sendiri. Tapi dijual kepada orang lain.

Pemotongan hewan pada hari meugang tersebut bisa berjumlah ribuan ekor sapi dan kerbau. Harga rata-rata daging dijual berkisar 160-180 ribu rupiah per kilogram bahkan di beberapa daerah ada yang sampai 200 ribu per kilogram. Setiap rumah tangga biasanya membeli 2-3 kilogram daging untuk disantap bersama keluarga.

Pasar daging sapi khusus tersebut dapat dimasuki oleh siapa saja. Yang terpenting mereka punya modal untuk membeli hewan lalu memotong dan menjual dagingnya kepada masyarakat.

Hewan yang dipotong pada hari meugang haruslah hewan atau ternak yang sehat. Guna memastikan kesehatan ternak, Dinas Peternakan Aceh atau kabupaten/kota melakukan pemeriksaan atau pengecekan kesehatan Sapi atau Kerbau sebelum pihaknya mengeluarkan rekomendasi.

Hal itu dilakukan dalam rangka mencegah agar daging hewan yang nanti dikonsumsi oleh masyarakat mengandung penyakit menular yang berbahaya. Sekaligus ini sebagai tanggung jawab pemerintah untuk menyediakan bahan pangan yang sehat dan bebas penyakit.

Kemeriahan masyarakat Aceh menyambut tradisi meugang selalu menarik untuk diperhatikan. Walaupun meugang itu selalu ada setiap tahunnnya atau sudah rutin dan terbiasa dilakukan. Namun begitu tetap saja selalu meriah dan menarik.

Pada hari itu masyarakat Aceh yang diperantauan pun pasti pulang ke kampung untuk merayakan hari meugang bersama keluarga mereka. Saat hari meugang itulah anak-anak muda dan yang pulang dari merantau bertemu dan saling silaturrahim di kampung.

Suasana keakraban dan saling melepaskan rindu sesama teman dan keluarga yang lama tidak bertemu karena di tempat rantau masing-masing tumpah di hari meugang. Mereka berjumpa dan saling mengisahkan pengalaman ditempat kerja atau usaha (bisnis) yang mereka jalani selama di rantau orang.

Setelah bertemu dengan teman, sahabat, dan keluarga serta saling memaafkan satu sama lain agar saat masuk bulan puasa tidak ada lagi dosa dengan manusia, mereka pun kembali berangkat ke daerah perantauan masing-masing, dan akan berjumpa kembali pada saat lebaran Idul Fitri.

Makna Meugang bagi Orang Aceh

Tradisi meugang hanya ada di Aceh. Meugang telah menjadi sebuah tradisi unik bagi etnik Aceh. Saya rasa tidak ada di daerah lain di Indonesia yang melakukan pemotongan hewan secara massal dan harga dagingnya tinggi seperti halnya di Nanggroe Aceh.

Meugang bagi orang Aceh bukan sekedar tradisi belaka, namun dibalik itu memiliki makna yang sarat dengan pesan moral dan ajaran agama.

Meugang memang bukanlah perintah wajib dalam ajaran Islam. Artinya tidak dilakukan juga tidak masalah. Namun jangan dikatakan pula bahwa ini perbuatan bid’ah karena hal ini tidak dilakukan oleh Nabi.

Sebab selama ini ada sebagaian kelompok masyarakat yang menuding bahwa meugang merupakan perbuatan atau tradisi yang tidak perlu diteruskan karena tergolong pada perbuatan bid’ah.

Menurut kelompok ini memandang hari meugang justru mendatangkan mudharat bagi masyarakat terutama masyarakat golongan fakir miskin dan anak yatim yang ekonomi mereka sangat lemah.

Alasan mereka menyandarkan pada harga daging yang dijual pada pasar hari meugang terlampau tinggi sehingga membuat masyarakat ekonomi lemah tidak memiliki kemampuan atau daya beli.

Sehingga membuat mereka merasa sedih dan kecewa karena tidak dapat menikmati daging sebagaimana keluarga lain tetangga mereka. Nah ini tergolong mendatangkan mudharat karena membawa kesedihan bagi saudara-saudara kita yang lain.

Namun benarkah demikian? Justru sebaliknya, hari meugang adalah hari berbagi antar sesama terutama dengan fakir miskin, anak yatim, dan kaum dhuafa.

Makna meugang berarti orang yang mampu secara ekonomi menjadikan hari tersebut sebagai ajang untuk berbuat baik kepada tetangganya dan orang-orang yang membutuhkan.

Sekurang-kurangnya mengundang mereka untuk menyantap kenduri makan siang di rumah.
Jadi meugang membawa pesan bahwa setiap orang yang mampu untuk memiliki kepedulian sosial, peka terhadap sekeliling mereka dan menolong kaum dhuafa untuk dapat menikmati meugang bersama.

Begitu pula seorang anak yang masih memiliki orang tua, meugang membawa pesan agar mereka tidak pernah lupa kepada kedua ibu bapaknya. Kirimkan belanja jika kita tidak bisa pulang karena sibuk dengan kewajiban yang tidak bisa ditinggalkan.

Itulah makna meugang sebagai sebuah ajaran. Bahwa apa yang telah dilakukan oleh para orang tua kita terdahulu pasti memiliki suatu kebaikan dan filosofi tradisi yang tidak bertentangan dengan Islam. (*)

Penulis adalah Dosen Politeknik Kutaraja
Email: [email protected]

Komentar

Indeks Berita