UMKM Aceh Butuh Kredit Investasi dengan Proses Mudah

Kelompok usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang terdampak pandemi Covid-19 di Aceh butuh suplai dana segar untuk investasi. Meskipun kebutuhan modal kerja juga cukup mendesak saat ini. Penyaluran kredit investasi untuk sektor UMKM di Aceh masih sangat rendah baik dari produk Kredit Usaha Rakyat (KUR), non KUR, maupun produk komersial.
relokasi Pasar peunayong
Pemko Banda Aceh melakukan relokasi Pasar Peunayong ke Pasar Almahirah, Lamdingin, senin (24/5/2021) acehsatu.com/ humas

ACEHSATU.COM | BANDA ACEH – Kelompok usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang terdampak pandemi Covid-19 di Aceh butuh suplai dana segar untuk investasi. Meskipun kebutuhan modal kerja juga cukup mendesak saat ini. Penyaluran kredit investasi untuk sektor UMKM di Aceh masih sangat rendah baik dari produk Kredit Usaha Rakyat (KUR), non KUR, maupun produk komersial.

Ini menandakan tingkat kepercayaan lembaga keuangan terhadap UMKM dinilai rendah.

Menteri Investasi Bahlil Lahadalia mengatakan, porsi penyaluran kredit kepada segmen usaha mikro, kecil, dan menengah masih rendah. Padahal, UMKM menjadi sektor usaha terbesar di Indonesia, dengan jumlah mencapai sekitar 54,6 juta usaha. (Kompas.com, 31/5/2021)

Jika secara nasional tidak lebih dari 19 persen (total penyaluran kredit) ke sektor UMKM, maka di Aceh tingkat penyaluran kredit investasi kisaran di bawah 10 persen. Padahal banyak UMKM yang butuh investasi untuk peremajaan alat produksinya.

UMKM mengaku sulit mengakses kredit KUR dan lainnya yang ada di lembaga keuangan perbankan karena prosedur yang rumit dan persyaratan yang berat. Untuk skema KUR super mikro dan mikro Bank tetap meminta agunan tambahan bersertifikat hak milik.

Kebijakan berbeda dengan yang diharapkan oleh pemerintah, dimana untuk KUR super mikro dan mikro tidak boleh ada agunan tambahan, pesan ini cukup jelas dan itu diucapkan oleh presiden. Namun kenyataan di lapangan semua bank meminta agunan.

Ini yang membuat UMKM merasa bahwa janji pemerintah diabaikan oleh pihak bank.

Salah satu UMKM yang bergerak di bidang budidaya Udang di Banda Aceh yang tidak mau ditulis namanya mengaku terpaksa membatalkan niatnya untuk mengajukan permohonan kredit ke bank karena tidak memiliki sertifikat tanah. Padahal penambahan modal investasi tersebut sangat ia butuhkan untuk usaha tambaknya. Hal ini tentu dapat menghambat pengembangan usaha UMKM.

Namun Menteri Investasi berpendapat penyebab utama rendahnya penyaluran kredit UMKM ialah masih banyaknya yang beregerak di sektor informal. “Banyak UMKM kita yang informal, sehingga perlu didorong pelaku UMKM mendapatkan Nomor Induk Berusaha, melalui sistem Online Single Submission (OSS). Dengan demikian, pelaku UMKM dapat mengajukan kredit ke perbankan,” kata Bahlil.

Penyebab Turunnya Permintaan Kredit Investasi Menurut Laporan Bank Indonesia

Kredit KUR
Ilustrasi KUR

Penurunan pertyumbuhan penyaluran kredit investasi menurut Bank Indonesia Provinsi Aceh adalah penurunan investasi. Secara umum pertumbuhan pembiayaan/kredit di Provinsi Aceh berdasarkan lokasi proyek mengalami kontraksi sebesar 5,32% (yoy) pada triwulan IV 2020.

Penurunan tersebut lebih dalam dibandingkan dengan triwulan III yang mengalami kontraksi sebesar 0,19% (yoy). Penurunan utamanya terjadi pada penyaluran pembiayaan/kredit dengan jenis penggunaan investasi. Penurunan kredit pada triwulan IV didorong oleh menurunnya penyaluran kredit investasi oleh bank-bank umum.

Kredit investasi, dengan pangsa sebesar 14,08%, pada triwulan IV menurun sebesar 19,87% (yoy). Penyebab utama karena terjadi penurunan kinerja pada pembiayaan/kredit investasi terdampak dari penurunan penyaluran pada lapangan usaha pertanian, perdagangan dan pertambangan.

Demikian Bank Indonesia Aceh menurunkan laporannya yang dirilis pada Februari 2021. (*)