oleh

Unicef Kehabisan Kata untuk Menggambarkan Ghouta Timur

ACEHSATU.COM | JENEWA — Badan Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (Unicef) mengeluarkan surat pernyataan resmi ‘kosong’ terkait serangan udara yang terjadi di Ghouta Timur, Suriah. Pernyataan tersebut dibuat sebagai bentuk protes atas banyaknya korban jiwa dari kalangan anak-anak atas peristiwa tersebut.

Unicef mengaku sudah tidak memiliki kata-kata untuk menggambarkan peristiwa yang terjadi di kota itu. Pernyataan itu berisi 10 baris berikut tanda kutip tanpa memuat teks sekalipun untuk menegaskan pernyataan kosong tersebut. Keterangan resmi itu hanya memuat catatan kaki untuk menjelaskan pernyataan diatasnya.

Unicef berpendapat tidak ada kata-kata yang adil dan pantas dikeluarkan terhadap anak-anak yang terbunuh beserta ibu, ayah dan juga keluarga yang mereka cintai. Dikeluarkannya pernyataan kosong ini lantaran UNICEF tidak mampu menggambarkan penderitaan anak-anak di kawasan tersebut.

“Juga sebagai bentuk amarah kami. Apakah orang-orang yang menimbulkan penderitaan masih memiliki kata-kata untuk membenarkan tindakan barbar mereka?” kata Direktur Regional Unicef Geert Cappalaere, Ahad (20/2/2018).

Serangan udara dan pengeboman di Ghouta Timur dilakukan oleh militer Suriah terhadap kubu gerilyawan. Langkah itu menjadi awal dari serangan militer berskala besar terhadap berbagai kelompok gerilyawan di Ghouta Timur.

Kawasan itu merupakan wilayah pemberontak terakhir yang tersisa di sebelah timur Damaskus, dan telah dikepung oleh pasukan Presiden Suriah Bashar al-Assad sejak 2013.

Kawasan tersebut ditempati oleh empat kelompok utama seperti Tentara Islam, Failaq Ar-Rahman, Ahra Ash-Sham dan Komite Pembebasan Levant (LLC) yang juga dikenal dengan nama Front An-Nusra, yang memiliki hubungan dengan Alqaidah.

Menurut O, sedikitnya 20 anak-anak termasuk di antara korban yang tewas terbunuh dalam serangan udara yang tak henti-hentinya di Ghouta Timur. Pasukan pemerintah Suriah juga terus melakukan penembakan artileri ke wilayah yang dihuni oleh sekitar 400 ribu penduduk itu.

Komentar

Indeks Berita