Untuk Kalian yang Suka Mengkritik

Hamdani.

Meskipun kritik merupakan nutrisi bagi pertumbuhan kebijaksanaan namun bergerak memperbaiki diri setelah dikritik bukan pula sikap bijaksana. Apalagi bila bersikap antikritik maka benar-benar tidak wajar.

Kritik seringkali dialamatkan pada objek yang terlihat secara kasat mata tidak sejalan dengan logika yang sahih. Objek itu dapat berbentuk tidak se-iya sekata antara ucapan dengan perbuatan, bisa pula berwujud kesalahan norma yang disengaja.

Secara konsep kritik dapat dikatakan sebagai proses analisis dan evaluasi terhadap sesuatu (objek) dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman, memperluas apresiasi, atau membantu memperbaiki pekerjaan.

Kritik bekerja secara alamiah dan ilmiah diranah logika dan kaidah kelimuan. Dia diakui keberadaannya sekaligus dipakai sebagai alat. Kritik digunakan sebagai alat untuk menarik benang merah diantara kebenaran dan kesalahan. Bila kritik itu dilakukan oleh orang yang tepat dan bijaksana maka hasilnya adalah berbuah manis dan lezat. Begitu sebaliknya.

Akan tetapi sangat disayangkan dalam dunia yang tak jelas ini, kritik dipakai sebagai alat pemukul oleh orang-orang yang sangat ingin “membunuh” karakter orang lain atas dasar hawa nafsu. Ibarat pisau tajam dan berkarat dipakai untuk menusuk orang baik dari belakang. Tujuannya jelas untuk “menghabisi”.

Dalam perpolitikan yang berbasis demokrasi, kritik kerap muncul mulai dari meja parlemen hingga ke warung-warung kopi. Namun wujud dan karakter kritiknya mengusung kepentingan politik antar kelompok bahkan untuk kepentingan pribadi. Dan hal itu boleh-boleh saja meski terkesan tidak beretika.

Materi kritik pun dicari-cari dari kesalahan-kesalahan yang tidak sengaja, kemudian diangkat dan dikemas dengan bahasa perantara yang logic dan seakan-akan sangat ilmiah dan memihak pada kebenaran. Padahal itu hanyalah permainan akal dan tipu muslihat sifat bulus pengkritik. Bagi saya kritik macam ini adalah kehormatan yang sangat rendah.

Dalam prespektif Islam kritik harus objektif artinya kritik harus didasarkan pada fakta-fakta yang akurat serta pengetahuan yang dapat dipertanggung jawabkan terhadap masalah yang dikritik. Kritik harus rasional, artinya bahwa kritik yang dilakukan harus dapat dipertanggung jawabkan secara akal sehat.

Dengan demikian dalam menyampaikan kritik jangan asal kritik. Seseorang harus hati-hati dalam memberi kritik dan tahu ilmunya. Karena tanpa kehati-hatian dan tanpa mengetahui etika mengkritik yang benar, akan menimbulkan perselisihan, permusuhan, dan perpecahan. Akibatnya kritik akan berujung pada sikap melukai.

Much Hisyam dalam artikelnya yang berjudul Etika Mengkritik menukilkan pesan Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam al-Fatawa mengatakan, “Wajib bagi setiap orang yang memerintahkan kebaikan dan mengingkari kemungkaran berlaku ikhlas dalam tindakannya dan menyadari bahwa tindakannya tersebut adalah ketaatan kepada Allah. Dia berniat untuk memperbaiki kondisi orang lain dan menegakkan hujah atasnya, bukan untuk mencari kedudukan bagi diri dan kelompok, tidak pula untuk melecehkan orang lain.”

Begitulah sejatinya sikap kita ketika ingin melontarkan kritik kepada orang lain. Mengkritik meski ada ilmunya dan berniat karena Allah untuk mengajak kepada kebaikan bukan karena terdorong oleh sifat ingin menonjolkan diri dan hendak memperlihatkan kelemahan orang lain didepan khalayak. Wallahu’alam. (*)