Lingkungan Hidup

Uni Eropa tidak Lagi Terima Sawit dari Perusahaan Perusak Hutan di Indonesia

Uni Eropa dan Indonesia juga berkomitmen penuh terhadap isu-isu lingkungan dalam FTA, seperti budidaya sawit yang tidak ramah lingkungan.

ACEHSATU.COM | JAKARTA – Presidium Aceh Green Community (AGC), Suhaimi Hamid mengatakan, AGC akan mendukung hasil perjanjian perdagangan bebas atau free trade agreement (FTA) antara Uni Eropa dan Indonesia yang menolak produk pertanian yang merusak lingkungan.

Dalam hal ini, Uni Eropa dan Indonesia juga berkomitmen penuh terhadap isu-isu lingkungan dalam FTA, seperti budidaya sawit yang tidak ramah lingkungan.

BACA: Kelapa Sawit Ikut Bunuh Orangutan, Hati-hati Memilih Kosmetik Anda

“Sawit tidak diterima lagi di Uni Eropa apabila dalam proses budidaya terjadi perambahan hutan baik hutan lindung maupun hutan konservasi. Ini sudah disepakati dalam perjanjian perdagangan bebas,” tegas Suhaimi kepada ACEHSATU.COM, Sabtu (11/8/2018).

Sebelumnya, Suhaimi menghadiri workshop development solutions bersama 50 pemangku kepentingan yang mewakili organisasi non-pemerintah, klaster bisnis, organisasi buruh, aktor masyarakat sipil lainnya, dan organisasi internasional ini berlangsung di Hotel Shangri-La Jakarta, Kamis (10/8/2018).

BACA: Ayo Dukung Petani Alihkan Rp11,7 Triliun dari Tangan Konglomerat Sawit!

Untuk itu, organisasi masyarakat juga diharapkan harus melaporkan perusahaan-perusahaan sawit yang merusak lingkungan.

“Kemudian, produk-produk sawit tersebut akan ditolak di pasar Eropa,” tambah Suhaimi.

Hasil dari penilaian dampak berkelanjutan atau Sustainability Impact Assessments (SIA) ini juga berpotensi memengaruhi dimensi ekonomi, sosial, hak asasi manusia dan lingkungan di masing-masing mitra dagang dan di negara-negara yang terkena dampak lainnya.

BACA: Pemerintah Jokowi Suntik Lima Konglomerat Sawit Rp7,5 Triliun

Suhaimi berpendapat Indonesia  tertinggal jauh sekali dengan negara-negara  lain, apalagi di Uni Eropa.

Maka sudah saatnya pemerintah secara bersama-sama harus mengejar ketertinggalan tersebut.

Perjanjian ini merupakan hasil workshop yang diadakan oleh Development Solutions Uni Eropa tentang promosi produk pertanian yang ramah lingkungan.

BACA: Lahan 400 Hektare Masih dalam Sengketa, Warga Cot Mee Tolak Tawaran Ganti Rugi PT Fajar Baizury & Brother’s

“Kami mendukung hasil perjanjian perdagangan bebas atau Free Trade Agreement (FTA) antara Uni Eropa dan Indonesia yang menolak produk pertanian yang merusak lingkungan di pasar Eropa,” tegas Suhaimi Hamid.

AGC juga mengharapkan Pemerintah Indonesia dan Aceh khususnya, untuk membuat kebijakan yang berlandaskan International Public Goods (IPGs) agar semua produk-produk masyarakat Aceh dapat di pasarkan di tingkat internasional.

BACA: Sengketa Lahan PT Fajar Baizury dan Sejarah Perlawanan Warga

“Kami juga mengucapkan terima kasih kepada Development Solutions telah mengundang AGC dalam workshop penting ini. Hal ini sinergi dengan misi AGC dalam mempromosikan produk pertanian yang ramah lingkungan. Produk ini diharapkan akan mudah diekspor ke pasar Eropa,”pungkas Suhaimi. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top